
Tut ....
Lina memutuskan sambungan telpon, biarkan giliran Izal yang gelisah menunggu. Terdengar dering telpon namun tidak diangkat, justru di matikan.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Aini.
"Biarkan saja, Mba. Biar merasakan bagaimana rasanya jadi kita semalam. Dia membuat gelisah banyak orang, sementara aku cuma membuat gelisah sama dia aja, itupun kalau dia peka," ucap Lina enteng.
"Dendam itu nggak baik, Lin," nasihat Al. Mereka sudah duduk di pojok kedai Mie Aceh yang sangat terkenal.
"Aku bukan dendam, Mas. Hanya ingin memberi pelajaran bagaimana jika kita di abaikan. Sekarang begini, Mas. Izal di rumah sakit semalaman menunggu Virna sendiri, dalam satu ruangan hanya berdua. Aku jadinya berasumsi kalau Izal itu belum bisa melepaskan Virna, buktinya semalam tidak punya cara bagaimana menghubungi orang tuanya. Kalau nggak menghubungi aku saja itu sangat wajar, mengingat aku bukan siapa-siapa, tapi kedua orang tuanya jelas hafal nomor telpon rumah, atau nomor Hp orang tua. Apa tidak bisa sedikitpun ditinggal si Virna itu. Membayangkan saja aku sudah sakit hatinya. Aku malah mikir, apa aku sanggup melanjutkan pernikahan ini, Mas, Mba," ucap Lina sambil mulai keluar air mata. Dadi tadi malam dia sudah berusaha untuk tidak keluar bulir bening dari kedua netranya. Namun kali ini sudah nggak bisa ia tahan. Beruntungnya Lina duduknya menghadap tembok, jadi tak ada yang melihat dia menangis kecuali Al dan Aini.
Aini menatap Lina dengan iba, dia paham bagaimana perasaan Lina saat ini. Itulah tadi, wanita itu sangat rapuh jika tengah cemburu. Seperti yang di alami Lina saat ini. Aini melirik ke arah suaminya, dia paham bergegas mengambil tisu yang di mobil. Aini biasanya bawa tisu di tas, tapi kali ini tasnya juga ditinggal di mobil. Dari tadi Lina mengusap air mata dengan tisu yang ada di meja, namun habis sekarang.
"Jangan begitu, kita tidak tau kebenarannya?"
"Mba, meskipun diluar Mba Aini berbicara seperti itu. Tapi Lina sangat yakin kalau dihati mba sependapat dengan pemikiran ku," ucap Lina bersusah payah karena sambil terisak.
"Jangan asal tebak, memangnya kamu peramal. Bisa menebak isi hatinya Mba Aini,"
"Mba, aku kenal sama Mba Aini itu sudah lama," Lina tertawa namun masih dengan terisak.
Tak lama kemudian Al sudah kembali dengan tisu ada ditangannya. "Lin, jangan di habiskan. Jangan sampai menjadi penyebab global warming. Namanya merusak alam kalau pakai kebanyakan," ucap Al sambil menyodorkan tisu. Sontak tangan Al mendapat pukulan dari Lina karena kesal.
"Lin, kamu jangan berbicara tentang rencana pernikahan sebelum pikiran kamu tenang. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil dalam kondisi masih emosi, ketika emosi biasanya keputusan yang diambil mengecewakan kedepannya," ucap Aini tulus.
__ADS_1
"Mba, jadi aku harus bagaimana. Jika nanti Izal mau menemui Lina, bagaimana Mba?"
"Kalau menemui itu suatu keharusan, supaya ada titik temu. Tapi jangan sampai kamu gegabah memutuskan ketika kondisi kamu masih seperti ini. Masih menahan marah,"
"Mas, mau ke Masjid dulu ya. Itu terdengar adzan, kalian masih mau disini apa lanjut ngobrol di rumah."
"Disini saja, pulang bareng Mas nanti. Jangan langsung pulang ya, lumayan jauh kalau jalan kali," jawab Aini.
"Aku makannya juga belum habis, Mas," ucap Lina sambil terisak. Al menahan tawa dengan tingkah adiknya, meski nangis tapi mulut masih terus saja mengunyah.
"Pilih salah satu, Lin. Kamu jangan serakah, mau nangis dulu apa makan dulu?" ucap Al buru-buru kabur sebelum dapat amukan Lina.
"Tega banget, lagi nangis masih juga di ledek,"
"Bagi Mas Al, kamu itu masih adik kecilnya seperti mainan. Jadi ya begitu menyebalkan,"
"Namanya juga berjodoh, jadi ya begitu. Bawaannya bisa memakluminya yang nggak aku sukai, menerima bentuk kekurangan berikut kelebihan, manusia nggak ada yang sempurna, Lin. Mba juga pernah marah, kecewa, sakit hati sama Mas Al. Begitu juga sebaliknya, namun kita jangan pernah menutup diri dengan penjelasan pasangan. Terkadang ada situasi dimana kita itu mengalah, begitu juga sebaliknya. Seni berumah tangga itu unik, dan Allah menjamin pahala setiap apa yang kita lakukan,"
"Maksudnya?"
"Buat wanita, mengerjakan pekerjaan rumah, melayani suami, mengandung, melahirkan, mendidik anak-anak, menghormati kedua orang tua suami, itu semua jaminannya pahala melimpah,"
"Buat suami juga demikian, pokoknya semua yang baik-baik bernilai ibadah,"
"Mba, terus cara mengatasi ketika Mba marah bagaimana?"
__ADS_1
"Mba itu kalau marah penginnya ngomel, tapi justru Mas Al malah mendiamkan, paling nggak tahan kalau saling mendiamkan, mulut ini rasanya kaku pengin ngomong. Rasanya pengin ditanya, setelah ditanya nanti Mba akan ngomel-ngomel, nah habis ngomel-ngomel biasanya Mba sudah nggak marah lagi, ketawa dan malu ujungnya," jelas Aini sambil tertawa.
"Tapi kalau berkaitan dengan wanita lain, mulut ini rasanya malas mau ngomong apapun. Mending diam, toh nanti akan dijelaskan. Daripada emosi nggak jelas, justru bikin malu,"
"Terus kalau seperti sekarang yang sedang aku alami?"
"Justru kalau sekarang, kalian belum ada ikatan jadi kamu harus lebih kalem lagi. Jangan sampai terkesan kamu marah, cukup tunjukan cara yang berwibawa,"
"Gimana dong, aku sudah matikan HP,"
"Nggak apa, aku dukung. Toh kita sudah tau bagaimana dengan kedua orang tuanya memperlakukan kamu. Mana mungkin membiarkan Izal kembali sama Virna yang jelas-jelas sudah membuat hidup Izal berantakan,"
"Mba, kalau ketemu nanti aku harus bagaimana?"
"Lina, temui. Nanti kan nggak hanya kamu, mana mungkin Mas kamu mengijinkan kalian bertemu hanya berdua. Lin, mengenai bagaimana cara mengatasi ketika aku marah sama Mas Al itu jelas ada bedanya dengan rumah tangga lain di luaran sana. Mereka punya cara lain dalam menyelesaikan persoalannya," Aini menjelaskan.
"Mba, aku sendiri kalau marah cendrung merepet terus Mba, rasanya pengin ngomel-ngomel terus. Biar cepat plong,"
"Ya, mungkin itu sudah fitrahnya kita kaum perempuan banyak bicara. Lagi diam saja kita terus bicara dalam hati, iya kan?"
"Bener, ... iya bener, Mba. Aku juga begitu ... tak kira cuma aku yang begitu. Ternyata Mba Aini juga?"
"Ayo pulang, tuh Mas Al sudah di depan. Kita belum sholat kan?" ajak Aini.
"Masih betah disini, suasananya enak,"
__ADS_1
"Gantian sama pelangg*an lain, Lin. Buruan jalan," Aini menggandeng tangan adiknya.
"Mba, coba lihat di samping Mas Al. Sepertinya aku mengenal mobil itu, bukannya itu ...,"