Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Terguncang


__ADS_3

Hariz menyodorkan sebuah map segi empat berwarna cokelat ke arah Dhena seraya berkata, "Dhen, tolong tandatangani ini," pinta laki-laki itu.


Dhena menerimanya dengan keadaan hati yang kian tak menentu. Perlahan ditariknya secarik kertas berwarna putih dari dalam amplop besar itu. Beberapa menit bola matanya yang masih sembab mengamati setiap huruf dan kalimat yang tertera dalam kertas tersebut.


Kedua jemari tangannya kemudian mencengkeram kuat kertas putih itu lalu sebagian atasnya ditarik hingga terbelah dua hingga menjadi sobekkan kecil, kemudian dilemparkan ke muka Hariz oleh Dhena sambil menjerit histeris sebagai ungkapan isi hatinya yang luluh lantak. Dhena pun berlari ke arah luar meninggalkan sang suami yang hanya bisa termangu seorang diri.


"Maafkan aku Dhena, terpaksa harus melakukan semua ini," gumam laki-laki yang lebih menuruti kehendak ibunya itu.


***


Kini Dhena sudah berada di rumah Kahfi, kakak laki-lakinya. Kini setatusnua sudah resmi berpisah dan bercerai dengan Hariz. Dunianya seakan hancur. Semangat hidup yang ia rasakan seketika memudar. Hatinya dilanda nestapa yang mendalam.


Perempuan mana yang akan kuat jika dihadapkan dengan kondisi seperti wanita malang seperti Dhena. Ia dicampakkan begitu saja setelah berusaha menguatkan jiwa dan raga selama membersamai laki-laki yang sangat dicintainya.


Bukan hanya itu, perasaannya semakin terkoyak ketika hak asuh kedua putranya harus jatuh ke tangan Hariz. Itu semua karena ada andil permainan dari Bu Aida yang sengaja ingin memisahkan Dhena dengan kedua buah hatinya. Lengkap sudah luka hati yang harus Dhena rasakan sebagai seorang istri juga sebagai seorang ibu yang tidak dapat hidup bersama darah dagingnya sendiri.


Dengan uang ditangannya Bu Aida bisa melakukan apa pun yang ia mau yang sesuai dengan keinginan hatinya, termasuk membuat hancur hidup Dhena.

__ADS_1


"Bu, biar anak-anak hidup bersama Dhena, Bu," saran Hariz tempo lalu ketika Bu Aida merekayasa agar hak asuh jatuh kepada anak laki-lakinya itu.


"Gak apa-apa Hariz. Biar Fathan dan Reza Ibu yang ngurus saja sebelum kamu menikah dengan Sandra." Bu Aida menyela perkataan Hariz.


"Fathan dan Reza itu anak kamu Hariz, yang berarti di dalamnya masih ada aliran darah Ibu juga. Ibu tak sudi jika keturunan Ibu diurus dan hidup bersama dengan perempuan lemah seperti Dhena. Mau jadi apa nanti masa depan kedua anak-anakmu jika dibesarkan dalam asuhan wanita macam mantan istrimu itu."


Begitulah permainan Bu Aida yang berjalan mulus sesuai dengan harapannya sendiri yang mampu membuat keadaan Dhena menjadi terpuruk dan mengguncang kejiwaannya.


Sudah berhari-hari Dhena mengurung diri di dalam kamar. Hingga lupa untuk sekadar mengisi perutnya sendiri jika saja Shofia, istrinya Kahfi tidak telaten membawakan berbagai macam makanan untuk adik iparnya itu. Ketika Kahfi dan Shofia harus keluar rumah karena keperluan pekerjaan. Dhena mengisi waktu seorang diri. Hal itulah sebenarnya yang membuat Kahfi khawatir. Takutnya adik perempuannya itu sampai melakukan hal yang di luar dugaan dan mengancam keselamatannya sendiri.


Dhena merasakan hatinya kosong dan hampa. Menjalani hidup seperti tanpa tujuan karena kini orang-orang yang berharga dalam hidupnya sudah tidak bisa lagi berdampingan dan menghabiskan waktu setiap saat. Hariz dan kedua putranya yang semestinya masih sangat membutuhkan dekapan hangat dan belaian penuh kasih dari dirinya harus ia tinggalkan begitu saja karena ulah ibunya Hariz.


Setiap kali Dhena berusaha mencari hiburan atau sekadar untuk membuat hatinya bahagia dengan cara menonton acar televisi misalkan, perempuan itu pun sudah tak mampu lagi mencernanya. Ia hanya berpura-pura seperti orang yang sedang menyibukkan duri dengan kegiatan menyaksikan acara di layar kaca itu, padahal, yang ia rasakan sendiri pikirannya tak mampu mengikuti setiap tayangan yang berada di hadapannya itu. Tatapannya tetap kosong dan nyalang. Dhena sangat merasa tersiksa dengan kondisinya saat ini. Ia seolah sangat sulit untuk menemukan jati dirinya kembali.


Saat ini keadaan jiwa Dhena benar-benar terguncang hebat. Ia sudah tak mampu lagi mengenali dirinya sendiri. Rambutnya dibiarkan terjuntai berantakan tanpa pernah disisir dengan rapi. Raut mukanya semakin terlihat kusam dan gelap karena hampir tak pernah tersentuh air.


"Mas, aku merasa khawatir dengan keadaan Dhena sekarang," ungkap Shofia kepada Kahfi ketika pasangan itu sedang duduk di sofa ruang tengah. Sedangkan Dhena seperti biasa masih terus mengasingkan diri di dalam kamar.

__ADS_1


"Sebaiknya kita harus cepat membawa Dhena ke psikiater secepatnya, Mas. Sebelum keadaannya menjadi lebih memburuk lagi," sambung Shofia memberikan saran karena merasa tak sampai hati melihat kondisi adik iparnya itu sudah seperti orang linglung dan kehilangan kesadaran.


"Iya, nanti Mas coba akan mencari info terlebih dulu alamat psikolog yang terdekat di daerah sini." Kahfi menanggapi ucapan sang istri.


Obrolan antara Kahfi dan Shofia terjeda ketika mereka berdua dikejutkan oleh suara tangis histeris dari arah kamar Dhena. Yang seketika membuat hati kedua pasangan suami istri itu merasa terenyuh.


Bergegas Kahfi melangkah ke arah kamar sang adik untuk memastikan keadaannya. Apa gerangan yang sudah membuat Dhena menangis tergugu pilu hingga menyayat hati.


Dalam hati, Kahfi bersumpah tidak akan memberikan maaf kepada Hariz, laki-laki yang sudah membuat adik perempuannya itu nyaris gila.


"Kamu kenapa, Dhen?" tanya Kahfi dengan terburu mendekat ke arah Dhena.


Dilihatnya keadaan Dhena yang sudah awut-awutan. Rambut sepunggungnya dibiarkan tergerai berantakan hingga menutupi sebagian muka lusuhnya. Tatapan kosong matanya menerawang ke sembarang arah sambil sesekali diselingi seringai pilu dari lekukan bibirnya.


Melihat keberadaan sang adik seperti itu membuat hati Kahfi berdesir perih. Ia merasa gagal menjadi sosok kakak laki-laki untuk Dhena. Kahfi segera merengkuh dan membawa tubuh Dhena ke dalam dekapannya. Meletakan kepala Dhena bersandar di dada bidangnya. Berusaha menenangkan keadaan hati Dhena yang entah seperti apa.


Shofia memasuki kamar sambil membawa satu gelas air putih untuk Dhena.

__ADS_1


"Mas, suruh minum dulu Dhenanya," titah Shofia sembari menyodorkan gelas belimbing ke arah Kahfi yang langsung diterima oleh suaminya .


"Minum dulu, ya, Dhen. Biar kamu sedikit bisa lebih tenang," ucap Kahfi berusaha menempelkan permukaan gelas ke arah bibir pias sang adik yang masih terkatup rapat.


__ADS_2