Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Melihat perhatian yang budhe Surti berikan Aini merasa sangat terharu, saat ini memang Aini butuh teman berbagi namun ditahannya karena menganggap ini urusan rumah tangganya. Sempat kemarin cerita dengan Sintia namun bukannya dukungan yang dia dapatkan tapi justru seolah Aini terpojok. Bulir bening dimatanya sudah berusaha dia bendung sejak tadi, namun akhirnya tak kuasa dia membendungnya. Ah hati wanita memang terlalu sensitif pikir Aini.


"Maaf budhe, kedatangan budhe malah melihat suasana hatiku lagi kurang baik"


"Setiap rumah tangga pasti pernah mengalami yang namanya berselisih, budhepun begitu. Kalau memang kamu ingin menangis sekedar menenangkan pikiran nggak usah ditahan, budhe ngerti kok. Kita sama-sama wanita" budhe tersenyum tulus sambil mengelus pundak Aini. Budhe Surti paham, jika seperti itu wanita hanya butuh dukungan, butuh didengarkan.


"Kalau sudah lega, segera basuh dengan cara berwudhu insyaallah hati akan lebih tenang" diangguki Aini yang masih menyeka air matanya tanpa keluar suara. Mengingat dibelakang masih sangat ramai orang-orang. Jika mereka tahu Aini menangis ntah apa jadinya meraka, heboh dengan persepsi masing-masing.


"Ai, ada kalanya kita itu memang harus mengalah dengan keputusan suami. Laki-laki itu gengsinya gede, minta maaflah dulu jangan menunggu suamimu minta maaf, takutnya sampai lebaran baru minta maaf kalau nunggu suami" sambil tertawa mencairkan suasana.


"Iya budhe, sudah gengsi ditambah nggak peka"


"Nah itu kamu sudah tahu, jadi kita harus memahami itu. Nggak ada salahnya jika kita yang memulai obrolan jika kalian masih perang dingin"


"Ai nggak nyangka kalau budhe bakalan tahu kamu sedang perang dingin, padahal Ai sudah berusaha sebaik-baiknya agar terlihat seperti biasa"

__ADS_1


"Ai, mungkin orang lain bisa kamu bohongi tapi tidak dengan budhe. Budhe itu hidup dirantau hanya dengan suami sudah berpuluh-puluh tahun. Tentu budhe paham raut pakdhemu sama seperti raut Al tadi. Apalagi Al itu ponakan kandung budhe, jelas lebih paham. Tidak apa, justru harapan budhe setelah budhe dan pakdhe tahu kalian segera menyelesaikan dan tidak mengulang kejadian yang sama nantinya. Jadikan setiap kejadian menjadi sebuah pelajaran apapun itu, baik menyenangkan maupun mengecewakan" Aini sangat bersyukur dipertemukan dengan budhenya, banyak nasihat yang Aini terima. Aini masih sangat butuh belajar dengan realita kehidupan nyata. Sering kali realita tidak sesuai dengan teori yang Aini pelajari di buku dan diberbagai seminar. Tapi bukan berarti buku dan seminar tidak penting, buku dan seminar sangat penting namun terasa lengkap jika ditambah pelajaran dari pengalaman orang sekitanya. Aini sudah sangat plong, dia bertekad akan segera membicarakan dengan suaminya nantinya.


"Budhe dan pakdhe, harusnya nginap disini" ucap Al diangguki Alia.


"Iya kakek, nenek nginap ya sama adek. Adek mau tidur sama nenek" Alia merengek.


"Sayang, kali ini budhe pulang dulu. InsyaAllah kapan-kapan nenek sama kakek main lagi kerumah Alia yang lebih besar. InsyaAllah nenek menginap" budhe ngomong seperti ini untuk memotivasi Al supaya lebih giat berusaha, bukan sebuah hinaan. Alia masih nampak sedih ketika kakek dan neneknya meninggalkan rumah mereka. Budhe Surti sebenernya tidak tega meninggalkan Alia yang merengek terus terusan tapi budhe memberi kesempatan untuk Aini dan Al menyelesaikan permasalahannya. Mereka paham kalau keponakannya butuh waktu berdua. Rumah kecil tidak ada alasan bagi Surti, dulu sewaktu pertama kali datang dipulau ini mengikuti program transmigrasi kondisi rumahnya sangat memprihatikan, kondisi rumah yang ditempati Al terbilang sangat layak. Pertama datang 30 tahun yang lalu lingkungan masih hutan belantara, rumahnya berupa panggok untuk menghindari hewan buas. Sekarang kehidupan Surti dan keluarga sudah sangat berbeda, ketiga anaknya semua sampai perguruan tinggi. Kedua anaknya semua punya bisnis, yang satu tinggal bersama orang tuanya punya perkebunannya yang luas.


Al dan Aini membujuk anaknya dengan mengajak jalan-jalan ke taman kota, tak butuh waktu lama Alia kembali ceria setelah bertemu teman-temannya. Aini membayangkan jika hati orang tua seperti anaknya, yang dengan sangat mudah memaafkan, melupakan kesalahan orang lain. Dua orang sepasang suami istri namun duduk bagai patung, keduanya sama-sama mengamati kegiatan anaknya namun tanpa bersuara seperti biasanya. "Kok jadi canggung begini si" Aini berucap dalam hati.


Sementara pikiran Al juga sama berkecamuk dalam hati, menuntutnya Aini yang seharusnya memulai obrolan dulu, meminta maaf kepada Al karena Aini yang melawan. Memang pada dasarnya manusia itu egois, jika semua seperti ini dunia cepet bubar jalan. Mengalah bukan berarti kalah, apa aku harus mulai duluan dengan meminta maaf ya. Tapi harusnya Aini yang minta maaf duluan.


"Ai, ajak adek pulang" kata yang sangat singkat keluar dari mulut Al.


"Ya" hanya itu yang mampu Aini ucapakan setidaknya ada sedikit obrolan. Keduanya sama-sama menarik nafas panjang. Aini berjalan kearah anaknya untuk mengajak pulang, Al mengikuti langkah istrinya. Al melihat Aini yang berusaha bernegosiasi sama Alia karena belum ingin pulang. Kebiasaan Alia jika sudah ketemu teman di taman maka akan sulit diajak pulang.

__ADS_1


Al mendapati handphone berdering, ternyata Budha dan pakdhenya mereka mengabarkan sudah hampir sampai. Al sebetulnya ingin sekali kesana, namun belum diijinkan sama pakdhe, ternyata pakdhenya tahu kalau dia sama istrinya lagi saling mendiamkan. Pakdhe meminta Al untuk segera menyelesaikan, tidak baik menunda-nunda kebaikan. Memang bener jika tidak segera diselesaikan, maka bisa membesar ketika sudah besar maka akan sulit dikendalikan, cukup tabungan saja yang makin membesar, tapi tidak dengan masalahku. Maka kuberanikan diri meminta maaf duluan.


Setelah melewati perdebatan alot antara Aini dan Alia akhirnya mereka sudah berada didepan rumah setelah masuk rumah, baik Al maupun Aini pandangan mereka saling bertemu, kemudian berusaha melihat kesembarang.


"Ayah ayo kita siap-siap ke mushola, adek ikut ya ayah?" tanya Alia lembut dan imut.


Kecanggungan mereka dicairkan oleh tingkah anaknya, mereka tersenyum bersama. Meski belum seceria kemarin-kemarin namun sudah menunjukan hal luar biasa.


"Aku ke Musholah ya" ah hampa sekali pamitnya. Aini hanya mengangguk tanpa bersuara. Al menggandeng tangan mungil milik anaknya. Selain mengaji dengan bundanya, Alia juga belajar di masjid.


"Ayah, bunda kenapa ya....dari tadi siang diam terus yah"


"Masa sih dek, bunda ceria kok"


Nah loh kan, anak-anak meski kelihatan cuek namun sangat peka. Pertanyaan anaknya semakin mendorong Al untuk segera berdamai.

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2