Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Menghadap Kepala Sekolah


__ADS_3

"Alhamdulillah mas, urusan dengan wali murid clear. Meskipun Ai tahu kalau mereka masih menyisakan kekecewaan, paling tidak Ai mampu mengalahkan ketakukan ini. Ai bener-bener takut mas" posisi Aini sedang membonceng Al. Al mengelus tangan istrinya yang sedang pegangan dipinggang untuk memberi kekuatan.


"Ada Allah yang selalu bersama kita Ai, Allah akan selalu memberikan kekuatan untuk kita. Setiap masalah yang kita hadapi Allah sudah menyiapkan solusinya. Yang terpenting selalu libatkan Allah"


"Mas, lanjut ke sekolah ya, tadi Bu Yuni mengabarkan kalau aku diperintahkan untuk menghadap kepala sekolah. Menunggu penjelasanku atas yang terjadi siang ini. Aku deng degan mas"


"Ceritakan sesuai kejadian, tidak boleh menutup sedikitpun. Biarkan kepala sekolah menilai langkahmu sudah tepat apa belum. Jika belum maka insyaallah masih ada kesempatan untuk memperbaiki'


"Iya mas, terimakasih atas dukungannya"


"Tapi kalau dari sudut pandang mas maka langkah kamu sudah tepat, menemui orang tua dulu. Jika berlarut bahaya urusannya. Seperti yang mas dengar tadi, orang tua berhak menuntut melalui jalur hukum jika tidak ada itikad baik dari guru untuk menjelaskan duduk permasalahannya. MasyaAllah kamu hebat Ai, mas bangga dengan langkah yang kamu ambil. Meski mas sangat tahu, butuh mental yang kuat menghadapi wali murid yang lagi tersulut emosi. Butuh jiwa yang tenang agar mampu berfikir dan tidak menambah emosi lawan bicara"


"Asli mas, aku takut banget aslinya. Mana lihat badan bapaknya Ridho macam itu. Tapi salut sama orang tua Ridho, beliau menginginkan anaknya Soleh dan beliau juga berusaha terus untuk memperbaiki diri katanya. Ibu Ridho sering cerita, kalau dunia bapaknya itu keras"


"Walau bagaimanapun setiap orang punya hati nurani Ai, tetep mempunyai sisi lembut, meski jarang ditampakkan" Aini manggut-manggut meski suaminya tidak lihat.


"Yakin kamu menghadap kepala sekolah sekarang, lihat sudah mulai sepi"


"Yakin mas, biasanya istrinya menunggu. Apalagi tau kalau aku dipanggil menghadap, jelas istrinya menemaniku. Nah betul kan, itu dia istri pak Kepala sekolah sudah menunggu. Mas tunggu Ai ya, InsyaAllah nggak lama" Aini turun dari motor, memberikan helm yang dikenakan kepada suaminya.


"Iya Ai, mas tunggu. Semangat.....Allah selalu bersama kita" Al memberi semangat, Aini mengangguk.


Istri kepala sekolah juga mengajar disini jadi sangat wajar jika Aini kenal. "Assalamualaikum Bu Aini"


"Wa'alaikumussallam Bu Hermi, saya sudah ditunggu lama ya. Maaf...."


"Nggak apa Bu Aini, ayahnya Ismail masih di kantor. Ayok bareng saya"


"Ayuk Bu Hermi...." mereka berjalan beriringan menuju kantor dengan kondisi hening, tidak ada satupun yang memulai perbincangan.

__ADS_1


Tok tok tok


"Masuk, siapa?"


"Aini pak"


"Silahkan duduk Bu Aini, mohon maaf jika saya memanggil yang harusnya bukan lagi jam kerja."


"Tidak masalah pak,"


"Saya mendengar dari beberapa teman, mereka mengatakan habis terjadi sesuatu dikelas Bu Aini, benar?" dengan tatapan mengintimidasi.


"Benar pak, ini saya baru pulang habis berkunjung ke orang tua dari Ridho. Kalau ke rumah Toriq belum, karena di catatan saya Toriq saat ini hanya tinggal bareng neneknya, ibu bapaknya merantau ke Jakarta"


"Maaf Bu Aini, kronologi kejadiannya seperti apa? dan mengapa Bu Aini mengambil langkah sendiri ke rumah Ridho"


"Begini pak, saya menjawab tentang langkah yang saya ambil dulu. Itu hanya naluri saya, yang entah datang darimana. Yang jelas saya menilai jika kita terlambat kerumah orang tua maka yang terjadi orang tua akan ngamuk diskolah, dan yang jelas nama SDIT kita terancam. Jadi saya memilih menjelaskan duduk permasalahannya kepada wali murid, dan meminta maaf terkait keteledoran saya pribadi dalam mengawasi anak-anak dikelas. Sudah menjadi tanggungjawab selaku wali kelas. Untuk mengabari bapak selaku kepala sekolah jelas nantinya akan memakan waktu, terbukti ketika saya sampai sana hal yang pertama kali saya dengar adalah makian mereka untuk saya dan berujung mau memindahkan ke sekolah lain. Tapi ketika saya datang pikiran orang tua berubah, karena mereka merasa pihak sekolah sangat menghargai keberadaan orang tua Ridho" Aini menarik nafas lalu menceritakan duduk permasalahannya yg terjadi di kelas. Kepala sekolah mengangguk-anggukkan kepala tanda memahami kejadian dan langkah yang diambil.


"Jadi mengingatkan interview dengan bapak kepala sekolah waktu itu. Dan kenyataannya langsung kejadian"


"Alhamdulillah saya puas dengan jawaban waktu itu, dan saya puas dengan langkah nyata yg Bu Aini ambil saat ini. Selamat Bu masa percobaan itu berlaku hanya 1 bulan, bulan besok ibu sudah dapat gaji full. Meski perjanjian awal 3 bulan, namun dari kejadian ini InsyaAllah kami dapat menyimpulkan kalau ibu sungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas"


"Terimakasih pak"


Bu Hermi yang terus berada disitu pun tersenyum mendengar penuturan Aini, guru baru namun tanpa canggung melangkah menyelesaikan persoalan dengan cepat. Tidak menunggu perintah atau anjuran dari atasan.


Hubungan antara guru dan walimurid termasuk sensitif apalagi berkaitan dengan kenakalan yang dilakukan siswa terkait main tangan. Yang dibutuhkan adalah komunikasi.


"Jika begitu, Bu Aini sudah boleh pulang. Terimakasih atas tindakan nyata Bu Aini. Semoga kedepannya tidak ada lagi kasus serupa. Salam buat suami ya Bu"

__ADS_1


"Terimakasih, saya permisi pak , Bu, assalamualaikum"


"Wa'alaikumussallam" Aini berjalan dengan penuh semangat serta wajah berseri-seri, Al memandang heran dengan sikap istrinya.


"Ayok pulang mas, nggak usah pakai helm ya nggak ke jalan raya kan...gerah lagian cuma sebentar"


"Fungsi helm apa sih Ai menurutmu, apa hanya ketika ke jalan raya? fungsi helm itu untuk keselamatan, jauh dekat, jalan desa jalan kota tetap butuh"


"iya iya.....sini" meraih helm dari tangan suaminya.


"Langsung pulang Ai?"


"Iya mas, capek banget langsung pulang saja. Pengin mandi, rebahan aaah enaknya"


"Hmmm.......iya iya sayangnya mas"


"Ai, sudah lega sekarang?"


"Sudah mas, tinggal cari orang buat bantuin kerjaan mas. Ai nggak mau kelamaan, mas kecapekan nanti nggak bisa jalan lagi"


"Nggak apa Ai, mas mending capek kerja daripada capek menganggur, sama2 capek bedanya kalau kerja dapat pahala dapat duit makin disayang istri"


"Mas bisa saja"


"Tapi awas saja, kalau sudah sukses jangan lupakan Aku. Nanti ketika sukses malah poligami" Aini sewot


"Ngarang kamu Ai, kamu yang mancing-mancing sendiri ujung-ujungnya marah-marah sama mas"


"Eh banyak mas yang seperti itu, giliran sukses melupakan istri yang ikut berjuang,"

__ADS_1


"Ai, ingat apa yang kita ucapkan merupakan sebuah doa. Ucapkan yang baik-baik", "Ups....."


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2