Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Mau Nambah


__ADS_3

"Sudah hafal, Zal?" tanya Al kepada calon mempelai.


"Mas, aku tegang banget rasanya," ucap Izal gugup.


"Belum saatnya tegang, Zal. Tunda dulu, sebelum ijab qabul diucapkan harus kamu tahan," goda Al sambil tertawa.


"Apaan, Mas. Masa mengarahnya kemana-mana. Serius, aku deg degan,"


"Zal, ikuti apa yang Mas katakan. Tarik nafas dalam-dalam, tahan ... tahan 5 menit saja," terbahak melihat Izal mengikuti arahan darinya.


"Zal, mau saja dibohongi sama Al,"


"Pakdhe, dulu perasaan Mas Al nggak gitu-gitu amat. Sekarang makin parah,"


Sesuai permintaan Lina pernikahan di tunda menjadi 2 bulan. Sudah 3 hari semua keluarga berkumpul di rumah Lina untuk melangsungkan ijab qobul dan resepsi pernikahan Izal dan Lina. Banyak rumor beredar di kampungnya mengenai Lina yang pulang membawa calon suami, ada yang mengatakan kalau yang dilakukan Lina untuk balas dendam, ada yang bilang pelarian. Tak kalah dengan Lina, Al Ghazali juga menjadi perbincangan hangat oleh tetangganya atas keberhasilannya usahanya. Kehidupannya sekarang menjadi sorotan.


Pernikahan berlangsung dengan lancar, mereka di kampung dua pekan. Kedua orang tua Lina harus melepaskan anaknya kembali bersama suaminya.


"Akhirnya, sampai lagi. Capek banget ... ," keluh Aini setelah sampai rumah.


"Lina sudah sampai rumah belum ya, Mas? Jadi sepi lagi ini rumah,"


"Sayang, biar nggak sepi. Kita sekarang mesti bekerja keras membuat adik buat Alia, kamu sudah di rumah terus. Mas sangat bahagia, kamu bisa selalu menemaniku kemanapun,"


"Mas, jangan keras-keras. Nanti Alia dengar,"


"Alia sudah Mas taruh di kamarnya, sudah tidur dia,"


"Ditaruh, kaya barang saja bahasanya,"


"Yang penting artinya sama, Ai. Tiduran di kamar saja yuk!" ajak Al sama istrinya.


"Mas, malas. Udah enak posisinya."


"Baiklah, itu artinya minta di gendong," ucap Al langsung menggendong istrinya ke kamar mandi, tak lupa sebelumnya sudah mengunci kamar.


"Kok kesini, Mas?"

__ADS_1


"Kita mandi bersama dulu, badan kita lengket semua. Mas mau mandikan kamu," ucap Al mulai usil dengan kegiatannya melepas baju istrinya. Sejak Bapak dan Lina di rumah memang rame, tapi tak bisa sebebas ini berdekatan dengan istrinya. Dia sering menahan hasratnya karena tak enak dengan keluarganya. Hanya bisa melakukan di malam hari, jika sunyi seperti ini bisa kapan saja.


"Mas, baru saja kita habis perjalanan jauh, memang nggak capek?"


"Ai, Mas kangen menyentuh ini sepuasnya," menunjuk tubuh polos istrinya.


"Biasanya kita hanya pakai cara ekspres, Mas kangen mainan dulu," dengan suara parau. Aini membalas ciu*an suaminya penuh ga*irah. Mereka puas bermain selama 2 jam hingga masuk waktu Dzuhur. Alia tidurnya pulas sekali sampai mereka selesai belum terbangun.


"Ai, habis ini mandi, sholat, makan. Setelah itu kamu boleh tidur, Alia biar sama Mas atau Lastri," ucap Al melihat istrinya terkapar kelelahan setelah digempur habis-habisan oleh suaminya.


"Mas, gendong ke kamar mandi lagi," rengek Aini.


"Hem ... baiklah, Sayang. Ingat istirahat yang baik nanti. Mas minta jatah lagi nanti malam," ucap Al sambil menc*um bibir istrinya lalu menggendongnya ke kamar mandi.


"Mas, lapar," rengek Aini.


"Nanti Mas akan bawa kesini makannya, ingat istirahat nanti. Nggak usah keluar dulu, Alia nanti sama Lastri,"


Sesuai perkataan Al, dia sudah membawa makanan ke kamar.


"Mas, makan sekalian?"


"Jangan dulu, Mas. Mereka lagi hangat-hangatnya jangan di ganggu, pengantin baru,"


"Ai, pengantin lamanya juga hangat terus kan?"


"Iya deh, pengantin lamanya nggak mau kalah. Staminanya jos, tapi aku capek," keluh Aini.


"Awalnya ngomongnya capek tapi kenyataannya, paling aktif pas lagi main," ucap Izal jail. Membuat Aini pipinya memerah menahan malu.


"Sudah makannya jangan di ****, jadi mas pengin cium lagi kan?"


"Sudah keluar sana, memang Mas nggak mau mengontrol laporan keuangan?"


"Yakin, kamu mau ngusir ini? Tapi, Mas mengartikannya kalau kamu ingin Mas jangan keluar, menemani kamu,"


"Mas, jangan mulai deh. Nanti kalau aku pengin lagi gimana?"

__ADS_1


"Tinggal nambah, gampang kan?"


"Memangnya nambah apa?"


"Mau kamu nambah apa? Akan Mas turuti kemauan kamu,"


"Mas, pengin banget ya punya anak lagi?"


"Pengin lah, Ai. Biar rame, kasihan Alia sendirian nggak ada temannya,"


"Kalau ternyata aku nggak bisa hamil lagi, apa mas akan menikah lagi?"


"Pertanyaan macam apa itu? Mas nggak ingin membagi cinta buat wanita selain kamu,"


"Mas, kadang aku punya rasa takut. Mas saat ini punya banyak uang, banyak yang terang-terangan maupun ngasih kode buat kamu nikahi, Mas. Aku wanita biasa yang dengan mudah cemburu, aku takut mas menikah lagi jika aku nggak hamil-hamil,"


"Kebanyakan baca novel tentang poligami kayaknya kamu, Ai. Jadi yang di pikiran kamu adalah takut suamimu menikah lagi,"


"Mas, kalau sudah bosan sama aku ngomong baik-baik ya. Jangan sampai aku mendengar ternyata suamiku sudah menikah lagi. Aku tau, kamu bisa menikah lagi tanpa restuku sekalipun. Tapi jangan lakukan di belakangku ya, Mas,"


"Ngomong apa kamu, Ai?"


"Mas, serius kemarin aku melihat Mas Al saat ada tetangga kita di kampung yang mau jadi istri Mas Al. Aku sakit banget lihat dia memandang begitu memuja padamu, Mas,"


"Ai, ... jangan pernah kamu kotori pikiranmu dengan bayangan yang tidak-tidak. Pikirkan hal yang lebih positif. Sehingga yang keluarpun sesuatu yang positif. Cemburu wajar, aku bahagia jika kamu cemburu. Itu artinya kamu benar-benar mencintai suamimu. Tapi aku mohon jangan pernah cemburu buta sama, Mas. Kamu harus mau mendengar penjelasannya dulu jika mendengar sesuatu kabar, jangan seperti kemarin pas di kampung,"


"Memang sikapku kemarin kenapa? aku cuma nggak suka aja, dengan tingkah orang itu. Memaksakan kehendak untuk menikahi anaknya yang jelas-jelas sudah punya istri, mikirnya yang penting banyak duit. Nggak perlu merasakan masa-masa sulit,"


"Iya, Sayang. Mas paham,"


"Mas, kalau sampai kamu macam-macam siap-siap saja usaha kita aku yang ambil alih, kamu silahkan merintis lagi dengan wanita barumu!"


"Sayang, aku nggak ada minat sedikitpun. Kamu yang sudah menemaniku disaat-saat aku terpuruk, disaat aku tak punya apapun. Ai, jangan pernah ragukan kesetiaan suamimu,"


"Mas, kenapa aku ngomong seperti ini karena ada alasannya. Aku mendengar semua pembicaraan Mas Al bersama temanmu Zaki. Aku merasa yang bicara sama Zaki bukan suamiku, aku merasa itu orang lain. Tapi kenyataannya itu kamu, Mas!" nada bicara Aini meninggi.


"Memang apa yang kamu dengar, Ai. Kenapa kamu begitu marah? Mas nggak merasa salah dengan ucapan Mas saat itu?"

__ADS_1


"Tau lah ... " Aini mulai terisak mengingat perbincangan antara suami dan temannya yang bernama Zaki di kampung saat resepsi pernikahan Lina.


__ADS_2