Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Menentang Mitos


__ADS_3

"Mama ... Mama, tadi aku ketemu sama temannya Ayah, bareng Nenek juga. Tapi, kenapa Ayah gak ikut pulang sama aku sama Nenek. Ayah malah pulang ke rumah temannya itu. Padahal temannya Ayah itu perempuan, lho," cerocos Fathan kepada Dhena ketika ia sudah tiba di rumah dan bertemu dengan mamanya.


"Teman Ayah yang mana, Sayang?" tanya Dhena penasaran.


"Gak tahu. Aku gak kenal. Tapi, kata Nenek, namanya Tante itu, Tante Nelly," jawab Fathan polos.


Deg! Serasa ada benda tak kasat mata mengiris bagian rongga dada ketika Dhena mendengar jawaban polos dari buah hatinya. Dhena tak menyangka jika Hariz dan Nelly diam-diam masih suka bertemu di belakang Dhena tanpa sepengetahuannya.


"Tadi aku juga dibeliin es cream dan kreni petic yang seperti di film kartun spong bop itu, lho, Mah. Rasanya enak banget. Aku mau lagi. Nanti kita beli ya, Ma, sama Ayah ke sana," celoteh bocah menggemaskan itu tanpa mengetahui jika hati mamanya sedang tidak baik-baik saja.


Dhena berusaha memperlihatkan senyum manisnya di hadapan Fathan. Berusaha sebisa mungkin menyembunyikan hatinya yang kembali terluka membayangkan sang suami kini sedang berduaan dengan wanita yang sempat pernah menjadi madunya itu.


'Apa mungkin Mas Hariz kini sudah kembali rujuk dengan Nelly?' tanya Dhena dalam hatinya.


***


Sore ini jadwalnya Dhena untuk memeriksakan kehamilannya. Sudah beberapa kali ia menghubungi Hariz, tapi tak ada jawaban. Dengan terpaksa ia harus berangkat seorang diri menggunakan angkot. Sedangkan Fathan usai mandi tadi sudah diajak bermain di rumah Mbak Ningsih.


Melihat Dhena sudah berpakaian rapi. Menggunakan gamis berwarna navy dengan fasmina warna senada serta tas yang dicangklongkan dilengan kanan membuat Bu Aida bertanya penasaran.


"Mau kemana kamu Dhena? Suami sedang tak ada di rumah, kok, pergi-pergi seorang diri?"


"Dhena hari ini harus periksa kehamilan, Bu, tadi sudah menghubungi Mas Hariz, tapi gak ada jawaban juga," jelas Dhena sambil menyematkan bros bunga di bagian depan hijabnya.


"Gaya amat kamu, hamil baru beberapa Minggu saja sampai harus periksa rutin segala," ujar Bu Aida memutar bola matanya.

__ADS_1


"Saya saja dulu waktu hamil gak pernah tuh, diperiksa-periksa ke dokter ataupun ke bidan, tapi, sehat dan lancar terus," sambungnya kemudian. Melirik sinis ke arah Dhena.


Dhena tak menyahut perkataan sang ibu mertua. Ia kemudian berpamitan untuk segera berangkat.


"Tunggu ... Tunggu, kamu pergi keluar rumah dengan kosongan seperti ini? Padahal, kamu kan, sekarang sedang hamil," ujar Bu Aida berusaha menghentikan langkah kaki Dhena.


"Maksudnya, Bu? Kosongan bagaimana?" Dhena balik nanya.


"Makanya kalau lagi hamil itu kalau mau apa-apa harusnya tanya dulu sama orang tua biar ngerti. Perempuan yang sedang hamil itu kalau mau pergi ke luar rumah harus membawa senjata tajam biar gak digangguin makhluk halus. Misalkan, bawa gunting, pisau, sama peniti. Apalagi ini sudah sore pulangnya nanti takut kemalaman di jalan. Bisa-bisa nanti kamu ada yang ngikutin di jalan," papar Bu Mutia yang masih sangat percaya dengan mitos tentang wanita hamil di kampungnya.


Dhena tersenyum setanah dan semanis mungkin ke arah Bu Aida berusaha menjawab dan menjelaskan kepada ibu mertuanya yang masih sangat kental dengan kepercayaan zaman dulu yang sudah mendarah daging.


"Bu, yang memberikan perlindungan dan keselamatan kepada kita itu hanya Allah Yang Maha Kuasa, bukan benda-benda tajam seperti yang Ibu sebutkan tadi. Kalau hati kecil kita sampai mempercayai benda-benda itu yang dapat memberikan perlindungan, bisa-bisa nanti jatuhnya kita musyrik atau syirik, karena sudah menyekutukan Allah dengan benda-benda tadi." Panjang lebar Dhena memberikan pemahaman kepada sang ibu mertua.


"Kamu ini anak kemarin sore, dibilangin orang tua bukannya manut malah balik nyeramahin. Dasar menantu tak tahu diri." Bu Aida menjawab ketus semua penjelasan dari Dhena tadi.


Hati Bu Aida sudah tertutup rapat sehingga tidak bisa menerima nasihat kebaikan yang telah membuat cara berpikirnya justru menyalahi syari'at dan melenceng dari ketauhidan karena sudah mempercayai secara mendarah daging dengan mitos-mitos dan klenik yang menyesatkan.


Sehingga ketika menantunya berusaha menyampaikan kebenaran malah membuatnya berang dan merasa tersinggung karena sarannya tadi seolah tak dianggap dan tidak dihiraukan oleh Dhena yang memang dari dulu hati kecil Dhena sangat menolak dan menentang semua mitos yang kebanyakan mengandung hal-hal kesyirikkan yang bisa membelokkan akidah bagi orang yang mempercayainya.


Bu Aida melengos kemudian berlalu menuju kamarnya dan menutup pintu rapat meninggalkan Dhena yang masih berdiri.


Dhena pun lalu keluar rumah untuk segera pergi ke tempat bidan terdekat. Setelah sebelumnya ia membaca Basmallah dan do'a keluar rumah terlebih dulu. Berharap dirinya selalu ada dalam perlindungan Sang Maha Segalanya selama ia diperjalanan hingga kembali lagi ke rumah.


Nabi Muhammad SAW mengingatkan seluruh umat Islam untuk selalu membaca doa keluar rumah. Hal itu agar setan tidak bisa menggoda dirinya saat di luar rumah. Adapun bacaan doa keluar rumah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut:

__ADS_1


Bismillahi, tawakkaltu 'alallah, laa haula wa laa quwwata illaa billaahilaliyiladziim.


Artinya: "Dengan nama Allah (aku keluar). Aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali karena pertolongan Allah semata."


Setelah beberapa menit berdiri di pinggir jalan raya. Angkot yang ditunggunya pun kemudian datang dan berhenti persis di pinggir Dhena setelah ia melambaikan tangan ke arah mobil tadi. Sebelum kakinya melangkah ke tangga angkot dalam hatinya Dhena kembali melafalkan do'a ketika hendak menaiki kendaraan.


Dhena membaca do'a ketika naik kendaraan yang singkat seperti ini:


سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ


Bacaan latinnya:


Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbina lamunqolibuun.


Artinya: 


“Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”


***


Tiba di tempat bidan tujuannya Dhena segera berbaur dengan beberapa perempuan yang perutnya terlihat sudah membuncit. Hampir semua wanita yang sedang menunggu antrian itu didampingi oleh suaminya masing-masing.


Hanya Dhena sendiri yang datang dan duduk sendiri tanpa diantar oleh Hariz. Ada rasa iri menyelimuti hatinya ketika melihat pemandangan seperti itu di depan matanya. Selalu ada sosok suami kemana pun dan di mana pun berada.


Namun, Dhena berusaha menepis rasa gundahnya dengan menyibukkan diri melihat layar ponsel yang tengah berada dalam genggamannya. Berharap sedikit melupakan rasa nelangsa yang seketika menyergap perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2