Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Budhe Surti


__ADS_3

Disekolah Aini tidak ceria seperti biasanya, bawaannya melamun. Beruntung hari ini banyak jam kosong jadi tidak merugikan anak didiknya. Aini mencoba merenungi apa yang terjadi dengan keinginan suaminya. Aini masih berontak didalam hati pokoknya belum mau resign, jauh-jauh merantau dengan harapan menjadi guru handal baru dijalani belum genap 1 th sudah disuruh resign. Aini berfikir biar nanti mencoba membujuk suaminya dengan cara lain, negosiasi agar bisa mengulur paling tidak menunggu 2 th masa kerja baru resign.


Aini sore nanti sepulang *** mendapat tugas memberikan jam tambahan buat persiapan lomba olimpiade. Ingin sekali Aini menolak tugas tersebut mengingat suaminya masih mendiamkannya.


"Bagaimana ini caraku ngomong" batin Aini. Aini masih memikirkan cara untuk menolak tugas kali ini. Aini tidak mau suaminya semakin membencinya, Aini disini hanya memiliki suami dan anak, jika mereka sudah mendiamkan maka Aini akan bingung.


Akhirnya dengan setelah mengumpulkan keberanian Aini menemui kepala sekolah, namun keputusan kepala sekolah sudah mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Aini keluar dari ruang kepala sekolah dengan lesu, membayangkan suaminya semakin marah karena Aini mengabaikan untuk tidak memberi jam tambahan bagi muridnya.


"Aku harus bagaimana mas?" hati Aini terus berbicara sendiri.


-------------------------------------------------


"Assalamualaikum," suara salam menggema dirumah Al.


"Wa'alaikumussallam," jawaban serempak dari penghuni rumah. Karena pintu terbuka lebar tamu tersebut tanpa menunggu sambutan orang yang didalam langsung masuk lurus kebelakang, menuju orang-orang berkumpul dibedeng belakang.


"MasyaAllah budhe, apa kabarnya?" Al menyalami budhe Surti kakak dari bapaknya.


"Kamu ya Al, ternyata ada dipulau ini nggak kabar-kabar, budhe tahu dari bapakmu. Minggu kemarin budhe tlp bapakmu malah ternyata keponakanku dekat malah nggak tau" cerocos budhe Surti.


"Maaf Bu Dhe, aku lupa nggak ngabari, dan nggak kepikiran ternyata budhe nggak jauh dari sini. Sama siapa budhe?"


"Sama pak dhemu itu masih didepan, budhe nggak sabar pengin ketemu ponakan sama cucu. Budhe sudah lama bangat tidak ketemu kamu Al, istrimu mana Al kok nggak kelihatan?"


"Aini lagi kerja bu Dhe,"


"Kerja.....kenapa mesti kerja Al, harusnya kamu ya melarang istrimu kerja. Usahamu sudah lancar gini kok, jadi istri berbakti kan lebih baik"


"Aku juga maunya gitu Bu Dhe, tapi Aini nggak mau. Ah kenapa jadi tambah kesal" batin Al.


"Daripada dirumah terus Bu Dhe, takutnya nanti Aini jenuh. Kerja jadinya banyak teman"

__ADS_1


"Halah kamu ini, masih membela istrimu. Kalau istrimu dirumah kamu jadinya enak, lagian apa kamu nggak takut istrimu main-main diluar sana dengan pria lain"


"InsyaAllah nggak Bu Dhe, Al percaya sama dia"


"Kamu jangan menganggap remeh Al, disini itu berbeda dengan kondisi dikampung kita. Kamu harus pandai menjaga istrimu, apalagi istrimu cantik"


"Mari duduk dulu Bu Dhe, maaf pengap kondisinya dan panas, kedepan saja gimana budhe yang lebih adem?"


"Nggak apa Al disini saja, panas yang penting menghasilkan banyak uang. Hidup dirantau itu keras, tapi jika mau bergerak hasilnya juga banyak, budhe masih nggak percaya bisa ketemu kamu disini. Kamu itu kan anak mama, nggak pernah kemana-mana tahu-tahu malah menyebrang jauh kesini"


"Nasib orang tak ada yang tahu budhe, mungkin jalannya keluarga Al harus terdampar disini"


"Setiap apa yang menimpa kita pasti semua ada hikmahnya, termasuk masa sulit kamu dulu"


"Minum apa Dhe? Teh, kopi, susu, jus?"


"Teh tawar saja Al, kalau pakdhemu kopi" dengan sigap Mak Dang membuat sesuai pesanan tamu dari majikannya.


"Silahkan Bu," "Terimakasih Bu" jawab Bu Dhe Surti


"Jangan melamun Al, budhe disini kok kamu bengong"


"Eh budhe" Al garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal, hanya menutupi kegugupannya ketahuan melamun. Al kepikiran istrinya yang saat ini mereka sedang perang dingin.


Pak Dhe masuk ke dapur bedeng Al seperti menjadi pengamat, semua sudut tidak luput dari pandangannya. Pak Dhe mengamati rumah Al dari pekarangan depan tadi sampai dipojok paling belakang.


"Ternyata karyawanmu banyak banget ya Al, lebih dari 10 orang. MasyaAllah pak Dhe bangga sama kamu. Belum ada setahun merintis sudah bisa buka lapangan kerja" menepuk pundak Al.


"Jangan berlebihan pak Dhe, minum dulu Monggo, nanti kopinya keburu dingin"


"Nggak minat pindah lokasi yang lebih luas Al? kasihan tungkunya terlalu berdekatan begitu, panas jadinya"

__ADS_1


"Iya pak Dhe, Al lagi cari-cari lokasi yang strategis, lagian ini rumah inventaris dari sekolah Aini. Jadi nggak enak kalau kelamaan tinggal disini"


"Usahamu sudah lancar, tinggal Aini disuruh berhenti nggak usah kerja. Kasihan Al, jangan sampai istrimu kelelahan terus jadinya Alia nggak punya adik-adik"


"Iya pak, ibu tadi juga sudah bilang gitu sama Al. Wanita cantik jangan dibiarkan diluar rumah lama-lama"


"Nggih pak Dhe, Bu Dhe akan Al pikirkan tentang Aini"


"Nah gitu dong, peranmu itu kepala rumah tangga jadi jangan biarkan istrimu mengambil peranmu. Istri terlalu mandiri itu nggak baik Al" ucap Pak Dhe Karto.


"Nggih pak Dhe, InsyaAllah nggak akan lama lagi Aini berhenti kerja"


"Bisa tuh kamu buka cabang di dekat rumah pak Dhe Al"


"Kalau disini sudah tertata Dhe, InsyaAllah kapan-kapan giliran Al silaturahim kerumah pak Dhe, sambil survei lokasi, perjalanan berapa jam dari sini Dhe?"


"1,5 jam tadi Al, itu kalau pak Dhe yang bawa. Kalau kamu yang bawal nggak nyampai 1,5 jam InsyaAllah sudah sampai"


"Dekat lah pak Dhe, daripada ke rumah emak"


"Bulan depan emakmu mau kesini jadi Al?"


"InsyaAllah jadi, setelah sekian lama tertunda terus"


Obrolan mereka tak ada habisnya, mengingat mereka sudah lama sekali tidak berjumpa. Pak Dhe Karto dan bu Dhe Surti sudah 3 tahun nggak pulang, rencana lebaran tahun ini baru mau mudik, saudara sepupu dari pak Dhe Karto 3 sudah berkeluarga semua. Yang tinggal bersama pak Dhe hanya 1 anak laki-laki no.2, yang lain tinggal di Jakarta dan di Bandung.


"Pak Dhe, mohon ijin tak tinggal dulu mau jemput Alia"


"Boleh budhe ikut Al, sudah pengin ketemu sama cucu, ketemu dulu waktu masih bayi"


"Boleh Dhe," Budhe Surti mengekori Al, terlihat pancaran kebahagiaan mengingat mau ketemu cucunya.

__ADS_1


"Gimana reaksi Alia ketemu budhe ya Al?"


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2