
Mereka tak lagi memperdulikan teriakan Virna, bagi Izal rasa kemanusiaan sudah cukup setelah kedatangan sahabatnya sebagai calon Virna, dialah yang laki-laki selingkuhan Virna. Alasannya karena Izal nggak mau disentuh padahal sudah jelas-jelas tunangan. Sementara kebutuhan kasih sayang dari Ferdi selalu dipenuhi, dia selalu menemani kemanapun dan kapanpun Virna mau, tengah malam sekalipun. Sementara cara mencintai seorang Izal adalah menjaga kesucian wanita yang dicintainya sebelum ikatan pernikahan. Biasanya hanya jalan-jalan sebatas bergandengan tangan tanpa berciuman. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran rumah sakit, tak ada obrolan suasana begitu canggung hingga sampai di parkiran.
"Bu, Izal ikut mobil Mas Al. Ada yang perlu Izal jelaskan pada calon istriku," pamit Izal.
"Zal, pulanglah dulu. Kamu butuh istirahat, bisa datang ke rumah setelah kamu istirahat," ucap Al.
"Nggak bisa, Mas. Aku nggak mau menunda penjelasannya,"
"Bang, pulanglah dulu. Aku juga butuh istirahat, aku rasa kasihan Bapak juga, tadi malam kita semua tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Pulanglah sama Bapak dan Ibu!" kalimat Lina sangat tegas.
"Tapi, Lin. Abang nggak tenang melihatmu seperti itu, cara kamu melihat Abang sangat berbeda dengan kemarin-kemarin,"
"Nggak apa jika Abang maksa mau ikut kami, palingan juga nggak bakalan ngobrol, aku ngantuk," ucap Lina langsung masuk mobil kakaknya.
Orang tua Izal sangat paham dengan sikap Lina, menanti kabar semalaman mengenai calon suaminya yang sedang berduaan dengan mantan. Tentu bukan perkara yang mudah untuk bisa berfikir jernih. Orang tua Izal bisa melihat bagaimana wajah lelah calon menantunya.
"Pulanglah, Zal. Mereka butuh istirahat, lagian bagaimana kamu kesana dalam kondisi berantakan seperti itu, apa kata teman-temanmu nanti?" bujuk Ibunya.
Izal berfikir benar yang di katakan mereka, dia berpamitan kepada Al. Izal akan kerumah sore nanti untuk menceritakan kejadian semalam. Izal menyusul ibunya masuk mobil Bapak, sementara Al menyusul adik dan istrinya yang sudah terlebih dahulu masuk mobil.
"Lin, makan yang pedas-pedas yuk, kayaknya enak ya, Lin,"
"Ngawur, Ai. Lina lambungnya belum sanggup. Jangan mulai deh!"
"Nggak apa kali, Mas. Lina setuju, Mba!" ucap Lina girang.
"Nggak boleh, aku nggak mau dapat marah dari Om, nggak bisa menjaga adik sendiri,"
"Tapi boleh ya, beli pempek di tempat biasa. Dimakan dirumah, buat aku, Mas. Bukan buat Lina,"
"Boleh, Lina mau beli apa?"
"Aku, mau kaya Mba Aini,"
"Itu, asam dan pedas, Lin,"
"Dikit saja, Mas. Buat menambah stamina, ngantuk banget asli,"
"Obat ngantuk itu, tidur!" jawab Al.
__ADS_1
"Mas, ini aku mau tidur. Bawa aku baik-baik, jangan ikutan ngantuk ya, Mas," goda Lina.
Tak lama setelah berdebat sudah tak terdengar lagi suara adiknya, menandakan benar-benar tidur.
"Mas, aku nggak nyangka sama kelakuan Lina tadi, performa bagus banget. Aku yakin Virna sangat marah sama Lina dengan membuka kedok dia dihadapan Bapak Ibu Izal, aku takut, Mas,"
"Nggak perlu takut, Ai. Di atas langit masih ada langit, mungkin kita hanya pendatang, tapi selama ini kita tak punya niat menyakiti siapapun. Terlepas apa yang di lakukan Lina juga karena ulah Virna, bukan Lina duluan yang memulai, dan Mas yakin kalau Izal tidak akan tinggal diam melihat gelagat Virna saat ini,"
"Dan perlu kamu tau, Ai. Kemampuan bela diri Lina sangat bagus, imbang sama kemampuan suamimu ini," lanjut Al menjelaskan.
"Aku tau, Mas. Tapi bagaimanapun Lina seorang wanita, punya sisi lemah tersendiri, seperti itu juga denganku,"
"Memang ada ya sisi lemah kamu sama Lina, Mas merasa kalian sosok wanita berbeda dari wanita pada umumnya,"
"Sisi lemah seorang wanita adalah ketika disakiti pasangan, Mas. Wanita di karuniai perasaan peka luar biasa. Hatinya mudah rapuh apabila cemburu. Hingga sedetikpun tidak dapat menyembunyikan rasa cemburu yang bergejolak di dalam hati nya,"
"Ya ... Mas paham kenapa waktu Bapak telpon membicarakan tentang Mira kamu langsung marah,"
"Nah tuh kan, nggak peka. Baru paham sekarang?"
"Ai, laki-laki dan perempuan itu di ciptakan oleh Allah untuk saling melengkapi, itu artinya nggak harus sama pemikiran kan? Yang terpenting kita harus bisa saling menerima kekurangan pasangan masing-masing,"
"Ai ... jangan mancing-mancing, ujung-ujungnya kamu bakalan ngambek kalau bahas ginian. Jelas-jelas Mas nggak punya mantan, begitu lihat foto jadul yang ada gambar Mas dan disampingnya perempuan saja kamu langsung marah, iya kan?"jawab suaminya.
"Mas, itu memang sisi lemah aku. Ya jelas marah lah,"
"Tapi ... foto itu jauh sebelum aku mengenalmu,"
"Mas, kalau yang itu aku bukan marah. Aku hanya bertanya, tapi jawabannya nggak memuaskan, jadinya sebel kan?"
"Iya saja lah. Toh Mas harus mengalah kalau sudah seperti ini. Daripada harus kehilangan jatahku malam ini,"
"Mulai deh, ingat di belakang ada Lina,"
"Dia tidur, Sayang,"
"Aku mendengarnya, Mas," Lina terbangun mendengar perdebatan mereka.
"Suami istri tapi kerjaannya berdebat terus, kapan akurnya,"
__ADS_1
"Akurnya itu ya seperti ini. Justru Mas itu paling takut kalau Aini lagi diam,"
"Yang membuat aku diam siapa coba?"
"Kapan sampainya kalau jalannya gini, Mas? Aku pengin rebahan, bentar lagi sholat Dzuhur. Makan dulu yuk, mumpung keluar bareng gini," ajak Aini.
"Aku pengin coba Mie Aceh, Mas," sambut Lina dengan berbinar.
"Kenapa judulnya mesti pedas, Lin?"
"Memang makanan khas Melayu bukannya pedas, beda dengan makanan khas kita cendrung manis, aku sudah sedia pereda panas dalamnya, Mas,"
"Nanti awasi jangan sampai kebanyakan makan pedas ya, Sayang,"
"Iya, Mas. Lagian dia itu bukan anak kecil lagi, jadi sudah bisa menjaga diri. Bentar lagi juga bakalan nikah dia, artinya sudah dewasa," ucap Aini sewot. Suaminya memang sangat protektif terhadap keluarganya.
"Mas, ini Izal telpon,"
"Angkat saja," titah Al Ghazali.
"Lina, kamu dimana?" tanya Izal dari sebrang.
"Aku masih di jalan, Bang. Kenapa?"
"Boleh ketemu kamu sekarang?"
"Ya Allah, Bang. Aku saja belum sampai rumah, kami mau makan dulu pengin nyobain Mie Aceh yang dekat rumah ini,"
"Ya udah, nanti sore aku kesana sama Bapak Ibu, mereka kangen sama kamu,"
"Alhamdulillah ada juga yang kangen daripada nggak ada sama sekali,"
"He ... Abang juga kangen, Sayang," andai tidak ada kejadian tadi malam dia bakalan berbunga-bunga, tapi rasanya dia masih belum siap terluka lagi. Meski bukan unsur sengaja, tapi belum terima. Harusnya Izal peka, Virna hanya pura-pura. Banyak pertanyaan berkeliaran di kepala Lina.
"Kok diam,"
"Aku merasa kalimat itu belum cocok untuk disematkan kepadaku, sementara kamu ... sudahlah. Aku mau turun, makan. Membongkar kedok orang yang pura-pura gi*la itu menguras tenaga," ucap Lina ketus.
"Kenapa nggak pantas? Apa yang salah denganku?" ucap Izal memelas.
__ADS_1
Tut ....