
Dalam pikirannya itu Dhena hanya bisa menerka-nerka sendiri. Mungkinkah kepergian Hariz siang tadi ke rumah ibunya itu ada kaitan dan hubungannya dengan semua yang sudah Bu Aida katakan belakangan hari kepada dirinya?
Dari dulu yang membuat Dhena merasa takut dan begitu khawatir yaitu ditinggal pergi dan harus berpisah dengan Hariz, suaminya. Olah karena itu beberapa waktu yang lalu ia memilih hidup bertahan dengan hati yang terkoyak ketika Nelly harus hadir dalam kehidupan rumah tangganya, dibanding harus pergi meninggalkan Hariz. Itu semua karena Dhena tak bisa menutupi dan membohongi perasaannya jika ia tak mampu meniti jalan hidup seorang diri dan tanpa ada sosok laki-laki yang selama ini sudah membuatnya terlanjur nyaman ketika berada di sisinya walaupun bagaimanapun keadaannya.
***
Beberapa bulan kemudian.
Dalam perjalan pulang menuju rumahnya Hariz begitu gelisah dan dilanda perasaan dilema yang membuatnya bak disuguhkan dengan buah simalakama. Antara harus memilih ibu yang telah mengandung dan melahirkannya atau memilih istri yang kini sudah memberikannya dua buah cinta mereka selama kurang lebih 6 tahun hidup dan berjuang bersama. Melewati setiap kerikil dan badai yang kerap menerpa kehidupan rumah tangga mereka berdua.
Dhena, dulu gadis yang penuh dengan kekurangan dan keterbatasan dalam segala hal yang bersedia menerima kehadiran Hariz dalam kehidupan barunya setelah mengikrar janji di depan penghulu yang sama-sama akan memulai hidup dari nol.
Alasan Hariz pun dulu lebih memilih Dhena dibandingkan perempuan lain tidak bukan karena menurut penilaian pria itu Dhena merupakan tipe wanita yang tidak akan pernah banyak menuntut kepada pasangan. Terlebih dalam hal perekonomian yang dengan sadar Hariz belum bisa meraihnya seperti orang-orang dan kawan-kawannya yang sudah bisa hidup lebih mapan dan terjamin.
Ketika itu Hariz pernah bertanya kepada Dhena. Sebelum mereka menikah. Yang seperti biasa dilakukan oleh kebanyakan orang yaitu selalu memberikan perhatian lebih ketika sedang mendekati calon istri yang akan dijadikan pasangan hidupnya.
"Sudah makan belum?" tanya Hariz via telepon waktu itu.
"Ini sekarang lagi makan." Dhena menjawab.
__ADS_1
"Makan sama apa?"
"Sama nasi dicocol pake garam." Dhena menjawab dengan jujur. Karena memang keadaannya yang sudah biasa hidup dalam keterbatasan dan hidup jauh dari kemewahan. Karena orang tuanya hanya sebagai buruh tani di kampungnya.
Dari situlah niat Hariz semakin bulat untuk menjadikan Dhena sebagai istrinya. Karena menurutnya, jika ia memilih wanita yang terbiasa hidup serba kecukupan dan dibuai dengan kemewahan, tidak menutup kemungkinan ketika hidup dengannya yang belum bisa memberikan kebahagiaan berupa materi akan pergi meninggalkan suaminya.
Atas pertimbangan seperti itulah ia mulai memantapkan hati untuk mempersunting Dhena yang menurut Hariz perempuan pilihannya itu akan bisa diajak hidup susah dan apa adanya selama membersamainya nanti.
Hariz memarkirkan sepeda motornya di halaman. Perlahan ia melangkahkan kaki panjangnya memasuki rumah yang sudah banyak mengukir kenangan dengan sang istri di sana.
Dilihitnya Dhena sedang menikmati makan siang seorang diri. Sedangkan Reza sudah terlelap tidur seorang diri di depan televisi.
Dhena menjeda kegiatannya yang sedang menyendok nasi ke dalam mulut. Lalu mendongak menatap ke arah Hariz.
"Mau ngomong apa, Mas?"
"Mas ingin secepatnya kita berpisah. Kamu bisa mencari kebahagiaan sendiri di luar sana dengan pria lain yang mampu memberikan ketenangan dan kedamaian dalam rumah tangga," ungkap Hariz dengan sangat berat hati.
Mendengar permintaan barusan yang ke luar dari bibir laki-laki yang sudah mengambil separuh hidupnya itu membuat Dhena seperti disambar petir di siang bolong. Hatinya hancur berkeping-keping. Selama ini hal yang sangat ditakutkannya tiba-tiba harus ia dengar dari pria yang sudah mati-matian ia pertahankan walaupun terlalu banyak penderitaan yang harus ia terima selama hidup dengan suaminya itu.
__ADS_1
Dhena menggeser piring ke arah samping yang sejak tadi berada di hadapannya. Selera makannya pun mendadak menguap begitu saja sesaat setelah mendengar ucapan dari Hariz.
Padahal, nasi di piringnya yang masih tersisa banyak sudah tak dihiraukan lagi oleh perempuan bertubuh kecil itu.
Ia bangkit dari duduknya lalu kemudian berlari ke arah kamar meninggalkan Hariz yang masih bergeming dan mematung. Jauh di lubuk hati pria itu pun ada gelenyer perih ketika melihat wanita yang selama ini sudah setia menemaninya itu harus merasakan luka dengan keputusan sepihak darinya.
Sebenarnya Hariz dengan sangat terpaksa melakukan itu semua kepada sang istri. Karena ia pun mempunyai alasan sendiri hingga sampai hati berani mengambil langkah yang pastinya akan membuat hati Dhena semakin tercabik dan membuatnya lebih terpuruk.
Itu semua ia lakukan hanya demi untuk memenuhi permintaan dari ibu kandungnya sendiri yaitu, Bu Aida yang sudah berusaha memaksanya agar dengan cepat melepaskan Dhena.
"Hariz ... Ibu ini orang tuamu, orang yang sudah melahirkan dan membesarkanmu. Surgamu ada di telapak kaki Ibu. Jika kamu sedikit saja membuat hati Ibu kecewa jangan harap kehidupanmu akan menemukan kebahagiaan sampai kapan pun. Ingat itu!" ancam Bu Aida kepada anak laki-lakinya ketika itu.
Hariz yang tadinya berusaha memantapkan hati untuk mempertahankan Dhena, menjadi tidak berkutik setelah wanita keramatnya itu semakin mengeluarkan ancaman yang lebih berbahaya lagi. Bu Aida saat itu berkata akan mengakhiri hidupnya jika dalam waktu dekat Hariz tidak segera meninggalkan istrinya.
Di lain sisi, perasaan Hariz pun sebenarnya tak tega jika Dhena harus terus hidup bersamanya sedangkan akan selalu mendapatkan perlakuan buruk dan menyakitkan dari Bu Aida yang selalu menganggap Dhena sebagai wanita pembawa sial dalam keluarga mereka. Hariz pikir, jika Dhena sudah ia lepaskan dan menemukan laki-laki yang jauh lebih baik darinya itu akan sedikit membantu Dhena untuk menemukan kebahagiaan walaupun Hariz sendiri harus rela menggadaikan rasa sakit di hatinya karena harus kuat dan bisa merelakan sang istri pergi jauh dari kehidupannya.
Hariz melangkahkan kaki ke arah pintu kamar hendak menyusul Dhena. Di tepi tempat tidur terlihat Dhena sedang tergugu seorang diri menumpahkan semua rasa sakit dan sesak yang mengimpit bagian rongga dadanya. Air matanya terus berderai membasahi kedua pipinya yang sudah terlalu terlihat kusam karena memang tak pernah ada waktu dan biaya untuk memikirkan tentang perawatan. Waktunya dihabiskan hanya untuk mengurus anak dan mengabdikan diri kepada laki-laki yang menjadi suaminya itu.
"Kenapa Mas tega lakukan ini kepadaku, Mas? Apa kau belum puas membuatku menderita semenjak kau hadirkan sosok Nelly sebagai perempuan lain di tengah keluarga kita?" pekik Dhena dengan suara gemetar menahan perih di dada.
__ADS_1
"Jika begini caranya. Berarti kamu sama saja dengan membunuhku secara perlahan, Mas," sambung Dhena di sela isak pilunya.