Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kedap Suara


__ADS_3

Terkadang rasa khawatir berlebihan akan sesuatu itu yang membuat hati dan pikiran tidak tenang. Seperti yang dialami oleh Aini. Aini mengira kalau pak Kepsek bakalan mengintrogasi macam-macam terkait permintaan jam kerja Aini, namun sungguh tak diduga, Allah mudahkan segalanya. Begitu pak Kepsek mendengar yang disampaikan Aini justru langsung meng iyakan, beliau mengatakan sebenarnya berat terkait permintaan Aini namun kembali lagi mengingat peran seorang ibu dirumah bercermin dari beliau sendiri yang menginginkan istrinya untuk bisa membagi waktu dan yang jelas permintaan Aini tidak merugikan sekolah, hanya ingin taat dengan suami. Beliau tidak mau menjadi penghalang ketaatan seorang istri terhadap suami. Beliau sudah cukup paham dengan Aini, sosok wanita dengan semangat dan kreativitas tinggi, menjunjung profesionalisme dalam menjalankan tugas.


Aini pulang dengan perasaan membuncah, niat resign juga sudah disampaikan, beliau hanya menjawab "Semoga Bu Aini berubah pikiran, bisa terus bergabung menjadikan anak didik Soleh Solehah dengan prestasi gemilang, akhlak cemerlang" ucap kepsek tadi.


Setelah mengucap salam, Aini segera masuk rumah dan mengganti dengan pakaian rumah.


"Waah Bu Ai pulang cepat....ada yang bahagia banget Bu" ucap Izal sambil melirik tuannya.


"Apa Zal?" ucap Al Ghazali sambil berjalan mendekat kearah istrinya, lalu menarik Aini untuk duduk disampingnya.


"Awas pak, ingat jangan racuni mata suciku dengan kemesraan Pak Al sama Bu Ai"


"Makanya cepetan nikah Zal, nggak usah pacaran terus. Palingan ujung-ujungnya jagain jodoh orang" tawa Al renyah.


"Kami sudah putus pak, sudah kapok pacaran. Mau langsung nikah seperti kisah pak Al dan Bu Aini kalau sudah ketemu calon nanti"


"Bagus, itu baru saudaraku Zal"


"Wah....yang diakui saudara hanya Izal pak, aku gimana?


"Tenang Leh, Izal saja diakui saudara apalagi kamu yang jelas-jelas sudah soleh" mengundang gelak tawa para karyawan. Suasana kerja mereka seperti itu, penuh dengan kehangatan meski awalnya mereka semua bukan siapa-siapa.


"Mas, kok sudah pulang. Tadi pagi pamit mau survei lokasi baru" Al menceritakan perihal tadi pagi kepada istrinya dan semua karyawan ikut mendengar penuturan bosnya. Daripada menjelaskan berulang mending semuanya langsung mendengar.


"Jadi kita bakalan pindah mas Al?" kali ini pertanyaan datang dari Mak Dang.


"Iya Mak, cari yang agak longgaran dikit. Rekan-rekan semua tidak keberatan kan? Tenang uang bensin diukur berdasarkan jarak, jadi nggak usah khawatir"


"MasyaAllah kalau gitu si oke oke saja pak" ucap mbak Lastri. Mbak Lastri bekerja disini bersama suaminya, pasangan muda yang satu ini belum dikaruniai momongan. Semua karyawan saling tatap dan mengangguk.


"Alhamdulillah, semua tetap kompak ya teman-teman. Jika terkadang ada hal yang tidak pas jangan jadikan jurang, tapi bicarakan baik-baik. InsyaAllah kalian mengerti ya"


"Siap pak" jawab mereka kompak. Dalam satu tempat kerja banyak kepala tentu tidak ada yang mulus, jangankan mereka yang terdiri dari banyak kepala dan berasal dari tempat tinggal berbeda, sedangkan dirinya dengan Aini yang hanya 2 kepala dan berasal dari adat kebiasaan sama juga akan ada perselisihan seperti kemarin. Sorenya Al mengajak istri dan anaknya untuk mengunjungi kontrakan baru, Al sudah transfer uang sewa kepada pak Agus. Setelah turun dari motor Alia berlarian dihalaman yang luas.

__ADS_1


"Ayah, jadi kita mau tinggal disini? samping rumah majid yah. Horee jadi adek ngajinya dekat, semoga temannya banyak dan baik-baik"


"Aamiin, iya dek kita mau tinggal disini InsyaAllah"


"Sayang jalannya pelan" Aini mengingatkan anaknya.


"Mas, MasyaAllah tidak salah memang penilaian mas Al dan mas Radit. Adem rumahnya, semoga menjadi hunian nyaman den penuh kasih sayang didalamnya nanti ya mas"


"Aamiin, masuk dulu dek. Main dihalaman ya nanti, kita lihat rumah dulu, nanti adek pilih mau kamar yang mana"


"Siap ayah.... let's go"


"Assalamualaikum, bismillah" semua berdoa dan mengucap salam.


"MasyaAllah ternyata adek masih hafal salam ketika masuk rumah didalamnya nggak ada orang" Aini mengusap kepala anaknya lalu mencium dengan gemas.


"Adek sudah besar Bun, masih ingat dong. Diajarin bunda sama ayah kan?"


"Adek pilih ini yah" menunjuk kamar dekat pintu masuk menyatu dengan ruang tengah. Ruangannya didesain dengan ruangan yang cukup luas, dapur ruang makan menyatu dan terdapat 2 toilet. Diruang tamu terdapat 1 kamar tidur lengkap dengan kamar mandi didalamnya. Diruang tengah 3 kamar tidur. Masih ada beberapa furniture hanya tinggal menambah sedikit, pak Agus sudah mempersilahkan barang yang dirumah itu untuk dipakai.


"Kamarnya banyak ya mas, jadi nanti kalau kakek nenek kesini kita nggak bingung, saat budhe sesekali nginap juga kita nggak bingung"


"Iya sayang, meski kita baru bertiga tapi kalau siang rame jadi butuh tempat luas. Kasihan anak-anak disana berdesakan. Belakang rumah rencana mau dikasih tambahan bedengan seperti belakang rumah kita saat ini nggak usah permanen karena ini bukan hak milik, sebenarnya pak Agus menawarkan untuk dibeli sayang"


"Saat ini bisa nyewa saja sudah sangat bersyukur mas, meski harus menunda beli mobilnya. Menunda hanya beberapa bulan InsyaAllah"


"Iya sayang, Alhamdulillah tak pernah putus rasa syukur kupanjatkan Ai, semoga kita semakin bermanfaat bisa membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi"


"Aamiin"


Sedari tadi Alia tidak bisa diam, lompat sana sini mengikuti arah kedua orang tuanya berjalan.


"Sayang sini ayah gendong, capek ya"

__ADS_1


"Adek nggak capek yah, malah senang"


"Baiklah anak solehahnya ayah"


"Ai, besok kalau sudah pindah kita cari asisten khusus ngurus rumah ya, biar kamu nggak kecapekan. Mas nggak bisa bantu banyak seperti dulu waktu dikampung"


"Nggak usah mas, bukannya aku mau resign. Terus aku ngapain? seharian dirumah mas, kalau nggak ada kegiatan jenuh"


"Siapa bilang nggak ada kegiatan, kamu itu khusus mengurusku. Pakaian dan lainnya terkait kebutuhanku kamulah yang mengurus. Nggak mungkin kan asisten rumah tangga yang ngurus? memangnya kamu rela"


"Mana ada yang rela suaminya diurus orang lain" Aini ketus sambil mencabik.


"Haiiii.....kenapa mulutnya gitu? biasa aja kali sayang, dan ingat kamar kita yang baru ini kedap suara loh" dengan senyum jail.


"Memang kenapa kalau kedap suara?"


"Ini yang mas suka, masih saja polos. Biar kamu tak usah ditahan saat mendesah siang-siang" bisik Al tepat ditelinga istrinya.


"Maaaasss"


"Ayah ngomongin apa si, kok bisik-bisik ke bunda. Adek pengin dengar yah"


"Nah loh mas, adek pengin dengar. Iya kan dek?" dengan nada meledek suaminya mau jawab apa sama anaknya.


"Sayang, calon kamarmu yuk"


"Ayah tadi bicara apa sama bunda?"


"Ayah lapar pengin makan, pulang aja yuk sambil cari pecel lele buat makan" mengalihkan bicara supaya tidak ada unsur bicara bohong ke anaknya.


"Ai mau mas, lapar juga. Adek juga kan?"


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2