
Sepulang dari rumah Akung, Al dan Aini semakin semangat dengan keputusan untuk merantau. Meskipun sebenarnya orang tua Aini berat melepas anak dan menantunya tapi kalau itu membuat mereka bangkit maka akan mendukung penuh. Harga seorang laki-laki salah satunya adalah ketika bekerja atau punya penghasilan, mereka tidak mau menantu mereka nantinya menjadi terpuruk jika tidak melakukan usaha, sementara membuka usaha didesa sendiri belum menemukan ide.
Flashback On
"Rencana buka usaha apa Al?"
"InsyaAllah mau produksi tempe, Ma. Mama bisa kan? minta tolong ajarin Al ya ma, sebelum berangkat,"
"InsyaAllah mama siap membantu Al, dan mama setuju jika maumu begitu. Al baik di Pulau S maupun Pulau K banyak warga yg berasal dari daerah sini. Buat yang tipis dibungkus daun untuk membuat mendoan, mama yakin disana adanya tempe yang pakai plastik,"
"Betul juga ide mama Al, bapa setuju itu."
"Setelah sampai disana nanti Al mau survei juga, Ma. peluangnya seperti apa?"
"Sip lah Al, bapa suka dengan semangatmu,"
"Ai, pesan mama, disana tentunya karakter anak beda dengan disini. Banyak belajar ya Ai, bukan menuntut mereka menyesuaikan dengan kita. Tapi kita harus berusaha menyesuaikan dengan mereka," ucap mama beralih ke Aini
"Iya Ai, pintar-pintarlah membawa diri. Bapa yakin Ai mampu Dengan ijin Allah. Begitu juga dengan kamu Al, persaingan usaha disana kemungkinan juga banyak, jangan pernah pakai cara curang, kualitas tetap diutamakan. Meskipun nantinya sudah laris jangan mengurangi kualitas. Satu lagi jangan pernah bersaing membuat orang lain terpuruk, tapi bersaing dengan diri sendiri yang harus lebih baik dari diri kita hari kemarin, bukan lebih baik dari orang lain. Mungkin kualitas sama dengan orang lain, kita cari kelebihan diri kita misalkan melalui pelayanan yang selalu sopan," lanjut bapak.
"Kalau dawet kamu sudah bisa Al?"
"InsyaAllah nanti Al akan menghubungi teman, mau belajar dengan teman, Ma,"
"Alhamdulillah, semoga Allah mudahkan ya nak. Modal yang utama adalah niat dan semangat," ucap Mama.
"Al, Aini semangat juga tidak boleh hanya diawal, harus konsisten. Pola dalam berdagang tentu kadang laris, terkadang laris banget, tapi juga terkadang bahkan tidak ada pembeli. Niat semua karena bentuk ibadah kita sama Allah, ikhlas dengan semua prosesnya. InsyaAllah Allah akan mudahkan,"
"Aamiin" di aamiin kan bersama-sama.
Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya sengsara, semua ingin anaknya bahagia, dengan memberikan restu kepada anak-anaknya semoga menjadikan jalan untuk anak-anaknya berhasil. Bukan hanya berhasil di materi saja tapi sukses bersosial dan menjadikan mereka menjadi pribadi yang lebih baik dihadapan Allah. Karena saat inilah ujian kehidupan yang sebenarnya. Kegagalan, kesakitan adalah paket komplit sebuah keberhasilan.
Flashback off
"Mas, ini ada email masuk lagi. Sebenarnya sejak tadi siang pas kita tidur, tapi Ai baru buka hp lagi. Kepala sekolah sekolah tersebut mau interview di telpon, besok jam 13.30. Aku deg-degan, Mas,"
__ADS_1
"Alhamdulillah, mas bersyukur kamu masih deg-degan, Ai," sambil cengengesan
"Ai serius, nih pegang, Mas. Kenceng bngt kan?" sambil menarik tangan suaminya memegang dadanya.
"Jangan mancing-mancing Ai, kalau kaya gini jadinya aku yang tegang,"
"Ai yang mau diinterview kenapa mas yang tegang," menatap suaminya bingung.
"Kebiasaan ekspresi kamu, Ai. Dasar lambat! Mas yang tegang bagian bawah. Kamu sih tadi menarik tangan mas buat nyentuh itu kamu," sambil memukul jidat Ai dengan jari telunjuknya.
"Haha ... mas juga kebiasaan. Semua hal jika bersama Ai pasti berakhir dengan kemesyuman," tertawa karena baru menyadarinya dan langsung melihat bagian bawah suaminya, dan ternyata betul bagian bawah sudah memuai terlihat sekali.
"Ngapa lihat-lihat, Ai. Pegang juga boleh," tersenyum jail.
"Tidur yuk ... takut kesiangan, Mas." Meskipun untuk acara hari ini sudah dikoordinasikan dengan Pak Hasan, pak Abid dan sudah berbagi tugas juga tapi tetap saja harus mempersiapkan diri.
"Mas nanti nggak bisa tidur, Ai. Jika belum dikasih vitamin,"
"Ya udah, Ai ambil ya," mau beranjak dari kasur, belum sempat pergi sudah ditarik duluan sama suaminya dan berakhir duduk dipangkuan suaminya.
"Mau kemana sayang?" dengan suara parau
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Selesai sarapan masih ada waktu berbincang, mereka gunakan untuk bercerita. Pembahasan mereka tidak ada habisnya, itulah suami istri meski selisih umur berbeda tapi pembicaraan terus nyambung.
"Ai, mas sudah janjian sama teman mau melihat dia proses membuat dawet ya, Sayang,"
"Ya mas, nanti Alia dirumah emak berarti?"
"Nanti mas lihat mood dia, kalau lagi nggak mau sama nenek nanti tak bawa saja,"
"Nggak repot, Mas?"
"Nggak lah Ai, dia anak yang pintar kok. Udah siang Ai, berangkat sama, semangat ya sayang kamu bisa," Al ngasih semangat buat Aini
__ADS_1
"Terimakasih sayang, Ai berangkat sekarang,"
"Hati-hati ya, Sayang," meraih kepala Ai untuk dicium keningnya. Ai meraih tangan suaminya bersalaman dan mencium punggung tangannya.
Hari ini Ai ke sekolah dulu pelajaran sebentar dan anak-anak pulang lebih awal.
"Sintia ... apa kabarnya? kangen," begitu ketemu sahabat karibnya di parkiran.
"Ai ... berapa hari nggak ketemu ya ... serasa setahun," sambil ketawa
"Haiii ... mana ada. Doakan aku ya, grogi ini mau presentasi hasil seminar kemarin,"
"Aku nggak yakin kamu grogi Ai, publik speaking kamu bagus apa yang bikin kamu grogi? jangan bilang Pak Abid ya?"
"Kamu tau sendiri cerita kemarin, aku sudah wa semua ke kamu,"
"Alhamdulillah, akhirnya sadar juga orang itu. Rasanya pengin nonjok kalau lihat dia ngeliatin kamu kaya gitu. Tatapannya ngeri ...."
"Sudahlah Sin, namanya ujian hidup. Perbuatan pak Abid itu bisa jadi Allah mempunyai tujuan yaitu menguatkan hubunganku sama mas Al, ujian sabar buat kedua orang tua mas Al, dan ujian keikhlasan buat pak Abid sendiri,"
"Wah ... wah beruntung sekali ya aku punya teman yang pemikiran luas dan bisa melihat dari berbagai sisi," sambil merangkul pundak sahabatnya.
"Aiiih lebay banget si sahabatku ini. Ayok segera masuk kantor. Pak Hasan sudah mondar mandir tuh, kayaknya nungguin aku deh," berjalan beriringan menuju kantor
"Sin, mungkin aku nggak lama lagi bakalan nggak ngajar disekolah ini," ucap Ai lirih
"Kamu lagi ngiggau ya Ai. Tapi kamu lagi jalan bukan lagi tidur," menghentikan langkah Ai dan membalik tubuh Ai supaya menghadap ke arah dia.
"Apaan sih, Sin. Aku sadar ... meskipun sebenarnya berat untuk meninggalkan sahabat baikku. Nanti siang pukul 13.00 interviewnya," ucap Ai serius dan melanjutkan untuk jalan kembali ke kantor dengan posisi Sintia masih mematung.
"Eh ... seriusan Ai, kamu hutang penjelasan sama aku, Ai," menyusul Aini.
...π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·...
Tinggalkan jejak ya kk.
__ADS_1
like dan komentnya.
Terimakasih untuk para pembaca, semoga sehat selalu ... aamiin