Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
RSJ


__ADS_3

Bagaimana bisa Sari jadi penampilannya seperti itu, baru dua hari yang lalu dia mau menjemput anakku. Apa yang terjadi dengannya, aku tidak menyukainya tapi hati nurani mengatakan kasihan. Bukankah apa yang kita lakukan akan kembali ke kita, tidak usah memikirkan bagaimana dia berlaku kepada kita.


Tugas kita adalah berbuat baik, jika kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain. Kita berbuat baik pada si A, kita jangan berharap si A berbuat baik pada kita. Tapi bisa jadi orang lain yang tidak tau dengan kita berbuat baik pada kita.


Ayolah Aini jangan kamu berfikir terlalu lama, kasihan dia butuh pertolongan. Jelas ada yang tidak beres kenapa dia seperti itu, dan kamu dipertemukan dengan dia artinya kamu manusia yang dipilih oleh Allah untuk menolongnya. Jangan kamu berfikir usaha dia yang mau merebut kebahagiaan darimu. Jika kebahagiaan itu memang milikmu tak ada yang bisa merebutnya darimu, kecuali jika memang Allah sudah berkehendak menarik kebahagiaan itu darimu.


”Kalian duluan saja, aku akan memastikan sesuatu dulu," ucap Aini mantap.


"Maksudnya apa, Mba. Ini sudah adzan, ayo lekas kita masuk. Nanti ketinggalan, sholat berjamaah pahalanya lebih banyak,"


"Iya, mba paham, Lin. Bawa Alia bersamamu, aku mau memastikan sesuatu dulu," ujar Aini pandangan terus mengarah kepada wanita yang dicurigai bernama Sari. Lina mengikuti arah pandang Aini.


"Mba, aku ikut. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan jika Mba Aini sendiri. Aku tau apa yang mau mba Aini lakukan, mau memastikan itu Sari atau bukan kan?"


"Kalian diskusi apa, ayo segera masuk,"


"Mas, masuk dulu saja. Kamu lihat itu mas, yang tadi kita ketemu di Mall. Bukankah itu mirip sama Sari?"


"Yakin kamu mau menolongnya? Aku nggak ikutan, jika aku ikutan nanti kamu salah paham lagi,"


"Mas, aku memang kesal sama dia, tapi hati nurani ini mengatakan aku harus menolong. Dia saat ini disini sebatang kara, paman Sarno masih menunggu putusan. Aku menempatkan seandainya aku berada diposisi Sari, sangat sedih bukan. Dua hari yang lalu dia masih berusaha menjemput anak kita, aku khawatir ada terjadi sesuatu pada dia sehingga menyebabkan dia depresi dalam waktu sebentar, bajunya ada sedikit koyak bukan?"


"Bahaya, Ai. Kita sholat dulu saja. Nanti kita tolong sama-sama. Aku nggak mau kalian kenapa-kenapa, orang depresi bisa saja berbuat yang membahayakan kan?"


"Iya, Mba. Nanti aku juga akan membantu," ucap Izal membenarkan Al.


"Tapi kalau dia sudah pergi bagaimana?"


"Ai, ayolah. Sholat dulu, dia tidak akan jauh InsyaAllah,"


"Baiklah," ucap Aini mengalah. Alia hanya terbengong melihat dan mengamati orang dewasa berbicara.


"Dek, ayo wudhu dulu,"

__ADS_1


"Iya, Tante cantik,"


"Ais ... tau aja kalau aku cantik,"


"Hem ... mulai deh sombongnya,"


"Mba, aku gini ketularan siapa? Ketularan Mba Aini sama Mas Al,"


"Enak saja, kamu ketularan Izal,"


"Kenapa membawa namaku segala, Mas. Aku itu baik dan tidak sombong, bukan bar-bar kaya kalian," Izal bergegas ke tempat wudhu tanpa menghiraukan mereka. Kalau salah satu tidak mengalah tidak selesai-selesai.


Selesai sholat dugaan Al benar, wanita itu masih sekitar masjid. Dia terlihat senyum-senyum sendiri. Mereka mendekati wanita itu, dengan Alia dalam gendongan Izal.


"Sari, apa kabarnya?" tanya Lina setengah takut. Yang di duga Sari hanya senyum-senyum tidak jelas. Penampilan sangat berantakan, Sari terbiasa tampil pakai makeup tebal sementara ini pucat pasi jadi tidak bisa memastikan kalau ini Sari atau bukan.


"Mas, kondisinya masih cukup memprihatinkan. Kita panggil petugas kesehatan RSJ saja ya?" ucap Aini.


"Iya, ada Mas. Tak hubungi dulu. Dek, kamu ikut ayah dulu ya?" ucap Alia. Dan menyerahkan pada Ayahnya. Alia langsung nempel pada ayahnya dia terlihat takut.


Tidak menunggu lama sekitar 30 menit petugas kesehatan sampai Masjid. Mereka lekas membawa wanita itu untuk di lakukan pengobatan. Aini beserta keluarga mengikuti dari belakang, untuk mengetahui kebenarannya.


Sesampainya di Rumah Sakit wanita itu ditangani oleh dokter, dia histeris namun semua petugas sudah terbiasa menangani. Mereka menunggu dengan sabar prosesnya, rencana nanti jika itu memang Sari mereka akan memberi kabar Paman Sarno dan Zaki. Sambil menunggu mereka berbincang banyak hal, dan ponsel milik Aini berdering. Panggilan video diterima oleh Aini.


"Assalamualaikum, Sayang,"


"Wa'alaikumussallam, Mak. Apa kabarnya, kami semua kangen," ucap Aini merengek seperti pada ibunya sendiri.


"Kamu, kebiasaan. Kalian dimana, pemandangan seperti di rumah sakit. Siapa yang sakit, kenapa tidak mengabari?" ucap Emak penasaran.


"Tenang, Mak. Kami baik-baik saja, satu persatu nanyanya. Yang jelas kami semua sehat, lihatlah kami ngumpul disini dan kondisi sehat semua. Dek, sini. Nenek penasaran sama cucunya,"


"Aini kecilkan suaranya!"

__ADS_1


"Ups, ... maaf. Kelepasan, saking gembiranya dapat telpon dari Emak. Emak dan semuanya apa kabarnya?"


"Kami semua sehat, hanya saja disini ada kabar kalau Sari terpisah dari Zaki. Apakah kalian mendengar kabarnya?"


"Em ... bicara sama Mas Al saja ya, Mak. Aku nggak paham tentang itu. Mana Bapak?"


"Bapak lagi di kebun, Ai. Masih sibuk panen jengkol,"


"Semoga penennya banyak dan berkah, ini ngomong sama Mas Al ya, Mak," tawar Aini.


"Hallo ... Mak. Apa kabarnya? Kami semua kangen,"


"Sudah pada dewasa juga, Emak pengin kesitu lagi. Tapi kalian tau sendiri bagaimana dengan bapak, selalu gelisah dengan nasib ternaknya, padahal ada yang mengurus," ucap Emak sambil terkekeh.


"Nenek kesini sendirian, Kakek biar sama sapi dan kambingnya," ucap Alia polos.


"Haha ... kasihan, Dek. Kalau kakek sendirian," Emak sengaja berbincang sebentar dengan cucunya. Untuk melepas kangen, biar emak tahan rasa penasarannya mengapa mereka berkumpul di Rumah Sakit. Celotehan bocah yang saat ini sekolah di TK As-Syifa kelas TKB bercerita banyak hal, keseruan bermain bersama Om kesayangannya. Neneknya juga sangat senang mendengar celotehan cucunya, hal itu menandakan kalau mereka memang benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah puas berbicara dengan cucunya kini beralih kepada anaknya Al. Tanpa di tutup-tutupi Al menceritakan semua yang sudah dilakukan Zaki, Paman Sarno dan Sari.


"Al, jadi Sari sekarang di RSJ situ? Kalian sedang menunggu?"


"Belum tau pasti, Mak. Mengingat penampilan hanya mirip sekilas. Keadaan sangat berbeda dengan keseharian Sari saat aku lihat di kampung, kami akan memastikan terlebih dahulu. Emak jangan cerita kepada siapapun," takut Emak keceplosan kepada yang beliau temui. Emak-emak ketika mengetahui suatu kabar akan dengan mudah menceritakan.


"Memangnya makmu ini tukang gosip? Enak saja kalau ngomong,"


Dari ujung lorong suster mendatangi mereka, "Wali dari pasien baju merah tadi, silahkan mengecek keadaan pasien. Pasien sudah kami tangani, saat ini sedang dalam pengaruh obat tidur,"


"Terimakasih, Sus. Boleh kami masuk bersama?" tanya Aini.


"Yang penting jaga agar tetap tenang,"


Al sudah menutup sambungan telepon dengan ibunya, mereka membuntuti suster tadi. Semakin dekat dengan pintu masuk ruangan, Aini jantungnya berdetak kencang.

__ADS_1


__ADS_2