
"Aini lihat mas" memegang pipi Aini dengan kedua tangannya agar Aini mendongak melihat Al.
"Tentang Mira mas sudah pernah cerita sama kamu kan? mas menolak perjodohan itu. Mas bener-bener tidak ada rasa sama Mira. Namun waktu itu kedua belah pihak ngotot sampai menentukan kapan kami menikah, tapi mas nggak setuju sampai ketemu kamu waktu itu" Mata Aini sudah berkaca-kaca mendengar penjelasan suaminya, sebenarnya dalam hatinya juga menyalahkan dirinya sendiri kenapa dia mesti marah. Bukankah dia sudah tau betul dengan sifat suaminya yang tidak akan menodai janji sucinya saat menikah dulu.
"Ai nggak usah marah, justru harusnya mas yang marah karena kamu terlihat tidak mempercayai kesetiaan mas", "Maaf mas" hanya itu yang mampu diucapkan Aini. Entah kenapa ketika suaminya menyabut nama wanita lain yang pernah berhubungan dengan suaminya hatinya cemas. Al mengelus kepala Aini dengan sayang.
"Mas tadi ngobrol sama bapak, bukan dengan siapa-siapa Ai" Aini kembali menunduk.
"Ya sudah, istirahat gih. Tenangkan pikiranmu, mas tau kamu lagi capek. Mas keluar dulu ya, masih ada sedikit kerjaan bantuin Mak Dang menyiapkan yang mau dibawa Izal"
"Sudah jangan dipikirin, senyum dulu dong" Aini pun tersipu malu.
Wanita itu konyol memang terkadang, terlalu memikirkan sesuatu yang bukan seharusnya dipikir.
Sepeninggal suaminya Aini tersenyum sendiri. Moode Aini akhir-akhir ini bener-bener membingungkan, sangat sensitif....dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri.
...----------------------------------------------...
Al telpon bapaknya kembali, menyambung pembicaraan yang terputus.
"Pak, gimana emak sekarang? Al pengin ngomong sama Emak"
"Ini Al, ngomong sama emak"
"Mak, apa kabarnya?. Al kangen...."
"Emak baik-baik saja Nak"
__ADS_1
"Tapi suara emak beda, lemah emak makan ya. Emak pengin nengok Al kan?"
"Iya Al, emak makan. Emak semangat, gimana rumah tanggamu nak baik kan?"
"Iya Mak, kami baik-baik saja"
"Tapi ayahnya Mira ngancam bapak sama emak Al, mau merusak rumah tangga kalian. Mau mengambil kamu dari Aini"
"Mak, dengerin Al dulu. Anakmu ini bukan sebuah barang yang bisa diperebutkan begitu saja. Al juga tidak akan memilih antara Mira dan Aini. Karena Aini adalah istri Al, ibunya Aini. Jadi Al tidak akan mudah tergoda oleh wanita lain. Tolong doakan Al ya Mak, untuk dikuatkan iman Islamnya. Tanpa pertolongan Allah Al bukan apa-apa"
"Al, kalau suatu saat Mira menghubungi kamu, jangan sampai kamu lengah ya"
"ish .....si Emak. Mak percaya sama Al, anakmu ini anak yg Soleh. Mak tau betul siapa Al ini, Mak paham kehidupan Al baik sesudah menikah maupun belum."
"Iya Al, emak paham tapi tetap saja ada kehawatiran. Emak nggak bisa tidur jika membayangkan anak emak tergoda wanita lain dan kamu harus terpisah dengan Aini dan Alia"
"Ya Al, Mak mau makan. Alhamdulillah sudah tenang, ini ngomong sama bapak dulu"
"Al, bapak kalau kesitu pengin sambil jalan-jalan jadi naik bus saja ya. Perjalanan 3 hari tapi jadi pengalaman naik kapal juga"
"Pak, kasihan emak kalau jalur darat. Jalur udara saja biar nanti kami jemput dibandara"
"Doakan emak lekas sehat ya Al, Emakmu bandel.... keras kepala"
"Iya pak, mirip sama Aini" tertawa bersama.
Ditutupnya kembali handphone Al, dilihatnya Mak Dang sudah mengemas barang bawaan yang hendak dibawa Izal ke pengecer. Al mambantu membawa dan menaikan ke motor Izal.
__ADS_1
"Zal, hati-hati nggak usah ngebut" ucap Al sambil meletakan keranjang.
"Iya pak, lagian ini masih belum asar jadi tidak buru-buru. Pak untuk besok ditambah lagi buatnya, kamarin Izal dapat pelanggan 2 kedai lagi, sudah dikasih tester dan tadi mengabari ke hp admin kalau besok mulai minta dikirim"
HP admin khusus buat terima orderan, kritik dan saran untuk kemajuan usahanya. Karena Al nggak mau mencampur adukan urusan pribadi dengan kepentingan usaha.
"Siap Zal, perlu nambah tenaga nggak Zal?"
"Saat ini masih belum pak, tapi saya rasa bulan depan pak Al harus nambah minimal 3 orang, 2 buat bantu Mak Dang, satu nanti bareng saya pak"
"Siap Zal, siapa tau saudaramu ada yang mau kerja disini. Bantu cari dari sekarang Zal, ingat saya maunya yang kaya Mak Dang dan kamu, tutur kata dan perilaku sopan, pakaian juga sopan. Utamakan yang rajin ibadahnya kalau soal pintar nggak penting, yang penting patuh. Untuk yang posisi kaya kamu baru harus pintar"
"Baik pak, nanti saya sampaikan pada saudara dan teman siapa tau mereka berminat"
"Kamu tahu sendiri keadaannya, sampaikan sesuai keadaan. Jangan muluk-muluk ngasih taunya, nanti orangnya kaget. Nanti dikira kerja di perusahaan besar eh ternyata pembuat tempe" sambil tertawa
"Iya pak, nanti saya sampaikan sesuai keadaan." Zal sangat paham dengan pak Al, yang selalu rendah hati tapi optimis, serta berwibawa membuat orang segan dengan keberadaan Al.
"Baik pak, Zal berangkat dulu. Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussallam"
Al memandangi Zal yang semakin menjauh, bersyukur Allah pertemuan karyawan seperti Mak Dang dan Izal, rajin, ulet. Al selalu memberi bonus jika Zal mampu memasarkan melebihi target, itu yg membuat Zal betah kerja dengan keluarga Al selama 3 bulan ini. Perkembangan usaha Al cukup pesat, mengingat itu adalah Industri rumahan. Tapi dengan modal pengalaman Al dulu sewaktu menjadi petani dan dengan sistem dipasarkan sendiri jadi disini tidak mengalami banyak kesulitan. Petani pada umumnya panen masuk ke tengkulak baru ke pengecer, jadi biasanya banyak pengepul yang menekan harga kepada petani, yang dirugikan biasanya adalah petani namun dikelompok tani yang Al kelola mereka mengepul sendiri kemudian ada tim pemasar sendiri yang langsung ke pengecer, jadi bisa menjual dengan harga yg lebih bagus jika dibanding ketika menjual ke tengkulak. Bidang usaha apapun harus ada management yang baik, dan tercatat untuk menghindari besar pasak daripada tiang. Banyak sekali kasus terutama industri yang rumahan. Laris sekali dagangannya tapi karena tidak ada pencatatan jadi ketika pakai atau pengeluaran pun tidak terkontrol yang menjadikan modal habis. Dan akhirnya gulung tikar.
Dan pengalaman Al sewaktu jadi petani adalah tentang kepercayaan, Al lebih suka terjun langsung menangani tanaman itu yang membuat dirinya kecapekan, seharusnya hanya mengontrol kerja anak buahnya, harusnya percaya kalau anak buahnya mampu mengerjakan. Tidak perlu disesali, pengalaman adalah guru terbaik.
Al kembali masuk rumah, untuk menyiapkan bahan tungku baru persiapan besok yang nambah produksi.
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...