Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

"Apa resign? nggak salah kamu Ai" teriak Sintia diujung telpon.


"Nggak usah pakai teriak, aku masih normal Sin"


Aini menceritakan kepada sahabatnya terkait permintaan suaminya. Aini masih enggan menanggapi permintaan itu. Aini masih terus mengulur waktu mengingat prinsipnya yang tidak boleh bergantung terlalu berlebih sama suaminya. Membayangkan seharian dirumah dan kehilangan momentum keceriaan bersama anak didiknya dia masih enggan, Aini mengakui kalau dirinya itu terlalu egois.


"Iya Sin, tapi aku rasanya sangat berat meninggalkan dunia pendidikan yang serasa sudah mendarah daging. Dengan waktu singkat aku harus meninggalkan profesi ini, sedih aku tuh Sin"


"Tak mungkin mas Al memintamu resign tanpa sebab Ai, aku sangat yakin itu"


"Memang salahku, saat ini aku terlalu larut sampai-sampai waktu kebersamaan bersama keluarga aku alihkan untuk memberi jam tambahan anak-anak disekolah. Awalnya dulu supaya gaji yang diterima semakin besar mengingat dulu sumber kami hanya dari situ, namun saat ini kondisi berbeda. Mas penghasilan sudah mengalir tanpa aku kerjapun sudah mampu mencukupi kebutuhan kami"


"Kamu sudah nyadar apa yang menyebabkan mas Al mendesak kamu untuk resign, jika sudah sadar maka perbaiki. Luangkan lebih banyak waktumu untuk keluarga, insyaallah mas Al bakalan ngerti"


"Aku tahu Sin, tapi....."


"Halah Ai, kamu kebanyakan mikir" ucap Sintia kesal.


"Eh kok mati, Sin sinyalmu ya Sin" panggilan berakhir begitu saja.


Apa mungkin Sintia kesal ya dengan pemikiranku, palingan sinyal lagi trouble.


Aini bertekad akan memberanikan diri membicarakan keinginan suaminya, kalau dirinya belum siap untuk resign. Aini berharap suaminya mengerti posisi dirinya.

__ADS_1


"Tapi aku belum siap mas" ucap Aini memelas.


"Cobalah berfikir Ai, mas kurang apa sekarang. Mas mampu menafkahimu, ijinkan mas punya peran penting dalam hidupmu" ucap Al serius.


"Mas peranmu sangat penting dalam hidupku, percayalah. Jika peran mas nggak penting tentu aku sudah meninggalkan mas disaat mas tidak berdaya"


"Kamu hanya alasan Ai, dulu kamu hanya kasihan dengan hidup mas, nyatanya kamu bisa berdiri sendiri tanpa mas, apalagi karirmu saat ini semakin bagus" sergah Al.


"Mas, kenapa si tiba-tiba mas berfikir seperti ini. Seperti bukan mas Al yang ku kenal" Aini bingung dengan sikap Al.


"Itu karena kamu nggak menghargai mas, kamu mengabaikan keinginan mas" nadanya meninggi.


"Seumur-umur nikah sama mas baru kali ini mas bersikap seperti ini, kemana mas yang kukenal. Aku hanya belum siap mas jika harus kehilangan dunia anak-anak" Aini semakin lesu.


"Astaghfirullah, istighfar mas. Ambil air wudhu, tenang kan pikiran mas. Jangan biarkan celah syaiton menghasut pemikiran kita"


"Aku sangat sadar Ai, kalau istriku mengabaikan permintaanku" ucap Al masih tampak kesal.


"Tolong kasih waktu buat Aku berfikir mas, permintaan mas begitu mendadak. Maaf jika akhir-akhir ini aku jarang dirumah. Aku dirumahpun mas sibuk dengan kerjaan kan"


"Kok jadi memutarbalikkan fakta kamu"


"Sudahlah mas, baiknya kita ambil air wudhu. Kita tidur segera" Aini masih berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.

__ADS_1


"Kamu ternyata semakin berani sekarang ya Ai" Al meninggalkan kamar mereka.


Aini berkali-kali istighfar, memohon ampun sama Allah meminta diberi kesabaran. Aini mencoba memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Dilihatnya jam didinding menunjukan pukul 22.00 namun Al belum masuk kamar lagi. Aini mikir bahwa suaminya butuh menyendiri.


Al Ghazali merenung diruang tamu sendirian, dia meratapi kenapa sikap istrinya begitu keras kepala. Semakin hari Al semakin kehilangan perhatian istrinya, kebersamaan dengan istrinya hanya beberapa jam itupun dalam kondisi sudah capek. Al menginginkan istri yang perhatian seperti dulu, termasuk Alia anaknya kini ikut kena imbasnya. Bekal makan ketinggalan, jadwal pelajaran ketukar itu tidak hanya kali ini. Aini semakin abai dengan tugas dan tanggungjawab dirumah, bukankah wajar jika dia sebagai suami meminta Aini untuk berhenti bekerja, tapi kenapa istrinya berat sekali, sementara Al saat ini sudah mampu menafkahi dengan layak kepada istri dan anaknya. Ini pertama kalinya Al kasar dengan Aini, dia sendiri heran kenapa harga dirinya begitu tinggi dihadapan istrinya. Harusnya Al mengalah seperti biasanya, aslinya dia sangat menyesal telah kasar dengan istrinya. Al merebahkan dirinya diatas tikar ruang tamu, dia saat ini menginginkan sendiri dulu. Al melihat lampu kamar masih terang benderang, menandakan penghuninya belum tidur. Pikiran Al masih menerawang, tersenyum hambar mengingat rumah ini dihuni 3 orang yang masing-masing terpisah ditempat yang berbeda. Dilihat jam yang ada di handphone jam menujukan pukul 22.00, pantasan sepi pikir Al. Mereka hidup dalam lingkungan yang sangat kondusif, jam 22.00 sudah sangat sepi, sudah berada di peraduan masing-masing. Maaf satu kata yang terus terlintas dipikiran Al Ghazali.


Al terbangun saat adzan subuh berkumandang, sepi tak ada canda tawa yang mengiringi. Suasana sangat canggung, Aini sudah rapi dengan mukenanya untuk sholat subuh dirumahnya. Al juga sudah rapi dengan baju kokonya hendak ke Masjid. Al tidak berpamitan jauh dari kebiasaan sebelumnya, Aini sangat sadar sikap suaminya masih marah. Aini membiarkan begitu saja mungkin suaminya masih butuh sendiri, setelah sholat Aini berkutat didapur untuk menyiapkan sarapan. Untuk makan siang sudah ada bagian yang masak sejak karyawan banyak.


"Ayah, adek sudah cek semua perlengkapan sekolah lengkap, PR sudah siap, bekal sudah dimasukan" celoteh Alia dengan semangat.


"Sip, anak ayah hebat" Al mengacungkan jempol kepada Alia. Melihat pemandangan seperti itu Aini hatinya seperti dicubit, dia mengingat bagaimana kemarin dia dapat laporan dari anaknya kalau dia kelaparan bekal ketinggalan. Itu karena Aini sibuk dengan persiapan dirinya sendiri, lupa dengan kebiasaan mengecek perlengkapan anaknya. Namun dia masih menyangkal pemikiran tadi, dia merasa bukan hanya kewajiban dia, namun juga kewajiban suaminya bertanggungjawab terhadap anaknya.


"Bunda, sudah siap yuh berangkat. Ayah antar kan?" pandangan beralih ke ayahnya.


"Iya sayang, ayah antar"


Hari ini Aini merasa diabaikan suaminya, turun dari motor pun hanya bersalaman tanpa kata-kata, mereka masih dalam pemikiran masing-masing. Semua menganggap kalau pendapat masing-masing adalah benar. Akulah yang paling benar....haha....miris memang ketika hati diliputi emosi.


Dalam perjalanan rumah tangga, setiap pasangan suami istri pada dasarnya sedang belajar bagaimana beradaptasi dan berkolaborasi menuju keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Bukan hanya diisi dengan canda tawa, tak jarang terjadi pertengkaran di dalamnya. Pertengkaran sejatinya adalah ujian hidup.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Jangan pernah membiarkan pertengkaran kecil berlarut. Segera selesai dengan kepala dingin.

__ADS_1


__ADS_2