
***
Sudah dua hari Dhena kini tinggal berdua bersama Azzam. Pernikahan yang dijalani oleh Dhena bersama Azzam sebagai suami keduanya terasa hambar dan kaku karena dalam ruang hati wanita itu masih terselip nama Hariz. Walaupun ia sudah bertubi-tubi dibuat terluka dan dibuat kecewa oleh lelaki yang sudah sempat membersamainya selama beberapa tahun itu.
"Mas, kalau memang sudah ngerasa ngantuk banget. Mas boleh tidur dulu di kamar, gih," saran Dhena yang melihat Azzam sudah beberapa kali menguap.
"Beneran? Gak apa-apa, nih, ditinggal sendiri di sini?" tanya Azzam memastikan.
"Iya, Mas, aku gak apa-apa, kok, ini kan, masih di dalam. Bukan di luar rumah." Dhena tersenyum manis ke arah pria berjanggut tipis itu berusaha meyakinkan.
Jam di dinding bercat putih di ruang tengah menunjukkan angka 11 malam. Tapi, Dhena masih menyibukkan diri di depan layar laptop. Untuk memulihkan dan menjaga kestabilan perasaannya, akhir-akhir ini Dhena sengaja sering menenggelamkan diri dengan menulis. Karena yang ia rasakan ketika dirinya berhasil menuangkan segala keluh kesah perasaannya melalui goresan pena akan menjadikannya jauh lebih ringan.
Ujian hidup yang datang silih berganti itu pun membuat Dhena terus berusaha untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Maha Pemangku Kehidupan. Berharap hatinya menemukan ketenangan dan kedamaian di setiap waktu. Karena hanya Yang Maha Kuasa lah yang mampu memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap hamba yang ia kehendaki.
Setelah matanya sudah mulai terasa perih Dhena baru bangkit dari duduknya setelah sebelumnya ia menutup rapat laptopnya. Ia melangkah menuju kamar menyusul Azzam yang sudah masuk terlebih dulu sedari tadi.
Perlahan telapak tangan Dhena mendorong daun pintu kamar, khawatir mengganggu pria yang sedang terbaring di tempat tidur. Kemudian wanita itu duduk di tepi ranjang menatap sosok pria yang terlihat sudah terpejam. Dhena meraih guling dan menaruhnya di tengah tempat tidur sebagai sekat antara dirinya dengan lelaki yang kini sudah berstatus sebagai suaminya.
Dhena tak terbayang sebelumnya kini ia bisa berada dalam ruangan bersama laki-laki yang begitu asing dalam kehidupannya. Pria yang tidak banyak ia ketehui tentang latar belakang serta sifat dan karakternya membuat perempuan itu menjadi sering merasa kaku dan salah tingkah.
Dhena kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Berusaha memejamkan matanya yang terasa sulit untuk diajak beristirahat. Mungkin karena pikirannya yang masih mengembara ke mana-mana sehingga dirinya sulit untuk bisa segera tertidur.
__ADS_1
***
"Hai, Bro. Denger-denger kemarin kamu sudah menikah, ya?" tanya Dino rekan kerja Azzam ketika mereka duduk berhadapan di kantin tempat mereka bekerja.
Sedangkan Azzam hanya tersenyum mengangguk mengiakan pertanyaan teman sejawatnya.
Di hadapan meja masing-masing sudah tersaji dua porsi jatah makan siang masing-masing dengan satu gelas teh manis hangat serta menu pelengkap berupa cemilan ringan lainnya.
"Gak nyangka aja gue. Tak kira lu gak doyan kaum hawa karena selama ini yang gue tahu lu, tu, selalu bersikap cuek kepada mereka." Dino masih nyerocos sambil sesekali menyeruput teh hangatnya.
"Eh, betewe, kok, Lo mau saja sih, dijodohin sama Kahfi dengan adiknya yang berstatus janda itu. Udah gitu mantan orang dengan gangguan jiwa pula," sambung Dino kemudian.
"Terus lo langsung nerima begitu saja?"
"Why not? Tho, dia sekarang sudah kembali bisa hidup normal lagi, kok. Dan aku pun Insya Allah bisa menerima wanita itu apa adanya." Azzam berusaha meyakinkan teman bicaranya itu. Yang terlihat keberatan mendengar Azzam menikah dengan adik kandungnya Kahfi.
"Aku akan terus mencoba berusaha mencari kebahagiaan dengan hidup bersamanya," pungkas Azzam seraya mengambil selembar tisu yang terletak persis di hadapan lalu digunakkan untuk mengelap mulut.
Walaupun hati kecil Azzam merasakan jika Dhena hingga kini masih terlihat menutup hati dengan keberadaannya selama ini. Dari sikapnya yang seolah terus menghindar dan hanya berkata secukupnya saja. Tapi, Azzam masih berusaha memakluminya. Karena mungkin kebersamaan mereka masih belum bisa membuat Dhena merasa nyaman.
***
__ADS_1
Hariz memasuki rumah ketika jarum jam sudah menunjukkan angka 9 malam. Ia melihat kedua putranya sudah terlelap tergeletak begitu saja di depan televisi tanpa menggunakan bantal dan selimut sebagai penghangat. Wajah polos kakak beradik itu terlihat pulas tanpa menghiraukan ada beberapa ekor nyamuk yang sedang hinggap di bagian anggota tubuhnya yang terbuka.
Ucapan salam Hariz tadi tak ada sahutan dari siapa pun. Karena Sandra pun tak terlihat keberadaannya. Baru setelah Hariz membuka pintu kamar, dilihatnya sang istri sedang asik menyaksikan drama Korea melalui layar laptop milik pribadinya dengan kedua telinga yang disumpal menggunakan headset yang tersambung ke arah layar datar itu.
"Sandra! Kenapa anak-anak kamu biarkan mereka tidur tergeletak di luar? Pertanyaan dari Hariz yang sudah berdiri di belakang mengejutkan wanita berrambut pendek itu. Sandra sempat terperanjat kaget karena tak menyangka jika suaminya kini sudah berada di kamar tanpa sepengetahuannya.
"Tadi Fathan sama adiknya sedang nonton kartu kesukaan mereka berdua, kok, Mas," jelas Sandra.
"Kenapa gak kamu temenin? Kenapa malah menyibukkan diri di dalam kamar?" cecar Hariz.
Sandra merasa selama ini perhatian Hariz hanya ditumpahkan dan diberikan hanya kepada ke dua anaknya saja. Sedangkan ia sendiri yang statusnya sebagai istri tak pernah merasakan bagaimana rasanya mendapat perhatian dari sosok suami. Sandra sering merasa diabaikan dan tak dipedulikan keberadaannya oleh Hariz. Jangankan memberikan perhatian kecil yang selama ini ia harapkan, hanya sekadar ngobrol santai berdua pun jarang sekali bisa Sandra lakukan dengan suaminya itu.
Itulah salah satu diantaranya yang membuat pemicu keributan sering membumbui kehidupan rumah tangga mereka berdua. Yang lebih membuat Sandra merasa tak dianggap sebagai istri oleh Hariz karena suaminya itu akhir-akhir ini selalu menjaga jarak dengan dirinya. Padahal, yang ia harapkan sebagai istri, ingin sekali selalu dimanjakan dan diperhatikan oleh sosok suaminya sendiri.
Sehingga terkadang wanita berkulit putih itu pun acap kali menumpahkan kekesalan dan kemarahan perasaannya kepada kedua anak sambungnya tanpa sepengetahuan karena sering dilakukan oleh Sandra ketika Hariz sedang di luar rumah dan sedang disibukkan dengan pekerjaan yang kini sedang digeluti.
"Kenapa kamu hanya bisa melimpahkan perhatian kepada anak-anak mantan istrimu itu saja, Mas?" tanya Sandra menatap tajam ke arah Hariz.
"Fathan dan Reza anakku juga, Sandra!" sangkal Hariz.
"Aku juga lelah, Mas, menghadapi sikap kamu yang tak pernah bersikap manis kepadaku. Memang selama ini aku dianggap apa?" Sandra mulai menampakkan sifat berang di hadapan Hariz.
__ADS_1