Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Perubahan Izal


__ADS_3

Baik Al maupun Aini menyadari gelagat Izal yang menunjukkan keseriusan dengan Lina, namun selama Izal tidak mengutarakan niatnya kembali Al Ghazali tidak akan mengungkit.


Lastri dan Aini kemarin sore berkunjung kerumah Indri, untuk membangkitkan semangat Indri yang sempat kendur karena malu terhadap keluarga Aini.


Hari ini Indri sudah mulai bekerja, Indri terlihat sangat bahagia mengingat bekerja satu bos dengan suaminya. Firman sudah sangat jauh perubahannya membuat proses penyembuhan mental Indri jauh lebih cepat, efek positif dari kasih sayang seorang suami kepada istrinya.


Berbeda dengan Indri, kondisi Izal justru terlihat menjadi pendiam, Izal tak banyak bicara. Dia fokus dengan pekerjaannya tanpa menyahut teman-teman yang rame bercanda ria, sampai tiba waktunya delivery dan sampai sore pulang kembali Izal masih tidak banyak bicara.


Al tak menegur, sangat paham dengan fitrah laki-laki, jika cendrung menutup diri yang biasanya rame itu artinya lagi mencoba memecahkan masalah sendiri. Dianggap persoalan akan bisa terpecahkan sama dirinya sendiri.


Satu minggu sudah berlalu semenjak Izal berubah menjadi pendiam. Teman-temannya menyadari tapi tak ada satupun yang berani becanda dengan kondisi Izal kecuali satu orang yaitu adik kecilnya. Alia berlari mencari keberadaan Izal.


"Om, Om Soleh!" panggil Alia. Soleh seumuran dengan Izal namun bagi Alia panggilan Abang hanya buat Izal kakak laki-lakinya. Sering bercerita disekolah bersama temannya juga dengan bangga mengenalkan Izal sebagai kakaknya.


"Iya, Dek. Ada apa?" jawab Soleh sekaligus bertanya.


"Om Soleh, lihat Bang Izal?" ucap Alia dengan mata yang sangat lucu.


"Tuh, Abang mu baru masuk. Habis menemui Ayah kamu tadi," jawab Soleh. Alia berlari ke arah Izal.


"Bang, Alia kangen. Abang lama nggak pernah ngomong sama aku," celoteh dia sambil menggandeng tangan Izal dengan sangat manja.


"Adik Abang kenapa? Memang sedih kalau Abang nggak ngomong sama kamu?" ucap Izal sambil jongkok mensejajarkan dengan Alia yg masih TK.


"Kenapa si Abang jadi murung, nggak asyik kan? Nggak seru, Abang nggak mau main lagi sama Adek," ucap Alia merajuk.


"Hem ... gemes deh. Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kita kedepan beli es krim kesukaan kamu?"


"Nggak mau lah, itu namanya tindakan suap kata yang di Upin Ipin kan?"


"Beda lah, Sayang," ucap Izal sambil menggendong anak bosnya.


"Nggak mau, pokoknya nggak mau. Adek marah nih!" ucap Alia sambil melipat tangan di dadanya sangat lucu. Izal terbahak-bahak melihat tingkahnya.


Terdengar bisik-bisik teman Izal.

__ADS_1


"Sudah sembuh itu," bisik Trio kepada Soleh.


"Tau gitu, sudah sejak kemarin-kemarin kita datangkan anak bos. Suasana jadi kurang seru, mengerikan melihat Izal murung," ucap Soleh lirih.


"Kenapa, kalian membicarakan aku ya?" ucap Izal.


"Nggak, Zal. Mana berani kita, iya kan Leh?"


Izal dan Mak Dang adalah bos kedua setelah Aini dan Al Ghazali.


Mak Ipeh tergopoh-gopoh ke ruang kerja karyawan mencari Al ataupun Aini.


"Mak, ada apa?" tanya Izal masih menggendong Alia.


"Itu, ada tamu, mau ketemu Pak Bos,"


"Bukannya Pak Al didepan, Mak? Barusan belum lama habis sama aku, kalau nggak Lina juga diluar biar suruh telpon Pak Al, posisi dimana?" ucap Izal.


"Lina sudah tiga hari ini di rumah Pak Darto, Zal," ucap Mak Ipeh. Lina nggak dirumah ini sampai-sampai aku tidak menyadari. Seminggu ini Izal melakukan sholat setiap malam untuk meminta petunjuk dengan perasaan dia terhadap Lina. Setelah satu Minggu sholat menujukan semakin mantapnya memperistri Lina. Tapi justru semakin yakin malah dia semakin takut akan penolakan. Izal bingung meluluhkan hati Lita, saking fokusnya justru dia melewatkan kabar kalau Lina sudah tiga hari tidak dirumah ini.


"Memang Bang Izal baru tau?" ucap Alia.


"Abang nggak tanya sama Adek," jawab Alia polos.


"Ya sudah, Mak. Biar aku kedepan dulu, sembari menghubungi Pak Al," ucap Izal sambil berjalan ke ruang tamu, Alia masih tidak mau turun dari gendongan Kakaknya. Al tidak menyadari tamu yang dimaksud Mak Ipeh.


"Loh ..., Pak, Bu! tau darimana alamat ini?" ucap Izal bingung.


"Kaya kamu nggak tau saja siapa itu Bapakmu, bukannya seperti detektif," jawab ibu sambil tertawa.


Izal duduk dihadapan orang tuanya, kini Alia duduk disamping Izal sambil terus menggandeng tangan Izal. Dia ngambek belum mau lepas karena sudah lama tidak bermain.


"Sayang, namanya siapa?" ucap Ibu lembut.


"Alia," menjawab sambil mendongak kearah Izal. Izal mengerti yang dimaksud adik kecilnya.

__ADS_1


"Kamu panggil Nenek, Dek," ucap Izal dan Alia mengangguk.


"Alia, Nek," Alia mengulangi jawaban mendekat ke Bapak ibu Izal untuk bersalaman.


"MasyaAllah, pintarnya. Zal, nggak nyangka kamu disukai anak kecil dan sudah pantas jadi Bapak," seloroh Bapak Izal.


"Hanya si kecil ini saja, Pak. Yang lain Izal ogah. Nih yang cerewetnya melebihi burung beo," Izal mencubit pipi Alia. Yang sudah kembali duduk.


"Abang, sakit!"


"Kok, panggilnya Abang. Om dong,"


"Kakek, Bang Izal ini Kakak kesayangan aku," ucap Alia lucu sontak membuat tiga orang dewasa itu terbahak-bahak.


"Wah, ada yang seru ini. Kapan datang Pak Danu dan Ibu Yuli, mohon maaf tadi ada keperluan ngantar istri beli jajan buat anak-anak. Maaf jadi menunggu lama, ditelpon Izal pas dijalan tadi,"


"Nggak apa, Mas Al. Baru sebentar, iya kan Alia?" yang ditanya hanya tertawa.


"Dek, Mak Ipeh kemana, tolong cari gih!" ucap Aini belum sempat mencari Mak Ipeh sudah muncul dengan membawa minum beserta cemilan.


"Maaf ini lama bikin minumnya, Pak, Bu," ucap Mak Ipeh nggak enak dengan tamunya.


Pak Danu dan Bu Yuli sangat takjub dengan pemandangan didepannya semuanya sangat berlaku sopan.


"Pantas saja ya, Pak. Izal betah disini, rupanya disini seperti dirumah sendiri dia," ucap Bu Yuli.


"Iya, Bu. Justru lebih ekspresif dibanding jika dirumah," sahut Pak Danu.


"Kami memang semuanya nggak ada yang membedakan, di belakang mereka juga sama kami anggap semua keluarga, dan jika kaitannya dengan kerjaan bukan atasan dan bawahan tapi rekan kerja,"


"Zal, seperti itulah harusnya sifat pemimpin! Ibu sangat bersyukur kamu berada dilingkungan yang sangat baik,"


"Kami yang bersyukur, Bu Yuli. Dapat rekan kerja seperti Izal. Ditambah lagi dia mau dengan tugas tambahan, lihat saja nempel terus kan?" ucap Al tertawa.


"Itu yang membuat kami heran, Mas Al, Mbak Aini. Izal paling anti dengan anak kecil sebenarnya, kok bisa seperti perangko." Setelah berbasa-basi sebentar akhirnya bapak Izal menyampaikan perihal kedatangannya.

__ADS_1


"Mas Al, Mbak Aini. Kami punya maksud dan tujuan datang kemari. Yang pertama tentunya bersilaturahmi," ucap Pak Danu sambil melirik ke arah istrinya kemudian ke Izal sebelum melanjutkan kalimatnya.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2