Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Perlakuan Ibu Sambung


__ADS_3

Sandra yang sedang tanggung dengan pekerjaannya mengacuhkan ucapan Fathan dan masih terus melanjutkan aktivitas memasaknya. Beberapa menit kemudian terdengar tangisan histeris Reza dari arah depan.


"Bu, Adek Reza jatuh terpeleset nginjek ompolnya sendiri, tuh, kasihan," ucap Fathan mencoba memberitahu Sandra yang masih anteng di dapur.


Dengan berdecak kesal Sandra menghampiri Reza yang sedang terduduk di lantai dipenuhi genangan air barbau pesing yang seketika membuat darah wanita itu mendadak naik.


"Sudah beberapa kali Ibu bilang, kalau mau pup, mau pipis itu bilang, Reza!" hardiknya dengan suara melengking tinggi, menggema memenuhi ruangan membuat kedua anak sambungnya itu merasa ketakutan. Wanita berdaster itu pun mendaratkan cubitan dan pukulan ke arah paha Reza yang membuat balita itu semakin menjerit histeris sambil mengaduh menahan sakit.


"Sakit, Bu, ampun, Bu .... " Reza yang sudah berusia 3 tahun itu terus merintih pilu.


"Kalau gak mau sakit, makanya bilang kalau sudah kerasa mau pup dan mau pipis," bentak Sandra masih dengan suara tinggi.


Fathan pun tak luput dari bentakkan Sandra. Menyuruh anak berusia 7 tahun itu untuk mengepel bekas ompol adiknya yang tadi menggenang dan berceran di lantai keramik. Dengan tergopoh anak laki-laki itu mengambil alat pel beserta ember yang sebelumnya sudah diisi air untuk membersihkan air kencing di ruang tengah. Walaupun Ia merasa kesusahan saat menyeret ember yang terasa berat untuk anak seusianya, Tapi, Fathan berusaha menguatkan diri demi tak lagi menerima bentakan dan kemarahan dari ibu sambungnya itu.


Di dalam kamar mandi Sandra menarik kasar celana yang sudah dipenuhi kotoran berbau tak sedap yang masih dipakai Reza. Sehingga hampir membuat anak balita itu terpeleset, jika saja tangan mungilnya tak langsung memegang erat baju yang dipakai Sandra.


Sandra yang sudah diliputi emosi terus mengguyurkan air beberapa gayung tanpa jeda ke atas kepala bocah malang itu. Hingga Reza terlihat megap-megap merasa kesusahan untuk bernapas.


"Masih mau ngompol dan pup di celana? Nih, aku guyur lagi!" ucap Sandra tanpa ampun.


"Udah, Bu ... Dingin." Reza memelas di sela-sela tangisnya.


"Kalau gak mau kedinginan, ya, bilang kalau mau pup. Jangan nunggu keluar di celana seperti ini. Aku ini masih banyak pekerjaan yang lain, bukan hanya mengurus kalian berdua saja." Sandra terus berbicara seperti sedang ngomong dengan orang yang sudah dewasa.


Yang padahal, kakak beradik itu belum bisa mencerna dengan semua yang diungkapkan oleh ibu sambungnya barusan. Mereka anak kecil hanya bisa menangkap jika dirinya sedang dimarahi dan dihukum atas kesalahan yang lumrah dilakukan oleh anak seusianya.

__ADS_1


***


Satu hari setelah menghalalkan Dhena. Azzam pun meminta izin kepada Kahfi untuk membawa Dhena ke rumahnya sendiri.


"Aku titip Dhena sama kamu, Zam. Aku yakin kalau kamu bisa menjaga dan membuat Dhena menemukan kebahagiaannya yang sempat hilang," ungkap Kahfi sambil menepuk-nepuk bahu Azzam sebelum keberangkatannya.


"Insya Allah, Fi. Amanahmu akan selalu aku ingat sampai kapan pun," jawab Azzam tersenyum lebar meyakinkan sahabat karibnya itu. Kemudian mereka berjabat tangan dan berpelukan dengan hangat.


Dhena pun mencium punggung tangan sang kakak dan Shofia sebagai tanda perpisahan. Walaupun sebenarnya mereka masih bisa bertemu kapan saja karena jaraknya yang tak terlalu begitu jauh.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam setengah dengan menggunakan kendaraan roda empat milik Azzam. Kini Dhena sudah berdiri di depan rumah mewah minimalis yang begitu terasa asing untuk Dhena.


"Ayo, kita langsung masuk saja," ajak Azzam sembari menggandeng pundak perempuan yang baru dinikahinya itu.


Azzam membawa koper berukuran besar yang berisi pakaian Dhena menuju kamar utama yang akan diisi oleh mereka berdua.


Sedangkan Dhena masih mematung. Menyapukan pandangan ke segala arah dan setiap sudut ruangan yang terlihat begitu sangat asing dalam penglihatannya. Azzam membiarkan sang istri meneliti dan mengenali tempat barunya itu.


Beberapa waktu sebelum Azzam mengucap ijab kobul. Saat mengisi waktu istirahat di tempat kerja Kahfi sudah menceritakan semua yang sudah dialami oleh Dhena hingga adik perempuannya itu mengalami gangguan kejiwaan yang sangat memperihatinkan. Karena memang Dhena sejak dulu pernah mengalami riwayat bipolar yang selalu mengganggu mentalnya ketika dihadapkan dengan sesuatu kejadian yang membuatnya sangat tertekan dan terpuruk.


Mendengar semua penuturan secara gamblang dari Kahfi, hati kecil Azzam merasa begitu sangat terenyuh. Apalagi ketika ia pertama kali dipertemukan dan menatap wajah Dhena pria itu merasa ada yang bergetar halus di dalam dadanya.


Ingatannya pun kembali ke masa ia sebelum bekerja dengan Kahfi. Dulu Azzam yang sudah hampir berputus asa karena sudah melamar kerja ke sana ke mari tapi, tak kunjung juga diterima. Hingga datang Kahfi mengulurkan bantuan dengan cara menawari Azzam untuk mencoba mengirimkan surat lamaran kerja ke tempat Kahfi bekerja.


Bagi Azzam, Kahfi merupakan malaikat penolong untuknya. Sehingga ia merasa berhutang budi kepada rekan kerjanya itu.

__ADS_1


"Mas, aku mau ke kamar mandi dulu, di mana?" Pertanyaan dari Dhena seketika membuyarkan lamunan Azzam.


"Kamar mandi? Owh, iya, ada di bagian belakang sini." Azzam membawa sang istri berjalan ke arah belakang menunjukkan letak kamar mandi yang berada di rumahnya itu.


"Kalau kamu butuh apa-apa, bilang saja sama aku, ya, Dhen. Gak usah sungkan," tutur Azzam khawatir Dhena masih merasa canggung dan segan kepada dirinya. Mengingat sikap wanita itu masih terlihat menjaga jarak dengan dirinya walaupun sudah berstatus menjadi suami.


Dhena telah keluar dari kamar mandi dan mendapati Azzam sedang duduk di sofa sambil menyaksikan acara televisi.


"Kalau mau istirahat, bisa langsung ke kamar saja tiduran di sana," saran Azzam ketika melihat istrinya berjalan ke arahnya.


Dhena hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Azzam kemudian mengantar Dhena menuju kamar mereka.


"Mas, kamu tinggal bareng siapa di sini?" tanya Dhena penasaran. Karena dari awal kedatangannya tadi belum ada satu orang pun yang ditemuinya selain suaminya sendiri di dalam rumah itu.


"Sama kamu."


"Sebelum kita menikah?" selidik Dhena.


Kini Dhena sudah bisa berkomunikasi secara normal kembali. Setelah ia melewati beberapa kali terapi dan bolak-balik mendatangi dokter psikologis yang dipilihkan oleh Kahfi. Ingatannya pun berangsur menjadi pulih kembali dan bisa berkonsentrasi normal berkat perawatan dan ketelatenan Kahfi dan Shofia yang terus membantunya mengulurkan tangan berusaha menarik Dhena dalam kubangan keterpurukkan.


"Sendirian." Azzam menjawab pendek.


Lalu Azzam mengajak Dhena ke meja makan untuk mengisi perut terlebih dulu yang sudah terasa melilit. Pria itu tadi sudah memesan beberapa jenis makanan melalui apliksi goofood.


"Aku sedang tak berselara makan, Mas, jika sedang teringat kedua anakku," tolak Dhena dan memutar tubuh kembali berjalan ke arah kamar.

__ADS_1


__ADS_2