Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Ketakutan Nenek Izal


__ADS_3

Setelah pekerjaan selesai sebelum pulang Izal kerumah menemui Lina terlebih dahulu.


"Adiknya Abang sudah wangi ya, mandi sendiri apa di mandikan ini?" goda Izal. Kedekatan antara Izal dan Alia bagai kakak dan adik kecilnya, apalagi di tambah Al dan Aini yang seperti orang tua Izal meski jarak umur mereka tidak pantas dikatakan orang tua dan anak.


"Mandi sendiri dong. Sebentar lagi masuk TK besar, kata Bu Guru sudah harus mandiri," celoteh Alia lucu yang lagi berusaha menyisir rambutnya sendiri."Susah ini, Tan," ucapnya lagi.


"Sini, biar Tante bantu. Caranya itu perlahan, Dek. Nggak pakai emosi, jadi mudah melakukannya,"


"Tantenya Alia, bagiamana bukan level 10 enak juga kan?"


"Kurang lah, Bang. Tapi nggak apa lah, daripada nggak sama sekali. Awas jangan modus ya, perhatian ujung-ujungnya ada maunya!" ucap Lina sewot.


"Lin, tidak semua laki-laki itu modus. Ada sebagian yang memang serius dengan ucapannya," ucap Izal


"Bagiku sama saja, belum dapat seakan mengemis. Setelah dapat dengan mudahnya berpaling,"


"Ya sudah, kalau kamu berpendapat seperti itu tidak masalah. Coba kamu lihat sepupu kamu, Ayahnya Alia. Apakah seperti mereka? Yang mirip mantanmu hanya segelintir" ucap Izal menekan kata segelintir.


"Bang, bukannya mau pulang, kenapa masih disini?"


"Lin, kok ngusir. Abang tidak akan banyak omong, tinggal membuktikan dalam kehidupan kedepannya, kita berjuang bersama demi masa depan kita, aku akan buktikan kalau Abang tidak obral janji," ucap Izal.


"Bang, jangan coba-coba!"


"Tidak coba-coba, Lin. Pernikahan bukan sebuah percobaan aku serius dengan kata-kata ku, ya udah Abang pulang dulu. Nggak usah dipikir yang sudah berlalu, yang perlu kamu pikir adalah masa depan bersamaku," ucap Izal dengan tegas.


"Dek, Abang pulang ya," ucap Izal pamit dengan adik kecilnya Alia.

__ADS_1


"Hati-hati, Bang," ucap Alia masih fokus dengan mainannya.


Izal meninggalkan rumah Bos dengan hati berbunga-bunga. Pasalnya dia sudah mengungkapkan maksud hatinya kepada sepupu bosnya. Kini perhatiannya beralih kepada ucapan bapaknya di telpon. Dia memarkirkan motornya di garasi besarnya bersama mobil kesayangannya yang sudah hampir satu tahun ini jarang dikendarai. Nggak mungkin dia bekerja pakai mobil, bosnya saja baru beli mobil kemarin. Al sudah membeli mobil baru-baru ini semenjak orang tuanya disini. Yang awalnya berniat beli mobil bak terbuka akhirnya beli keduanya. Mobil pribadi sekaligus mobil bak terbuka.


Setelah mengucapkan salam Izal bergegas menemui ibunya.


"Assalamualaikum, Ibuku tersayang," ucap Izal dengan riang.


"Wa'alaikumussallam ceria amat, Zal. Kayaknya ada berita bagus yang mau disampaikan sama anak ibu yang satu ini," Bu Dewi meledek anaknya. Tadi suaminya sempat cerita kalau Izal mau ngomong serius sama Bapaknya. Izal sudah kembali menjadi anak periang seperti dulu, sewaktu belum mendapat penghianatan dari calon istrinya.


"Ada salam dari Pak Al untuk Bapak sama Ibu,"


"wa'alaika sallam," jawab ibu.


"Izal mandi dulu ya, sebelum ketemu bapak," Ibunya mengangguk.


"Bicara sama bapak nanti saja, selepas Isya. Biar lebih santai, ingat nggak usah tergesa-gesa. Sesuatu yang tergesa-gesa datangnya dari syaiton,"


Selepas isya kami bertiga kumpul diruang keluarga, suasana yang sangat aku rindukan. Sudah lama sekali tidak menikmati kebersamaan seperti ini. Bukan karena mereka berubah tapi akulah yang berubah menutup diri, asyik dengan menyendiri. Ternyata aku sangat bodoh, hanya karena seorang wanita kenapa rela merasakan sakit. Tak pantas dia mendapat perhatianku yang berlebihan. Penyesalan memang datangnya dibelakang.


"Apa kabarnya, Nak?"


"Alhamdulillah kabar baik, Pak. Bapak bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat. Bapak senang melihat perubahan besar mu, ini baru anak ayah."


"Bapak, mau bicara apa tentang Nenek? Nenek sehat kan Yah?"

__ADS_1


"Nenek selalu menanyakan kapan kamu nikah, Zal. Nenek sangat khawatir kamu trauma menjalani hubungan sama wanita. Maafkan Bapak yang sudah mengenalkan kalian, Bapak pikir anak teman bapak itu wanita baik-baik. Ternyata .....?"


"Sudahlah, Pak. Izal sudah nggak apa, awal memang pernah menyalahkan bapak sama Ibu yang sudah memaksa kehendak agar Izal mengenal dia, bertunangan dengan dia. Setelah Izal jatuh cinta justru dia selingkuh, tapi aku yakin banyak hikmah yang bisa aku petik dari peristiwa itu," ucapku dengan penuh keyakinan.


"Alhamdulillah, bener Bu. Sifat anak kita sudah kembali, MasyaAllah Alhamdulillah. Bapak bangga sama kamu, Nak." ucap Bapak dengan mata memerah. Aku tahu bapak paling terluka dengan keterpurukan ku.


"Betul, Pak. Ibu pengin kerumah bos kamu untuk berterima kasih,"


"Serius, Bu. Dulu ibu yang paling menentang keputusanku,"


"Maaf, Zal. Ibu pengin yang terbaik buat kamu. Ibu pikir apa bagusnya kamu bekerja disana, sementara perkebunan bapak jauh lebih besar. Kamu tidak perlu bekerja hanya perlu mengelola perkebunan Bapak sudah cukup. Ternyata pikiran ibu keliru, kamu justru lebih berkembang setelah bekerja disana,"


"Itu salah satu hikmah yang ku petik, Bu. Aku banyak belajar dari Pak Al. Bahkan sistem pengelolaan yang Izal saat ini tangani dalam mengelola perkebunan Bapak itu ide dari Pak Al. Pak Al bukan sarjana pertanian, tapi ilmunya tak kalah dengan para sarjana. Dulunya Pak Al mengelola pertanian di desanya," ucap Izal bangga.


"Zal, kembali ke poin Nenekmu. Beliau ingin kamu segera menikah. Jika dalam bulan ini tidak menemukan calon istri maka nenekmu ke sini bawa calon istri buat kamu," ucap Bapak tertawa.


"Kenapa tertawa, Pak?"


"Ibumu sudah cerita Zal. Kamu pulang tadi dalam kondisi senyum-senyum sendiri tak jelas. Sebahagia apa sih, sampai segitunya?" sengaja memancingku.


"Hehe ... Izal lagi dekat dengan wanita. Tapi aku sendiri tidak mau pacaran, mau langsung nikah rencana, Pak. Aku mau sholat terlebih dahulu sebelum melamarnya, meminta petunjuk. Tidak mau mengambil keputusan gegabah seperti dulu,"


"Siapa gadis itu? apa dia bersedia nantinya?"


"Sepupu Pak Al, yang baru datang sebulan yang lalu. Aku belum yakin, karena sangat susah diajak ngomong. Dia mengalami hal yang sama seperti Izal Pak. Calon suaminya menikahi gadis lain karena hamil duluan. Dia Bidan, namun meninggalkan karier dan memilih tinggal disini. Aku berharap Bapak dan Ibu merestui niat Izal,"


"Jika menurutmu baik, maka kami menyerahkan sepenuhnya kepada kamu. Dan apakah dia sudah tau latar belakangmu, siapa kamu?"

__ADS_1


"Belum, sengaja aku belum cerita. Aku ingin istriku kelak adalah wanita yang tulus. Tak memandang harta dalam mengambil keputusan menerimaku. Dan Pak Al juga tidak akan ceria, beliau ingin aku sendiri yang bercerita nantinya, restu dari Pak Al sudah aku kantongi. Tinggal meyakinkan dia saja, yang masih berfikir laki-laki semua sama, seperti mantan calon suaminya," ucapku.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2