
"Langsung kesana saja, mobil seperti itu banyak kan? Nggak hanya satu," jawab Aini menggandeng adiknya.
"Kenapa mereka disini, Mas?" tanya Lina.
"Masuk saja, kita pulang dan bicarakan dirumah," Al mengajak adik dan istrinya pulang.
Sampai dirumah Lina dan Aini langsung masuk rumah untuk sholat Dzuhur setelah mempersilahkan tamunya masuk. Al menemui karyawan di belakang mengecek beberapa berkas. Dalam waktu satu bulan ini usahanya semakin pesat, dia sudah tambah menyewa lahan kosong belakang pekarangan Pak Agus pemilik rumah yang ditempati sekarang ini.
"Lin, ikut ke depan temui tamu kita," ucap Aini.
"Padahal aku pengin tidur, Mba. Kenapa mesti datang tamu tak di undang,"
"He ... mana boleh seperti itu. Ketika ada tamu itu adalah ladang pahala, kita harus menghidangkan sesuatu yang istimewa,"
"Mba, iya kalau tamunya bisa menghargai orang lain. Dia jelas-jelas bikin rumit urusan orang lain. Heran nggak ada kapoknya mengusik kehidupan orang lain,"
"Jangan berprasangka buruk dulu, bisa jadi dia sudah tak seperti itu,"
"Mba, aku disini belum lama. Baru dua bulan, jadi masih terekam dengan jelas siapa dia, dan tingkah seperti apa saja yang di lakukan dia. Mba Aini karena belum mengenalnya jadi ngomong seperti itu, selama ini Mba Aini belum pernah ketemu sebelumnya kan?"
"Pernah, dulu sekali jauh sebelum Mba menikah dengan Mas Al. Sempat pangling tadi, penampilan sangat jauh berbeda dengan dia yang dulu, ayo kelamaan menunggu kasian,"
"Mba, jangan biarkan Mas Al menemui. Aku nggak suka,"
"Adikku Sayang, InsyaAllah Mba akan bertindak jika dia macam-macam. Bukankah kamu sudah tau siapa kakak iparmu ini?"
"Sip, aku suka gaya kakakku yang seperti ini. Ayo segera kita temui,"
"Ingat, Lina. Jaga sikap kita tetap cantik dan elegan,"
"Sekarang aku sudah tau, darimana Mas Al dapat kata-kata 'cantik dan elegan' ternyata dari istrinya,"
"Memangnya kapan dia bilang begitu?"
"Tadi pagi, saat memberiku nasihat," jawab Lina sambil terbahak. Lina menggandeng tangan kakaknya menemui tamunya.
"Maaf, Mba Mira lama menunggu. Kami belum sholat tadi," ucapku.
"Nggak apa, Lin. Kamu sejak kapan ikut Mas Al?"
"Hem ... " merasa tidak disapa Aini berdehem. Aini heran sebenarnya dia mau menemui siapa?
__ADS_1
"Mba Mira, kenalkan ini Kakak iparku Mba Aini, istri dari kakakku Mas Al,"
"Sudah pernah lihat dulu, waktu dia masih kecil," ucap Mira.
"Alhamdulillah jika masih mengingat, jarak umur kita terpaut nggak begitu jauh, paling 3 tahun. Dulu pernah liat, hanya saja belum jadi nyonya Al ya Mba?" ujar Aini menekan kata nyonya. Aini tau Mira ada di masa lalu kehidupan Al, meski Al sendiri tidak merasa karena memang tak pernah menyetujui.
"Lin, Mak Ipeh kemana kok belum keluar? Mba Mira mau minum apa?" dia mulai menunjukkan kalau dialah sang pemilik rumah.
"Jika ada lemon tea boleh, untuk menjaga tubuh agar tetap bugar," pinta Mira.
Tak perlu buang tenaga Aini langsung menelpon Mak Ipeh.
"Mak, tolong buatkan lemon tea 2, air putih hangat 2, Mak. Terimakasih," pinta Aini dan kemudian tersenyum.
"Mas, bukannya kamu kakak dari temanku Fikri?"
"Lah dari tadi aku juga lagi memperhatikan kamu, rasanya sering lihat kamu tadi dimana? Ternyata benar Aini temannya Fikri,"
"Kuah banget, Mas. Jalannya nyampai sini?"
"Namanya juga demi cuan, ya selagi halal akan aku jalani,"
"Fikri apa kabarnya, Mas?"
"Aini, aku panggil Aini saja ya, karena aku lebih tua dari kamu,"
"Enaknya Mba Mira saja. Terserah mau panggil apa,"
"Aini, aku mau ketemu Mas Al. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan,"
"Mba Mira, Mas Al itu sangat sibuk tak ada waktu buat bicara jika bukan menyangkut bisnisnya," sergah Lina.
"Ini ada kaitannya, aku mau menawarkan menanam modal untuk usahanya," ucap Mira seperti memohon.
Mak Ipeh datang dengan nampan berisi minuman pesanan dari Aini.
"Terimakasih ya, Mak. Tolong panggilkan Mas Al, Mak,"
"Baik, Mba," Mak Ipeh masuk kembali ke rumah. Tak lama kemudian datanglah Mas Al.
"Maaf ya, Mas. Masih sibuk dengan anak-anak di belakang tadi," Al menyapa Mas Fitra. Meskipun tidak kenal namun tak ada salahnya saling menyapa.
__ADS_1
"Kenapa, Sayang. Kenapa Mas dipanggil?" Al duduk disamping istrinya dan menatap istrinya dengan sayang. Diraihnya tangan istrinya secara reflek, sudah menjadi kebiasaan dia jika duduk berdekatan tangan istrinya buat mainan.
"Mas, malu. Ada tamu, tangannya,"
"Eh ... kebablasan,"
"Mas Al itu kebiasaan, bukan kebablasan. Bucin akut!" ucap Lina sewot.
"Kamu juga bakalan iya, lihat saja nanti," ucap Aini.
"Hem ... maaf Mas Al, aku datang kemari karena mendengar Mas Al membuka usaha baru, biasanya ketika usaha baru butuh suplay dana. Aku menawarkan kerja sama untuk mendanai usaha Mas Al," Mira menjelaskan, Mira sangat berharap bisa bekerja sama agar bisa menebus rasa bersalahnya karena dulu sempat berfikir mau merusak rumah tangganya.
"Kenapa nggak kamu tangani, Sayang? Bukankah urusan seperti ini sudah mas serahkan ke kamu,"
"Dia maunya ketemu Mas Al langsung!" ucap Lina sewot.
"Sayang, kamu yang jawab ya," ucap Mas Al memerintah. Aini mengangguk meski Mira terlihat kurang suka namun Al mengabaikan. Sengaja seperti itu untuk menunjukkan bahwa tak ada celah untuk wanita lain hadir dalam hidupnya.
"Jadi begini, Mba. Usaha kami memang baru di mulai ibaratnya. Berjalan baru seumur jagung, baru setahun berjalan. Namun kami punya tekad modal yang di gunakan bukan berasal dari hutang, kami memilih bersabar dengan usaha kami kecil terlebih dahulu, biar nggak pusing dengan sistem bagi hasil, perbedaan pendapat dalam mengelola, dll. Jadi mohon maaf, tidak mengapa usaha kami masih kecil asal tidak berhutang. Jadi mohon maaf, bukan maksud kami menolak niat baik Mba Aini, sekali lagi mohon maaf,"
"Mas, aku bermaksud minta maaf mengenai kejadian di rumah Emak waktu itu, aku sudah menyesal, dengan membantu usaha Mas Al jadi beban bersalahku sedikit terobati"
"Nggak ada yang perlu dibicarakan kalau masalah sudah berlalu, meskipun hal itu memicu rumah tangga kami goyah saat itu. Tapi hikmah setelah kejadian itu justru membuat hubungan kami semakin erat, jadi tak masalah. Yang terpenting sebagai wanita memang harus pandai menempatkan diri agar banyak yang menghormati, kami sudah memaafkan," jawab Al. Tampak Fitra terlihat bingung.
"Mas Fitra, diminum nanti nggak seger lagi kalau di anggurin terus,"
"Kamu mengenalnya, Sayang?"
"Mas Fitra ini, kakak dari temanku Fikri,"
"Ooh .... ya ... ya ... ya,"
"Rencana mau langsung pulang, apa ke rumah adik dulu ini, Mas?"
"Aku lagi kerja jadi nurut kemanapun majikan pergi, Mas,"
"Kalau boleh, kami bermaksud menginap disini. Aku dengar Emak disini, kok nggak kelihatan?"
"Emak lagi di tempat saudara, Mba. Masih betah nginap disana," Aini menjelaskan.
"Gimana, boleh kami menginap disini?" tanya Mira lagi. Aini mau menjawab, namun keburu di stop Lina, Lina yang mengambil alih untuk berbicara.
__ADS_1
"Boleh kami menginap disini kan? Rumahnya besar, jelas kamarnya banyak," ucap Mira sambil tertawa