Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Perhatian Izal pada Lina


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Bang Firman, Izal menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, dia menikmati perjalanan tanpa punya niat ngebut. Keselamatan kesehatan juga penting di jaga, kalau bukan dirinya sendiri yang menjaga lantas mau mengandalkan siapa? Istri belum punya, Bapak dan Ibu nggak mungkin kan?


Izal berhenti di kedai pertama yaitu milik Pak Radit teman Bosnya.


"Hai Bos, nampak semakin subur nih. Apa kabarnya Bos?"


"Izal bisa saja, kabar sehat Alhamdulillah, 50 batang ya Zal,"


"Siap," Izal menurunkan box yang diletakkan di kedai Pak Radit, dan mengambil box kosong yang hari kemarin.


"Zal ada salam dari Ayu. Kamu ingat?"


"Ayu, yang mana Bos? aku nggak merasa kenal,"


"Itu teman SMA kamu, dulu naksir berat sama kamu. Dia masih ngarep kamu loh, Zal. Apalagi dengar kamu gagal nikah. Boleh ya nomor Hp kamu aku kasih ke Ayu,"


"Maaf, Bos. Jangan, takut dia salah paham jika aku membolehkan. Aku nggak mau menjalani hubungan dengan wanita, penginnya langsung nikah nantinya,"


"Ayu juga siap menikah, Zal," Radit menepuk bahu Izal.


"Maaf, Bos. Saat ini sudah menemukan calon, lagi menjalani proses untuk masa depan,"


"Wah, bakalan ada yang sakit hati ini,"


"Nggak lah, Bos. Lagian aku juga sebelumnya tidak pernah dekat dengan Ayu, maaf ya Bos. Aku harus melanjutkan perjalanan," Izal sangat malas jika kerja dicampur adukan dengan pribadi. Awalnya sangat menghormati Radit teman Bosnya, tapi kali ini rasanya sudah tidak antusias seperti kemarin, mood hancur setelah perbincangan tadi.


Izal melanjutkan ke kedai berikutnya, terakhir di kedai Kak Maya.


"Bang Izal, terakhir disini ya?"


"Iya, Kak. Kedai sebelah jual seblak ya, Kak?"


"Tumben kamu beli seblak. Sejak kapan kamu suka seblak, dulu-dulu ditawari sama aku nggak pernah mau," ucap Maya heran.


"Bukan buat saya, Kak."


"Kok pipimu merah, Zal. Wah ... nampaknya ada yang lagi jatuh cinta. Seblak buat pacar ya, Bang?"


"Bukan pacar, Kak. Buat teman," ucap Izal malu. Kok bisa sih aku jadi malu, kenapa mesti malu. Yang penting nanti Lina jadi senang.


"Kak, aku ke sebelah ya, sekalian pamit,"


"Oke, Zal. Nggak usah senyum-senyum sendiri, nanti orang pada takut,"


"Siapa juga yang senyum sendiri, Kak? Izal pamit, Kak."

__ADS_1


"Pesan apa, Bang?"


"Seblak 5, jangan terlalu pedas, level 3 saja Kak,"


"Baik, Bang. Tunggu sebentar," aku pesan 5 sekalian buat Mbak Lastri dan yang lainnya. Nggak mungkin membiarkan mereka meledekku.


Sambil menunggu Seblak dibuat, Izal menghubungi Aini melalui telepon untuk menanyakan pesanan Alia.


"Bu, tolong tanyakan Alia minta dibelikan apa?"


"Loh, nggak usah Zal."


"Tadi aku sudah janji Bu, tapi lupa menanyakan apa yang mau dibeli,"


"Tunggu, ngomong langsung saja nih. Bang Izal, Dek,"


"Bang Izal, adek mau Es krim rasa strawberry," Alia berteriak.


"Iya, Dek. InsyaAllah nanti Abang beli. Tante masih marah nggak, Dek?"


"Nggak tuh, sudah ketawa-ketawa sama Bunda. Masih lama nggak pulangnya?" celotehnya.


"Nggak paling 15 menit InsyaAllah sampai rumah. Lagi beli pesanan Tante kamu,"


"Dek, telpon ditutup ya." tanpa menunggu jawaban Izal menutup saluran telpon. Karena belum seblak belum jadi dia menghubungi Bapaknya.


"Assalamualaikum, Pak,"


"Wa'alaikumussallam, Nak. Dimana sekarang?" terdengar jawaban dari Bapaknya.


"Masih dijalan mau kerumah Pak Al,"


"Alhamdulillah, kamu telpon disaat yang tepat. Ada yang mau bapak bicarakan ini sangat penting. Soal nenekmu Zal. Nanti pas kamu pulang kita bicarakan ya,"


"Baik, Pak. Izal juga mau membiarkan hal penting sama Bapak, sampai ketemu nanti InsyaAllah. Izal tutup ya, Pak."


Seblak sudah jadi, Izal langsung pulang mengingat pesanan mereka nggak bisa lama-lama. Es krim meleleh, sementara seblak bisa-bisa kuah habis meresap sama isinya.


Bocah kecil itu sudah menanti kedatanganku, begitu aku datang langsung tertawa gembira berlari ke arahku.


"Dek, nggak usah lari,"


Bruk ....


Lani membantu Alia berdiri, sambil membersihkan lutut yang kotor kena debu.

__ADS_1


"Adek, pelan saja. Sakit nggak?"


"Tan, sakit sedikit. Nggak apa-apa, Abang mana Es krim, aku udah pengin,"


Aku menghentikan motor, ku keluarkan pesanan mereka. Serasa sudah punya anak istri, seperti inikah rasanya? Bahagia rasanya, bahkan mungkin lebih bahagia jika sudah berkeluarga disambut kepulangannya oleh orang-orang tercinta?


"Jangan mendekat, Alia. Knalpot panas, nanti Abang kesitu bawa es krim!" teriak ku. Takut anak itu mendekat, sangat berbahaya jika kena kulit.


Alia sudah berjingkrak sambil bertepuk menanti hadiah dari ku. Ada Lina disampingnya yang ikut memperhatikan tingkah lucu keponakannya. Cantik, kata yang sangat pas disematkan pada gadis itu. Gadis yang telah membuatku terpesona pada pandangan pertama, gadis yang akan aku perjuangkan untuk menjalankan ibadah terpanjang selama kita hidup di dunia. Aku berjalan mendekati kedua orang yang sudah menyita perhatianku. Kedepannya anak kecil itu akan memanggilku dengan sebutan Om.


"Ini, Es krim," aku kasih ke Alia.


"Ini seblak, buat tantenya Alia. Tapi maaf ya ... nggak sesuai permintaan, levelnya tak turunin. Kamu nggak sayang sama tubuhmu, tapi aku sayang sama kamu. Aku nggak mau kamu sakit, lagi" memberikan seblak kepada Lina.


"Banyak banget, Bang?" merona pipinya mungkin karena ucapan ku yang frontal. Dia nggak menanggapi ucapan ku, mungkin masih ada trauma.


"Bisa bagi sama teman yang dibelakang, Abang tujuannya beli buat kamu. Tapi kamu bisa bagi buat teman-teman," ucapku gugup.


"Eh ... iya. Terimakasih," ucap Lina terbata-bata dan langsung masuk ke kerumah tanpa menyadari keponakan masih tinggal di depan. Lagi asyik makan es krim tanpa memperdulikan obrolanku dengan Lina.


"Dek, makannya dirumah gih. Tante sudah masuk,"


"Ya ... Tante kok ninggalin adek!" ucap Alia kesal.


"Sudah, susul saja sana. Apa mau masuk sama Abang lewat pintu samping?"


"Ikut, gendong,"


"Hai ... Abang bawa box. Nggak bisa gendong kamu," aku menunjukkan box di motor yang belum sempat aku turunkan. Tanpa protes dia sudah mengikuti ku masuk ke ruang kerja.


"Zal, mau seblak? Lina bawa banyak tuh, dibantu makannya," ucap Mbak Lastri. Aku merasa lega, Lina tidak menceritakan perihal asal muasal seblak itu.


"Mbak, yang suka seblak itu Mbak Lastri. Aku mau bantuin Alia makan eskrim, iya kan, Dek," ucapku. Alia mengangguk menyuapkan eskrim padaku.


"Aku habis semangkok ini. Enak Zal, kamu bakal menyesal nggak ikut makan. Masih satu tuh." Lastri menunjukkan satu mangkok seblak.


"Nggak usah maksa, aku yang mau makan itu, tunggu kerjaan ku selesai sebentar lagi," ucap Bagas.


"Sip, disini ya, Gas,"


"Siap,"


Melihat sikap Lina, aku semakin mantap meyakini kalau Lina adalah pasangan yang Allah siapkan untuk ku. Rasa ini sangat berbeda saat aku bersama dengan mantanku dulu. Aku kepikiran ucapan bapak, kira-kira apa ya. Kaitannya sama nenekku, mudah-mudahan hal baik.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2