Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mengutarakan Isi Hati


__ADS_3

***


Siang ini setelah habis waktu kerjanya Hariz berniat untuk pulang bareng bersama Nelly ke rumah istri keduanya itu. Yang tentu saja membuat hati Nelly mendadak berbunga-bunga diliputi rasa bahagia yang tiada tara.


Bagaimana tidak. Setelah kian Minggu ia mencoba bersabar menunggunya akhirnya laki-laki yang ditunggunya pun berinisiatif dan berniat untuk datang ke rumah tanpa ia minta sebelumnya.


Nelly membayangkan rona bahagia sebentar lagi pasti akan terlihat dari wajah polos buah hatinya di rumah. Karena putranya itu hampir tiap hari dan tiap malam selalu bertanya kapan Hariz yang sudah dianggap sebagai ayahnya itu akan kembali pulang ke rumah mereka. Menghabiskan waktu hingga berhari-hari seperti keluarga kecil lainnya dengan formasi lengkap. Ada ibu, bapak, dan anak. Karena bocah malang itu hampir sudah enam tahun belum pernah merasakan berada di tengah-tengah kehangatan keluarga yang benar-benar utuh seperti halnya teman-teman dan saudara-saudara yang sepantaran dengannya.


Benar saja, baru satu langkah Hariz memasuki gerbang pagar rumah berukuran besar itu, ia sudah disambut dengan teriakan histeris dari anak lelaki berusia enam tahun lebih itu.


"Asiik ... Hore ... Hore ... Akhirnya ayahku pulang juga. Terima kasih Bunda, sudah bisa bawa Ayah untuk pulang ke rumah kita," ucapnya begitu antusias. Sorot matanya yang berbinar menyiratkan kebahagiaan yang tak terhingga.


Vito langsung berlari kecil dan menghambur ke arah Hariz sembari merentangkan kedua belah tangan mungilnya lalu melingkarkan pelukan di pinggang pria yang selama ini dinanti dan sangat dirindukannya.


"Ayah, aku kangen banget sama Ayah. Kenapa Ayah gak pernah pulang ke rumah Bunda?" Pertanyaan polosnya sudah sukses membuat hati kedua orang dewasa itu ikut terenyuh mendengarnya.


Hariz kemudian memegang tangan mungil yang masih setia melingkar di bagian pinggangnya lalu melepaskannya secara perlahan dan berjongkok dihadapan Vito, berusaha untuk bisa mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki yang super aktif itu. Ditatapnya bola mata bening yang kini sama-sama sedang memandangnya dengan sorot mata yang seolah memancarkan kerinduan.


"Ma'afkan Ayah, ya, Sayang. Selama ini Ayah gak bisa datang ke sini," ucap Hariz kemudian. Ia mengecup dahi Vito penuh hangat dan kasih.

__ADS_1


Hatinya selalu terenyuh jika melihat anak kecil yang bernasib seperti Vito. Hanya mendapatkan kasih sayang dari satu orang tua saja.


"Iya, Ayah. Tapi kenapa waktu itu aku lihat Ayah sedang duduk dengan orang lain dan ada anak kecilnya juga. Terus kenapa aku malah diajak pergi sama Bunda?" tanyanya kemudian. Pikiran polosnya belum bisa menangkap dengan keadaan yang sebenarnya. Karena Nelly maupun Hariz belum pernah mengatakan dan menerangkan tentang semuanya. Karena Vito masih di bawah umur yang belum bisa memahami posisi bundanya seperti apa.


"Oya, Ayah aku kemarin beli bola baru bareng Bunda. Ayah temanin aku main, yuk, Yah," ajaknya kemudian penuh semangat.


Untuk menyenangkan hati anak laki-laki itu Hariz pun lalu mengiakan dan menuruti apa yang diminta oleh Vito barusan. Pria bertubuh tinggi itu lalu mengajak Vito ke arah samping rumah yang agak luas dan ditumbuhi dengan rumput jepang. Tumbuh subur menutupi tanah yang menghampar luas.


Usai membersamai Vito bermain, kemudian salat dan makan bersama. Kini Hariz istirahat sejenak duduk bersantai sambil menonton televisi bersama Nelly. Sedangkan Vito sudah kembali bermain bersama teman sepantarannya di rumah sebelah.


"Maaf, Mas mau bicara serius sama kamu," ucap Hariz kepada Nelly.


"Sebelumnya Mas mohon ma'af, bila keputusan Mas ini nanti akan membuatmu kecewa."


Mendengar pernyataan dari suaminya Nelly sedikit banyak bisa menangkap kemana arah dan maksud tujuan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pria berparas tampan itu.


"Oke, Mas, aku ma'afkan. Sekarang aku siap untuk mendengarkannya apa pun itu yang akan kamu bicarakan," jawab Nelly meyakinkan. Walaupun hati kecil wanitu itu sebenarnya harap-harap cemas menanti apa yang akan diutarakan oleh Hariz.


Hariz menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Menyiapkan kata-kata dan kalimat yang akan disampaikan berharap bisa diterima dengan hati lapang oleh wanita yang sedang duduk berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Mas minta kelapangan hatimu untuk mengakhiri pernikahan kita ini. Karena Mas sadar diri selama ini Mas sangat salah. Sudah berani melangkah terlalu jauh mempermainkan pernikahan yang jelas-jelas seharusnya dijaga kesuciannya. Mas, takut dan khawatir jika pernikahan kita ini malah menjerumuskan Mas ke dalam kemurkaan Yang Maha Kuasa. Karena selama menjalaninya Mas tak mampu berlaku adil baik dalam segi nafkah lahir maupun nafkah batin. Yang seharusnya bisa diterima oleh istri pertama dan istri kedua secara adil dan sama rata. Sedangkan Mas belum bisa mengaplikasikannya dalam rumah tangga kita," papar Hariz panjang lebar.


Dugaan Nelly tadi yang sempat terbersit dalam benaknya ternyata tidak meleset. Benar adanya jika Hariz akan membicarakan hal ke arah situ. Dan wanita yang sudah terlanjur terjerat cinta oleh laki-laki yang kini sudah jadi suaminya itu hanya menampakkan senyum termanisnya ke arah Hariz.


"Mas tidak salah mengungkapkan rasa ketakutan dan kekhawatiran Mas yang sangat berlebihan seperti tadi. Karena itu memang benar adanya." Nelly menanggapi.


"Sorot mata Nelly menatap lekat ke arah Hariz seolah ingin memberikan penjelasan yang dapat meyakinkan hati sang suami.


"Dari pertama dulu aku sudah sering bilang aku tak pernah menuntut dan berharap lebih dari kamu, Mas. Karena apa? Karena hati kecil aku ini sangat-sangat menyadari jika Mas itu miliknya Mbak Dhena dan Fathan. Aku tak berhak harus bisa memilikimu seutuhnya, Mas."


Sejurus kemudian Nelly bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah laki-laki yang kini sedang menatapnya tanpa kedip. Tangannya meraih lalu menggenggam jemari lelaki satu-satunya yang telah membuat perempuan itu membuka hati. Setelah kepergian papanya Vito yang kini entah di mana rimbanya. Baginya Hariz adalah figur suami idaman yang sangat ia dambakan selama ini.


"Dengarkan aku, Mas. Sekali lagi. Aku ini hanya istri keduamu, Mas, wanita yang hadir di tengah-tengah pernikahanmu dengan Mbak Dhena. Jadi, untuk saat ini dan sampai ke depannya nanti aku ridho, aku ikhlas untuk tidak menerima nafkah lahir maupun batin secara adil dan disamaratakan dengan istri pertamamu."


"Silakan Mas menghabiskan waktu dengan Mbak Dhena dan Fathan selama seminggu bahkan lima belas hari pun sekalian. Dan Mas misalkan hanya bisa satu atau dua hari di rumah ini. Aku tidak akan mempermasalahkannya, Mas. Aku tidak akan pernah menuntut dan mengganggu waktu kebersamaan Mas dengan keluarga kecilmu," ungkap Nelly penuh keyakinan yang membuat Hariz semakin dilema.


"Tapi, dengan seperti itu, Mas akan lebih merasa terbebani," sela Hariz.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2