
***
Waktu terus bergulir. Tak terasa kini Dhena dan Hariz sudah bisa melewati hari-hari mereka tanpa ada gangguan dari orang ketiga seperti saat hadirnya Nelly dalam kehidupan keluarga kecil mereka. Kini bayi Dhena sudah berusia tujuh bulan.
Namun, ternyata ujian mulai datang kembali melalui putra keduanya itu. Karena sudah hampir satu Minggu lebih Reza tidak bisa pup secara normal seperti layaknya anak seusianya. Hingga Dhena merasa risau tiap kali putra kecilnya itu memperlihatkan tanda-tanda mengejan hendak buang air besar. Tapi tak kunjung bisa keluar yang membuat anak batita itu menangis histeris menahan sakit yang luar biasa.
Dhena langsung membawa putranya menuju puskesmas tanpa didampingi sang suami, karena kini Hariz masih berada di tempat kerjanya. Sedangkan Fathan ia titipkan kepada Ningsih yang sudah biasa menjaga anak sulungnya itu.
"Maaf, Mbak. Dedeknya harus dirujuk ke rumah sakit. Kami tidak bisa memberikan obat atau tindakan apapun di sini," ucap salah satu bidan yang memeriksa Reza, bayinya Dhena ketika ia sudah berada di puskesmas.
"Memangnya kenapa, Bu?"
"Yang berhak menangani dan memberi tindakan Dokter Spesialis Anak nanti di sana," jelas Bu Bidan sambil membuat surat rujukan ke salah satu rumah sakit dan memberikannya kepada Dhena.
Hari beranjak siang. Matahari semakin menyengat ketika Dhena turun dari bus yang mengantar ke rumah sakit. Langkahnya tertuju pada gedung yang terlihat asing karena baru pertama kali ia menginjakan kaki di sana.
Bersyukur Reza, anaknya yang baru berusia tujuh bulan itu tertidur pulas dalam gendongan, sehingga tidak terlalu repot ketika mengurus administrasi di meja pendaftaran.
"Kenapa Dedeknya, Mbak?" tanya dokter muda cantik tersenyum ramah menyapa Dhena setelah mereka duduk berhadapan di meja ruangan.
"Anak saya sudah beberapa minggu gak bisa pup, setiap mau pup selalu kesakitan dan tidak bisa keluar," jelas Dhena dengan gamblang.
"Baiklah, coba saya periksa dulu, ya," ucap Dokter sambil memasang stetoskopnya.
Dhena menggendong Reza lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
"Tolong, ambilkan alat-alat untuk melakukan tindakan!" perintah Bu Dokter pada dua asisten yang membantunya.
"Anak saya mau diapain, Bu?" tanya Dhena terkejut, melihat kedua asisten membawa selang kecil, dua botol cairan, serta suntikan ukuran jumbo.
__ADS_1
"Mbak gak usah khawatir, kami akan melakukan tindakan terhadap Dedek, dengan memasukan cairan menggunakan selang lewat jalan belakangnya. Guna melunakkan dan mengeluarkan feses yang mungkin sudah mengeras di dalam," jawab Bu Dokter mencoba menenangkan Dhena dengan mengelus pundaknya.
Selesai tindakan yang membuat Reza menangis kesakitan, dan diberi resep obat, Dhena berpamitan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.
***
"Mama, mama! Lihat tuh Dedeknya senyum-senyum sendiri dari tadi!" teriak si sulung Fathan yang kini sudah berusia lima tahun saat Dhena mencuci piring di belakang.
Tergopoh Dhena berlari menghampirinya. Dilihatnya Reza sedang mengejan seperti hendak pup, tak berapa lama nangis menjerit-jerit. Keringat dingin pun terlihat mulai membanjiri sebagian kepala anak batita itu.
Hati Ibu mana yang tak pilu melihat anak yang usianya belum genap satu tahun, merasa kesakitan dan menderita seperti itu. Dhena hanya mampu berdo'a dalam hati. Semoga Yang Maha Penolong memberikan kemudahan pada anaknya.
Dibantu sang suami perlahan membuka diapersnya. Mata Dhena terbelalak bak melihat emas berlian yang sudah beberapa hari hilang dan menemukannya kembali, saat melihat gumpalan beraroma tak sedap.
"Alhamdulillahirobilalamiin!" serunya mengucap syukur.
Namun, seminggu kemudian Reza mulai terlihat kesusahan lagi setiap mau pup, karena obat pencaharnya sudah habis, perasaan cemas dan was-was kembali datang mendera Dhena.
Dokter menyarankan, untuk kontrol tiap seminggu sekali selama dua minggu kedepan, sambil melihat hasil perubahan.
Namun, selama dua minggu masih tidak ada perubahan walaupun tiap hari diminumkan obat pencahar.
Saat minggu ketiga memeriksakannya. Dokter pun menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap, dan lebih memadai. Karena menurut beliau harus dilakukan 'CIL supaya bisa diketahui penyebab susahnya pup pada Reza.
***
Pagi hari menyisakan udara dingin. Jalanan masih lengang, ketika Hariz dan Dhena membawa Reza ke rumah sakit yang sudah direkomendasikan.
Karena Hariz harus buru-buru ke tempat kerja, sebisa mungkin Dhena mengurus segalanya seorang diri. Repot memang, apalagi kali ini harus membawa serta si sulung, Fathan.
__ADS_1
Setelah mengantri hampir dua jam di bagian pendaftaran, Dhena? menuju poli anak yang berada di lantai tiga.
"Untuk memastikan penyebab susah pup pada Dedeknya, maka harus dilakukan 'CIL terlebih dulu," saran Dokter setelah memeriksa Reza dan bertanya permasalahannya.
"Iya Dok, gak apa-apa, yang penting anak saya bisa kembali sehat dan bisa pup secara normal seperti biasa," jawab Dhena pasrah.
"Kalau begitu, silahkan putrinya dibawa ke bagian radiologi untuk segera dilakukan 'CIL. Ruangannya di lantai dasar depan Masjid rumah sakit. Hasil 'CIL- nya langsung bawa ke poli bedah anak di lantai dua," papar dokter berkacamata itu mengarahkan.
"Lho! kok, harus ke poli bedah anak, Dok?" tanya Dhena terkejut.
"Yang menjelaskan hasil 'CIL dan memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan selanjutnya dokter spesialis bedah anak," jelas dokter tersenyum ramah.
Setelah usai urusan di poli anak, dengan tergesa sambil menggendong Reza dan menuntun kakaknya Dhena menuju bagian radiologi. Seperti biasa harus ikut mengantri dengan pasien lainnya terlebih dulu.
"Anggota keluarga dewasa lainnya ada? Karena harus didampingi minimal dua orang buat megangin Dedeknya nanti," tanya seorang suster saat melihat Dhena seorang diri menggendong Reza.
"Gak ada, Bu. Hanya saya sendiri."
"Bapaknya, atau keluarga yang lain?"
"Bapaknya lagi kerja, keluarga yang lain gak ada juga," jelasnya.
"Owh gitu ya Mbak, kalau begitu kita coba dulu."
Setelah dipastikan tidak ada sesuatu apapun yang menempel di badan Reza, proses CIL pun mulai dilakukan yang hampir memakan waktu satu jam. Disertai tangis histeris Reza selama proses 'CIL berlangsung, sehingga Dhena kewalahan sendiri.
Sementara Fathan diungsikan terlebih dahulu ke ruangan sebelah ditemani dan diajak ngobrol sama suster lain.
Satu jam berlalu menunggu hasil CIL bisa diambil. Bersama sang suami yang sudah datang menjemput mereka menuju poli bedah anak.
__ADS_1
"Setelah saya lihat hasil CIL, putra Bapak dan Ibu ternyata positif hisprung. Jalan satu-satunya harus dilakukan operasi," jelas sang dokter setelah membuka dan memperhatikan hasil CIL yang disodorkan oleh Dhena.
Deg! Jantung wanita beranak dua itu berdegup kencang. Terasa ada benda tak kasat mata yang mengiris bagian dalam rongga dadanya. badannya seketika lemas bagai tak bertulang, saat mendengar vonis dokter.