Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Bandara Sultan Syarif Kasim II


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, tangis haru mengiringi kepergian keluarga Al Ghazali untuk menuju tanah rantau. Aini sudah mendapat panggilan menjadi guru di SDIT As Syifa yang terletak di pusat kota di pulau S setelah melewati beberapa tes interview. Kakek Nenek, Kakung dan Uti mengantar sampai bandara Soekarno Hatta. Dari rumah menuju bandara menggunakan mobil. Lantunan doa terus mereka panjatkan semoga anak-anak serta cucu mereka sehat, selamat, serta senantiasa dilancarkan dalam setiap urusannya oleh Allah. Ujian kehidupan baru menanti mereka, semoga mereka akan semakin erat berpegangan tangan di tanah rantau yang tak punya sanak famili disana.


Bersyukurnya kedatangan mereka sudah dinanti oleh pihak yayasan, pihak yayasan sudah menyediakan jemputan di bandara Sultan Syarif Kasim II, dan Aini mendapat fasilitas rumah serta perlengkapan.


"Nda, kita telbang ya nda. Adek syuka bisa lihat awan"


"Iya sayang, Adek tau kan kalau kita nanti mau tinggal dirumah baru, dapat teman baru InsyaAllah"


"Iya nda, adek tau. Kata nenek sama Uti kalau kangen Vidio call saja kalena nggak bisa ketemu dulu. Apa benel Yah?"


"Iya, Sayang. Nenek sama Uti betul,"


"Masih ingat pesan bunda kan, Sayang? Saat ketemu teman Adek kenalan terus ramah dan bicaranya yang baik-baik," Alia mengangguk semangat.


"Ayah tau Alia anak yg baik, jadi disana akan dapat teman dan keluarga baru yang baik juga InsyaAllah" mengelus kepala putrinya.


"Mas, bentar lagi kita sampai. Tak terasa ya mas sudah 1,5 jam kita di pesawat. Mas tpadi sudah ngabari ke yang jemput kan saat masih di bandara Soeta?"


"Iya Ai, mas sudah ngabari, dan sudah ngirim foto mas juga biar nggak salah orang,"


Rasanya seperti mimpi tiba-tiba sudah berada di bandara Sultan Syarif Kasim II, tidak ada satupun kenalan disana. Al menyeret 2 koper sekaligus l, sementara Aini menggendong anaknya, mereka berjalan menuju lobby, disana sudah berdiri 2 orang yang berperawakan tegap, seumuran suaminya.


"Assalamualaikum, Pak Al Ghazali dan Ibu Aini ya?"


"Wa'alaikumussallam, betul dengan pak Rahmat dan Pak Edi ya?" Al berjabat tangan dan menyebutkan nama.


"Al Ghazali, biasa dipanggil Al,"


"Rahmat,"

__ADS_1


"Edi,"


"MasyaAllah terimakasih pak Rahmat, pak Edi ... rasanya seperti mimpi tiba disini dan penyambutannya luar biasa. Sampai-sampai dijemput,"


"Sudah jadi kewajiban kami sebagai seorang muslim yang saling membantu," ujar Rahmat


"Mari pak, saya tak ambil mobil dulu Pak Al dan Bu Aini menunggu saja disini,"


"Terimakasih, Pak,"


Sementara Pak Rahmat dan Pak Edi mengambil mobil Al duduk sebentar, lumayan pegal menggendong anaknya yang tertidur karena terus berceloteh di pesawat tadi.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam dari bandara mobil menuju rumah sederhana di komplek dan tidak jauh dari situ terlihat sekolah yang terlihat megah.


"Pak Al, ini kunci rumahnya. Semoga Pak Al dan Bu Aini betah disini, jika ada apa-apa jangan sungkan menghubungi kami, Pak,"


"Bu Aini, kepala sekolah tadi berpesan ibu bisa mulai berangkat lusa, mengingat baru sampai kalau harus besok kasihan si kecil masih butuh penyesuaian,"


"Untuk sekolah si kecil sudah dipersiapkan 1 kuota, jadi tidak perlu khawatir. Bisa dikenalkan perlahan dulu disekolah TK yg ada di sebrang gedung SD itu," Pak Edi sambil menunjuk gedung sekolahnya.


"MasyaAllah terimakasih banyak, Pak. Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang baik,"


"Ya sudah, kami langsung permisi. Sempatkan Istirahat dulu sebelum berkemas. Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumussallam warohmatullahi wabarokatuh,"


Alia masih tertidur pulas saat memasuki rumah itu, rumah sederhana namun tertata rapi terdiri dari 2 kamar, ruang tamu dan dapur menyatu dengan ruang keluarga, serta 1 kamar mandi. Kasur sudah rapi nampaknya habis dibersihkan sebelum mereka datang. Aini hanya mengganti seprei dan sarung bantal dengan milik sendiri, mengingat Alia masih butuh penyesuaian. Diletakan pelan-pelan tubuh Alia, kemudian bersih-bersih sebentar berwudhu dan dilanjutkan dengan menjalankan sholat asar dan sholat dzuhur jamak qasar. Setelah selesai sholat mereka membaringkan tubuh disamping anaknya, khawatir pas bangun pas mereka tidak ada disampingnya pastinya akan kaget.


Hp Al berbunyi, ternyata ada pemberitahuan dari ekspedisi kalau motor yang dikirim dari rumah 1 Minggu yang lalu sudah sampai dari kemarin, dan Al dimintai alamat lengkap, guna mengantar motor.

__ADS_1


"Alhamdulillah, motornya sudah sampai dari kemarin kata pak Kurir, pas banget ya, Ai. Alhamdulillah tidak harus menunggu,"


"MasyaAllah, Alhamdulillah Allah beri kemudahan ya, Mas,"


"Ai, bismillah kita mulai berjuang dari nol ya, terimakasih masih terus setia disamping dan terus mensuport mas,"


"Iya, Sayang. Ai melakukan itu karena mas orang yang tepat untuk diperjuangkan," sambil mengedip ngedipkan matanya.


"Ai, mas sempat berpikir apakah cinta Ai masih ada untuk mas, setelah mas tidak punya apa-apa? sementara kamu dikelilingi penggemar yang sangat mengangumi mu, terus terang mas sangat cemburu, takut kamu meninggalkan mas. Puncaknya pas kamu ikut seminar bareng dengan Abid," jelas Al


"Ai, besok mas mau mulai keliling sini untuk survei pasar sambil kenalan sama pedagang ecer yang nantinya akan mas titipkan dagangannya,"


"Sip, Mas Ai akan dukung keputusan suamiku ini,"


"Bunda ... Ayah," panggil Alia lirih sambil mengucek-ngucek matanya lalu mengamati sekeliling.


"Ayah, kita dimana?" masih dengan suara lirih


"Anak Ayah sudah bangun, ini dirumah baru kita iya kan, Nda? Lihat, Dek. Kamarnya mirip kamar adek yg dulu ya warnanya," ucap Al antusias untuk membangkitkan semangat anaknya yg baru bangun tidur. Alia langsung duduk, dan mengamati sekeliling lagi dengan kondisi yang sudah lebih sadar, sudah bangun sepenuhnya.


"Iya Adek suka, Yah. Tapi Adek nggak suka karena boneka nggak ada yang menemani tidul,"


Spontan Ai langsung memandang Al, matanya seolah berbicara "Jangan-jangan bonekanya ketinggalan?" Memahami tatapan istrinya Al langsung bangkit dan membuka koper, di koper pertama tidak menjumpai. Al ingat sekali kalau dia sudah memasukan boneka kesayangan anaknya ke salah satu koper tapi Al lupa koper yang mana. Dibukalah koper kedua, matanya membulat mencari-cari kebagian dasar.


"Alhamdulillah, ketemu," mendongak melihat Alia yang sedang berdiri dibelakangnya.


Al menutup kembali koper-koper itu sebelum tenaga kembali fresh untuk disusun pada tempat semestinya. Dirumah baru hanya ada perabot utama saja seperti lemari, kompor, kasur, piring, gelas, sendok dan ruang sudah tersedia karpet yang digelar. Rumah minimalis itu terlihat sangat rapi sehingga membuat kesan yang membuat hati nyaman serta luas meski sebenarnya ukurannya jauh lebih kecil dari rumah Al dikampung halaman. Besar kecilnya rumah tidak menjadi soal, yang terpenting adalah kenyamanan, kebahagiaan.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2