Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Kekecewaan Sebagai Wanita Kedua


__ADS_3

"Tapi, Nel, please untuk kali ini kita harus bisa menjaga perasaan Dhena. Dia itu baru saja melahirkan. Perasaannya sangat sensitif. Jangan sampai karena kehadiranmu malah memperburuk keadaan." Hariz terus berusaha memberi pengertian kepada Nelly.


Sorot mata Hariz menyiratkan kekhawatiran yang tinggi jika Dhena sampai tahu keberadaan adik madunya yang kini sudah berdiri di teras rumah.


"Mas, selama ini kamu selalu bisa untuk berusaha menjaga perasaan Mbak Dhena. Tapi, kenapa kamu tidak pernah mengusahakan agar bisa menjaga perasaanku? Dengar, ya, Mas Hariz! Aku ini juga istrimu yang seharusnya mendapatkan hal yang sama dari kamu." Nelly mulai mengeluarkan suara tinggi merasa dirinya selalu dinomor duakan oleh sang suami.


"Bukannya kamu sendiri yang pernah bilang, kalau kamu ikhlas dan ridho jika tidak mendapatkan hal yang sama dengan Dhena?" Hariz mencoba mengingatkan apa yang pernah diungkapkan oleh istri keduanya itu.


Emosi Nelly seketika memuncak mendengar ucapan Hariz barusan yang seolah sengaja untuk memojokkan dirinya. Padahal, harapan Nelly dulu ketika ia berbicara seperti itu berharap mendapat rasa simpati dari Hariz. Sehingga Hariz bisa lebih peka dengan keadaan wanita keduanya itu. Tapi, yang Nelly rasa Hariz masih tetap selalu menomor satukan istri pertamanya.


"Baik, Mas. Aku akan pulang sekarang! Agar kamu tak terbebani dengan kehadiranku di sini." Nelly berbicara penuh penekanan. Meredam rasa kecewa yang menyesakkan bagian dadanya. Kemudian wanita berwajah ayu itu membalikkan badan dan melangkahkan kaki ke arah pintu kendaraannya.


Kado berukuran jumbo yang tadi niatnya hendak diberikan kepada kakak madunya, dibawanya kembali dan dilempar begitu saja ke bagian jok belakang. Tanpa berbasa-basi ia langsung menyalakan mesin dan tancap gas meninggalkan Hariz yang masih mematung hingga mobil yang dikendarai Nelly lenyap di tikungan gang.


Pria berhidung mancung itu kemudian menghela napas panjang. Menghalau rasa penat dalam pikirannya yang selalu dihadapkan dengan rumitnya keadaan rumah tangga yang kini sedang ia jalani. Jika saja ia dulu bisa menjaga diri dan tidak membiarkan Nelly terus memberikan bantuan materinya mungkin laki-laki itu tak akan terjebak dengan pernikahan kedua yang membuat dirinya sendiri merasa terbebani karena tidak bisa menjalankannya dengan sebaik dan semaksimal seperti lelaki yang kebetulan bernasib sama dengannya. Yaitu diberi kesempatan untuk memilik dua istri dalam kehidupan rumah tangganya.

__ADS_1


Hariz kemudian kembali memasuki rumah kemudian duduk di ruang tengah. Untuk mengusir semua beban yang ada dalam pikirannya laki-laki beranak dua itu pun mulai menyalakan televisi dan memilih Chanel tayangan pengajian yang kerap kali ia ikuti di salah satu stasiun TV swasta langganannya.


Sedangkan Dhena berusaha bersikap biasa seolah ia tidak mengetahui dan mendengar pembicaraan antara sang suami dan adik madunya tadi. Padahal, tanpa sepengetahuan Hariz Dhena sudah menguping dan melihat bagaimana usaha Hariz untuk menjaga perasaannya agar tidak terus merasa terluka dengan kehadiran wanita kedua suaminya.


Jauh di lubuk hati Dhena ia menyerukan rasa syukur karena Hariz ternyata masih ada usaha untuk menjaga perasaannya. Niatnya semakin kuat untuk terus berusaha mencintai dan menerima keadaan sang suami dengan segala apa yang ada pada diri lelakinya itu.


Dhena kini memilih menyibukkan diri dengan tumpukkan setrikaan di hadapannya dengan ditemani lantuntan sya'ir lagu berbahasa arab yang sesuai dengan isi hatinya saat ini.


***


"Mas, kamu mau kemana? Jam segini sudah rapi? Apa Mas mau ke rumah Nelly?" tanya Dhena hati-hati.


"Mas mau pergi ke tempat yang dulu Mas sering datangi seminggu sekali." Hariz menjawab pertanyaan sang istri.


"Bener berarti Mas mau ke rumah istri keduamu, kan, Mas?" Dhena terus menyelidik.

__ADS_1


"Mas mau pergi ke tempat ngaji. Yang sudah lama Mas tinggalkan beberapa tahun terakhir ini. Gak apa-apa, kan, Mas paling sampai rumah ba'da Maghrib," jawab Hariz sekaligus berpamitan.


Hati Dhena merasa bahagia tatkala mendengar niat baik sang suami. secercah harapan terbersit dalam hati wanita itu berharap suaminya itu mendapat pencerahan tentang arti sesungguhnya apa itu poligami yang sesuai dengan anjuran agama.


Dhena mengantar Hariz hingga teras depan sembari menggendong bayinya dalam dekapan. Sedangkan Fathan, sedang asyik dengan permainan lego di depan televisi yang kondisinya sudah seperti kapal pecah karena semua barang miliknya diturunkan dan berserak memenuhi lantai ruangan.


Hampir tiga puluh lima menit Hariz baru sampai di tempat tujuannya. Laki-laki itu memilih tempat parkir yang terlihat masih rada kosong dan longgar, karena hampir semua tempat parkir terdekat sudah dipenuhi oleh kendaraan yang didominasi roda dua. Walaupun ada satu dua juga kendaraan roda empat yang terlihat terparkir di sana.


Hariz mulai membaur dengan jama'ah sesama laki-laki yang sudah duduk berdesakkan di tempat yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Karena tempat pengajian itu memang masih menumpang di tempat salah satu kediaman warga yang rumahnya direlakan untuk dijadikan sebagai majelis ta'lim yang menampung ratusan jama'ah dari berbagai kecamatan dan desa-desa sekitar baik yang jaraknya dekat maupun dari jauh seperti halnya Hariz yang harus menempuh perjalanan cukup membuat punggungnya pegal karena terlalu lama duduk di jok motor.


Duduk bersila di tempat yang kini sedang ia hadiri pikirannya tak sengaja mengingat kembali ketika ia dulu waktu pertama kali hendak berniat meminang Dhena, istri pertamanya. Dulu ia sempat berpikiran jika saja lamarannya tidak diterima atau ditolak oleh keluarga Dhena. Hariz berniat akan mencari jodoh di tempat ngajinya itu. Karena panitia pengajian yang ia ikuti ada panitia yang memang bertugas membantu mencarikan jodoh bagi semua jama'ah yang masih berstatus single baik itu laki-laki atau perempuan. Dengan cara mengisi satu kertas berupa formulir dan menyerahkan foto masing-masing sebagai pelengkap untuk memudahkan panita dalam proses membantu mencarikan jodoh.


Qodarullah, saat itu pinangannya langsung diterima oleh keluarga Dhena hingga ia tak perlu lagi untuk meminta tolong dicarikan calon pendamping hidup kepada panitia di tempat ia mengikuti pengajian itu.


"Mas Hariz, ya, kemana saja baru kelihatan?" tanya seorang bapak berkopeah hitam menyapa Hariz yang sedang duduk bersila persis di samping bapak yang sudah terlihat sepuh.

__ADS_1


"Iya, Pak, ma'af selama ini saya terlalu menyibukkan diri dengan kehidupan pribadi hingga melupakan kewajiban untuk terus menuntut ilmu agama," jawab Hariz menyesali diri. Kemudian mereka berdua terlihat terlibat obrolan yang begitu serius hingga percakapannya harus terjeda ketika mulai terdengar dari pengeras suara jika kajian sore itu akan dimulai oleh salah satu ustaz yang memang sudah ditugaskan untuk menyampaikan materi kajian. Yang entah suatu kebetulan atau tidak tema kajian yang sedang Hariz ikuti itu mengangkat tema tentang poligami.


__ADS_2