
Lina terus memandangi kepergian Izal, ada rasa sesak meskipun belum mencintai sepenuhnya tapi dia sudah menyerahkan hati dan harapannya kepada Izal. Lina teringat dengan masa lalunya, yang terlalu memberi kepercayaan nyatanya disalah gunakan. Aini sangat paham apa yang di rasakan Lina.
"Dek, sama ayah ya, jalannya?" Alia mendekati Al menggandeng tangan ayahnya berjalan dibelakang bunda dan tantenya.
"Iya, Bun. Ayah ... , gandeng," ucap Alia manja.
"Sini, Sayang," sambut Al.
"Lin, lanjut milih-milih yuk! Mba tau apa yang kamu rasakan saat ini," ucap Aini sambil menggandeng lengan Lina.
"Mba, apa aku terlalu gegabah dalam mengambil keputusan menerima ajakan Izal tadi?"
"Nggak, kok. Justru bagus ketemu Virna sebelum ikatan suci itu terucap dari mulut Izal. Disinilah Ujian Kesetiaan yang harus Izal hadapi, jika Izal kembali ke masa lalunya maka kamu tidak rugi, cinta belum tumbuh sepenuhnya, baru sebatas nyaman kalau Mba rasa, jadi tak ada yang perlu khawatirkan. Dan satu lagi yang mesti kamu ingat, jodoh, mati dan rejeki sudah tercatat jauh sebelu kita lahir. Maka, tugas kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya biar Allah yang menentukan hasilnya. Tugasmu saat ini berdoa kepada sang pemilik hati Izal, jika kamu merasa sudah sangat klik dengan Izal,"
"Mba, jika Izal memutuskan kembali ke masa lalunya kemungkinan hati ini akan lebih sulit menerima ungkapan cinta dari laki-laki,"
"Lina, jika Izal memilih masa lalunya itu artinya Izal laki-laki bodoh, jadi untuk apa memperkeruh perasaan dirimu, jelas-jelas masa lalunya sudah membuat dia terpuruk, apakah dia akan mengulangi kesalahan yang sama. Hanya laki-laki cerdas dan beriman yang pantas menjadi suamimu kelak. Kita lihat saja siapa Izal sebenarnya, dengan kamu memberi kepercayaan seperti sekarang ini. Baiknya kita pilih-pilih gamis aja yuk, biar nggak kepikiran calon kamu. Bukankah tadi kamu bilang sama Izal, kalau kamu percaya sama dia, ya sudah kasihlah kepercayaan itu dengan sebenarnya,"
"Mba, ...."
"Ini bagus loh, Lin. Kembaran kita yuk, jadi kaya ibu-ibu arisan,"
"Jelek itu, Mba. Aku nggak mau, masa warnanya pink menyala. Norak mba, dipakai sama aku. Coba si sini, ... tuh kan?" tertawa lepas.
"Bukan norak, kamu saja yang nggak tau,"
"Mba ... ini lebih bagus deh," Lina menunjuk baju dengan ukuran jumbo.
"Mba akan beli, tapi sebelumnya kamu haru beli dulu,"
"Mba, mana boleh begitu. Ini ukuran khusus buat Mba Aini, yang sebentar lagi resign badannya jadi melar," ucap Lina puas berikut dengan tawanya.
__ADS_1
"Tertawanya pakai adab! volume dikecilkan!"
"Biasa, kebablasan,"
"Mba meski nanti nggak lagi kerja tetap akan menjaga badan ini supaya ideal, lagian mana mungkin mas kamu membiarkan aku istirahat terlalu lama,"
"Mba, aku masih dibawah umur loh. Awas jangan ngomongin macam-macam, ujung-ujungnya mengarah ke hal yang aneh pastinya,"
"Ngakunya dibawah umur, tapi pikiranmu sampainya kearah mana itu? Mas kamu itu nggak bisa membiarkan Mba istirahat lama karena ada saja yang diminta, bikin ini lah, itu lah. Mas Al nanti perlu baju ukuran jumbo,"
"Paling bisa, si Emba berasalan. Itu juga boleh deh, masuk akal,"
"Mba, ngomongin apa saja ya Izal, kok lama?"
"Baru saja 10 menit, Lin. Ibaratnya baru sekedar tanya kabar, sudah jangan dibayangkan!" ucap Aini sambil menepuk bahu adiknya.
"Mas, coba sini. Bagus nih buat kamu, Mas," ucap Al sambil menujukan baju buat suaminya.
"Serius, Tan?"
"Iya, dong. Kita cari yuk, tuh disana!"
"Baiklah, kalau Tante maksa," celoteh Alia sambil tertawa.
"Ye ... siapa juga yang memaksa, Dek. Nggak mau juga nggak apa,"
Al dan Aini melihat pergerakan adik dan anaknya mereka mengikutinya. Memastikan Lina baik-baik saja, Izal belum muncul juga padahal sudah 20 menit.
"Sudah dapat, Lin?"
"Bingung, Mba. Nggak jadi pengin apa-apa, cuma beli buat Alia,"
__ADS_1
"Bagiamana kalau kita jajan saja, yuk kita kesana. Banyak stan makanan disana. Aku sudah lapar lagi," ajak Aini.
"Mba, aku nggak lapar,"
"Yang lapar itu Mba, bukan kamu. Kamu cukup menemani, segitunya selera belanja dan makan menguap begitu saja. Padahal tadi pas baru datang semangat 45," goda Aini.
"Jangan godain adikmu terus, Ai. Dia lagi galau akut, Izal kemana lagi nggak muncul-muncul. Kita tunggu 30 menit lagi jika nggak juga kelihatan batang hidungnya maka kita tinggal pulang,"
Mereka sengaja tidak jauh-jauh dengan lokasi mereka terpisah dengan Izal tadi. Untuk mengurangi jenuh dan mengurangi pikiran Lina karena menunggu calon suaminya mereka makan sambil terus melontarkan candaan. Berkali-kali Al melihat jam yang ada di tangannya, dan berkali-kali pula melihat handphone untuk mengecek pesan masuk dari Izal. Namun tak ada satupun pesan masuk ataupun telpon.
Al memutuskan untuk mengajak keluarganya pulang, dengan pikiran masih bercabang. Al menunjukkan wajah yang begitu tenang dihadapan mereka.
"Kita pulang ke rumah saja ya, biarkan emak dan bapak dirumah budhe, paling tidak kita menghindari pertanyaan aneh dari mereka," ucap Al ketika sudah di mobil dan mau jalan. Alia sudah posisi tiduran di kursi tengah bersama tantenya.
"Sudah kasih kabar ke Bapak, Mas? Kalau kita pulang kerumah utama," tanya Aini.
"Sudah, Sayang. Lin, kamu jangan berfikir macam-macam ya. Sampai kita dapat kabar langsung dari Izal," ucap Al kepada adiknya. Lina hanya mengangguk tanpa berniat menjawab. Pikirannya sudah dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
"Mas, apa nggak apa kita tinggal? Sementara dia nggak bawa kendaraan,"
"Istriku yang cantik, kamu lupa siapa Izal. Dia bukan anak kecil, dan lagian ini ada di wilayahnya. Beda lagi kalau Izal ada di kampung kita baru sehari dan kita tinggal sendirian. Baru kita khawatir,"
"Ya, kali aja lupa jalan," jawab Aini asal.
"Lin, ini diminum dulu. Biar lebih rileks, minuman isotonik bisa membuat kita lebih segar kata di iklan," sengaja dengan candaan Aini memberikannya. Namun Lina hanya menerima minuman tersebut tanpa menjawab. Tak ada gairah untuk menjawab lelucon Aini.
Perjalanan kerumah terasa begitu lama, dengan suasana yang sangat hening. Tak ada yang berusaha memulai pembicaraan, Lina duduk dengan gelisah. Dia menatap nanar kearah jalanan yang mulai sepi, air matanya perlahan turun. Aini dan Al melihat hanya bertatapan dan saling kode untuk tidak usah menegur. Biarkan Lina meluapkan kesedihannya dengan harapan setelah menangis dia bisa berfikir jernih.
"Kemana kamu, Zal? Tega sekali tak memberi kabar, ikatan kita belum juga dimulai, kamu sudah merusaknya," jeritan hati Lina.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
__ADS_1