Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Keadaan Badan Pasca Operasi Caesar


__ADS_3

"Sok tahu kamu, lah, Surti. Bukannya ngasih tahu, malah kultum non faedah di depan saya. Bikin perut mules saja." Bu Aida menggerutu kesal ke arah bi Surti seraya tangannya yang sudah mulai terlihat keriput menjulur ke arah keu apem yang terhidang di meja. Begitulah Bu Aida, gayanya saja yang sok nyosialita sedangkan selera lidahnya masih belum bisa mengikuti fashionnya.


'Begini, nih, kalau ngingetin wewe gombel yang hatinya sudah mulai tertutup pintu hidayah akan sangat susah menerima cahaya kebenaran. Malah dibilang kultum non faedah segala tadi aku. Belum tahu dia kalau diri ini adalah seorang babu yang sudah sering diajak pengajian oleh majikanku yang dulu,' batin bi Surti.


"Susah ngobrol sama kamu. Gak nyambung. Kita, kan, gak selevel ya, saya golongan atas sedangkan kamu golongan bawah ke bawah lagi," ucap Bu Aida mencebik ke arah asisten rumah tangganya itu.


"Sudah sana! Teruskan pekerjaanmu lagi. Nanti kalau sudah selesai buatin saya nasi oyek pake lauk tempe orek pedes," titahnya mengusir bi Surti dari hadapannya.


"Ashiaasp ... Bu! Dari tadi kek biar saya gak pegel harus duduk terus," ucap Bu Surti seraya bangkit dan melenggang bak model peragawati yang sedang berjalan di panggung pementasan ke arah dapur.


"Dasar OKB(orang kaya baru) gaya bak selebriti, makannya masih minta oyek. Eh, mungkin nenek gaul itu mau bernostalgia ke zamannya sendiri kali, ya," gumam wanita bertubuh gempal itu sambil cekikikkan seorang diri sambil menutup mulutnya dengan satu telapak tangan khawatir terdengar oleh majikan sangarnya.


Tangan bi Surti mulai lincah mengelus dan mengelap barang-barang yang terletak di lemari besar yang di letakkan di ruang keluarga. Sambil sesekali terdengar suara dendangan kecil dari mulutnya.


Wanita berkulit gelap itu memang sudah biasa dengan sikap dan gaya hidup yang kadang suka ceplas-ceplos walaupun di depan orang seperti Bu Aida sekalipun. Walaupun terkadang hatinya agak sedikit merasa takut tatkala melihat sifat asli majikannya itu sudah ditampakkan. Karena bisa berubah bak nenek sihir yang kejam di dunia perdongengan.

__ADS_1


***


Sekitar jam setengah sembilan pagi ada perawat yang memasuki ruangan Dhena dan meminta Dhena untuk mulai belajar berjalan setelah hampir dua hari ia sudah terbaring lemah di ranjang pesakitan. Karena selama ini ia hanya mampu duduk bersandar itu pun ia masih sangat merasa kesakitan di bagian bekas sayatan jika harus melakukan aktivitas gerak terlalu banyak.


Bersyukur Dhena ditempatkan di ruang kelas tiga yang sekamar ada empat tempat tidur yang semuanya sudah diisi oleh pasien kandungan. Ada yang hendak melakukan kuret, ada yang pasca lahiran normal dengan dua bayi atau kembar. Ada juga yang masih berstatus gadis karena ada keluhan di bagian rahimnya. Yang harus dilakukan pembedahan. Kebersamaan dengan sesama pasien itu pun sangat membantu Dhena ketika ia harus mengurus bayi laki-lakinya dalam kondisi lemah seperti itu. Ketika bayinya menangis. Maka keluarga pasien yang lain dengan sigap tanpa diminta menggendong bayi Dhena dan sekadar membantu menggantikan popok dan bedong ketika bayinya itu menangis atau ngompol.


"Mbak, sekarang dicoba untuk turun dari tempat tidur dulu, ya, buat belajar jalan. Nanti kalau sudah bisa besok sore sudah bisa pulang ke rumah," ujar perempuan dengan seragam putih-putih itu kepada Dhena.


Dhena pun mengiakan perintah suster itu. Ia mulai duduk dan mulai menurunkan kedua kakinya ke bawah tempat tempat tidur. Tapi, ketika ia berusaha menjejakkan kedua telapak kakinya di lantai keramik ternyata kakinya merasa tak sanggup untuk menopang berat badan tubuhnya apalagi saat dipaksakan untuk mulai melangkahkan kaki. Dengan posisi membungkuk karena sama sekali gak mampu berdiri tegak serta dipapah dan dipegsngin oleh beberapa orang Dhena mencoba berjalan.


"Mas, aku gak kuat, ucapnya lirih kepada sang suami yang sedang membantu memapahnya.


"Yaudah, jangan dipaksakan, Sus, kasihan istri saya. Nanti malah pinsan malah jadi tambah parah," ujar Hariz yang tak tega melihat istrinya seperti dipaksa melakukan sesuatu yang diluar keterbatasannya.


Akhirnya Dhena pun dibantu oleh sang suami untuk kembali menaiki tempat tidurnya. Agar keadaannya bisa kembali membaik.

__ADS_1


Dalam hati Dhena seperti ingin menangis saat menyadari keadaan tubuhnya begitu lemah dan tak bertenaga seperti orang lumpuh karena efek operasi Cesar yang dialaminya dua hari yang lalu.


Namun, tadi pagi ia sempat melihat seorang ibu yang usianya jauh di atasnya yang terlihat baru mengalami pasca cesar bahkan di kepalanya pun masih melekat penutup kepala berwarna hijau yang biasa dikenakan untuk orang yang akan dilakukan tindakan operasi itu sedang belajar berjalan bolak-balik di depan kamar ruang inap itu. Dhena melihatnya karena pintu kamarnya selalu terbuka dan bisa melihat langsung aktifitas orang yang berada di kamar sebelah yang pintunya saling berhadapan dengan kamar yang kini sedang ditempati oleh Dhena.


"Mas, Ibu itu kayaknya operasi cesarnya kan, terakhir. Masih duluan aku. Kenapa bisa terlihat sudah sehat dan sudah bisa jalan, ya? Sedangkan aku boro-boro bisa dipakai untuk berjalan tegak seperti itu. Baru tadi mencoba menjejakkan kaki saja pun, belum mampu," keluh Dhena dengan muka muram.


"Sabar ... Nanti juga kalau sudah waktunya sehat, ya, pasti akan bisa berjalan normal lagi." Hariz berusaha menguatkan dan memberi dukungan moril kepada sang istri. Karena laki-laki berjanggut tipis itu sangat paham jika istri pasca melahirkan normal ataupun Cesar itu sangat butuh perhatian dan dukungan dari orang terdekatnya karena hormon ibu pasca melahirkan dan ibu menyusui sangat rentan merasa sedih dan cepat tersinggung.


Sebagai suami Hariz sebisa mungkin akan menjaga perasaan sang istri.


Oleh karenanya ia sempat tidak suka saat tadi malam Nelly malah nekat menampakkan diri dan menemui sang istri. Walaupun dengan kedatangan Nelly dirinya merasa terbantu dan tertolong karena tak harus berpikir keras untuk mencari uang buat biaya semua perawatan dan obat-obatan yang diperlukan istrinya.


Nelly memang sudah sangat sering selalu hadir ketika Hariz ditimpa musibah atau dalam keadaan terjepit seperti itu. Dan itu bisa dijadikan sebagai celah dan kesempatan untuk Nelly bisa sedikit-demi sedikit memasuki kehidupan Hariz.


Karena bagi Nelly, semua yang diinginkannya harus bisa diraih dan didapatkan tak terkecuali dalam hal untuk bisa memiliki laki-laki yang diharapkannya walaupun hanya sebatas menjadi istri keduanya Hariz. Apalagi ia mempunyai banyak materi yang bisa mendukungnya untuk dapat mewujudkan mimpinya itu. Selain itu Nelly juga waktu itu sangat didukung oleh sang mama dan ibunya Hariz sendiri, yaitu Bu Aida. Dua wanita separuh baya itulah yang terus berusaha dan memaksa agar anak-anaknya itu bisa berjodoh.

__ADS_1


"Hore ... nanti sore Mama sudah bisa pulang," seru Fathan ketika melihat ayahnya mulai mengemasi pakaian dan semua barang-barang yang akan dibawa pulang ke rumahnya. Anak kecil itu berjingkrak kegirangan karena sudah merasa bosan hampir tiga hari menemani namanya di rumah sakit hingga ia tak bisa bermain bareng bersama teman seusinya.


__ADS_2