
Semua mata melirik ke arah pintu. Nampak Bu Aida dengan beberapa jinjingan kantung pelastik di kedua tangannya. Ia sengaja membeli berbagai macam makanan yang sesuai dengan selera lidahnya sendiri karena ia merasa tak sudi jika harus memakan makanan yang dapat Dhena masak.
"Dhena ... Dhena. Kalau memang kamu membenci saya gak usah ngehasut anak kamu buat benci saya juga, dong. Fathan, kan, masih cucu saya. Gak seharusnya kamu nyuruh dia untuk membenci neneknya sendiri," tutur Bu Aida melirik sinis ke arah Dhena.
"Saya tidak pernah melakukan hal sepicik itu, Bu," jawab Dhena dengan suara bergetar.
"Lha, itu buktinya tadi Fathan bilang dia benci saya. Siapa coba yang ngajarin ngomong seperti itu kalau bukan ibunya sendiri yang ngajarin." Bu Aida masih menyangkal perkataan Dhena barusan.
Kemudian Bu Aida meletakkan kantung plastik itu di meja makan. Lalu melangkah ke arah letak piring yang berada di pojok ruangan dan mengambil beberapa mangkok beserta sendok makan. Menuangkan beberapa macam makanan yang tadi dibelinya ke dalam wadah dan mulai memakannya seorang diri tanpa menawari yang lain.
Sedangkan Dhena memilih memasuki kamarnya sendiri daripada harus melayani dan berdebat dengan sang ibu mertuanya yang selalu merasa benar sendiri itu.
Usai memakan makanan yang dibawanya hingga tandas kemudian Bu Aida duduk di ruang tengah menyaksikan acara sinetron yang selalu tayang setiap hari di salah satu stasiun televisi swasta dengan judul Pernikahanku Hancur Karena Ibu Mertua.
Melihat ibunya sedang bersantai lalu Hariz mencoba mendekat. Lalu duduk melantai sambil menemani Fathan bermain.
"Itu muka kamu kenapa, Riz, kok, pada bengkak begitu," tanya Bu Aida baru menyadari jika ada yang beda dengan wajah anak laki-lakinya itu.
Hariz tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya khawatir sang ibu malah berpikiran yang tidak-tidak. Pria itu hanya menjawab dengan dalih ia terjatuh dari sepeda motornya.
__ADS_1
"Oya, Bu, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu. Saya minta dengan sangat kepada Ibu. Kalau bisa jika Ibu sedang berbicara dengan Dhena harusnya gak harus menyalahkan Dhena terus, Bu." Hariz mulai mencoba memperingati ibunya sendiri.
Bu Aida bergeming beberapa saat. Setelah itu ia mulai berkata, "Memang si Dhena itu ngomong apa saja ke kamu? Hingga kamu tega berbicara seperti itu tadi kepada perempuan yang dulu sudah melahirkanmu ini?" selidik Bu Aida menatap tajam ke arah Hariz.
"Dhena gak bilang apa-apa, kok, Bu. Tapi, kan, saya lihat sendiri kalau Ibu sedang berbicara sama Dhena selalu dibarengi emosi terus seperti tadi, tho?" Hariz menjawab.
"Ya, jelas Ibu emosi, lah, wong istri kamu itu ngajarin anaknya buat benci sama neneknya sendiri tadi." Bu Aida bersikeras membela dirinya sendiri.
Ia tak menyadari sama sekali jika Fathan tadi bisa berbicara seperti itu karena memang anak kecil itu sudah bisa menyimpulkan dengan apa yang dilihat dan didengarnya secara langsung. Hanya karena rasa bencinya yang berlebihan kepada menantu perempuannya itu sehingga Bu Aida mengira dengan yakin jika Dhena memang benar-benar mengajari dan menyuruh anak laki-lakinya untuk membenci ngeneknya sendiri.
Konflik mertua pada menantunya memang kerap ditemukan di dalam pernikahan.
Namun, konflik antara menantu dan mertua memang bisa dipicu beragam macam hal. Mulai dari perbedaan cara dibesarkan, dan zaman yang berbeda membuat Bu Aida selalu menyalahkan menantunya.
Walaupun hanya dari hal sepele seperti masalah mengasuh anak yang tentunya berbeda dengan apa yang ibu mertuanya lakukan saat dia membesarkan sang suami. Padahal ibu mertua seharusnya menyadari bahwa yang memiliki tanggung jawab penuh pada anak adalah orangtuanya, yaitu Dhena dan Hariz. Jika hanya sekadar untuk memberi saran boleh, tapi tidak boleh memaksa untuk dituruti.
Karena pernikahan adalah hubungan antara suami dan istri. Sedangkan mertua seharusnya tidak harus ikut campur. Menceritakan kejelekan seorang istri di depan putranya, karena semua itu bisa menimbulkan masalah dalam pernikahan.
Seharusnya, mertua lebih sering menceritakan kebaikan dari menantu. Bukan malah menjelek-jelekkan menantu di depan anak, yang bisa membuat pernikahan anak menjadi berantakan.
__ADS_1
Ibu mertua seharusnya tidak boleh mendikte menantu dalam hal apapun. Entah itu cara mengurus rumah, maupun mengurus keluarga. Semua orang akan membuat kesalahan, dari kesalahan itulah kita belajar.
Mertua harus bisa membiarkan menantu dan anaknya membuat kesalahan, tanpa perlu menyalahkan atau mendikte kesalahan yang diperbuat. Tapi, jika ingin mengarahkan ke arah yang lebih baik, semestinya disampaikan dengan cara yang tak sampai menyinggung perasaan sang menantu.
Semua orang pasti ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, apalagi jika sudah berumur. Tapi, tidak seharusnya ibu mertua membenci menantu perempuan karena putranya lebih sering menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya tanpa ibunya.
Idealnya, saat anak sudah menikah dan membangun keluarga sendiri, seorang anak akan memiliki kehidupan sendiri yang tidak lagi berpusat pada orangtuanya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan.
Setelah menikah, seorang pria akan menempatkan istri dan anaknya sebagai prioritas. Karena itu, bukan hal yang benar jika ibu mertua ingin selalu diutamakan oleh anaknya, padahal sang anak sudah menikah.
Ibu mertua juga tidak boleh menyuruh anak memilih antara dia dan menantu. Dia bukan lagi satu-satunya orang penting dalam kehidupan anaknya, suka atau tidak, itulah kenyataannya.
Bu Aida tak menyadari bahwa kini putranya sudah mempunyai kehidupan sendiri untuk dijalani, tidak lagi bergantung pada dirinya.
Padahal, Hariz menginginkan istri dan ibunya itu bisa akur. Tapi, usahanya selalu kandas karena Bu Aida yang tak pernah bisa membuka hati untuk Dhena.
Hubungan dengan mertua adalah hal yang pasti terjadi saat menikah, karena itu Dhena terus berusaha untuk mengantisipasinya dan selalu berusaha menyenangkan mertua demi kebahagiaan sang suami walaupun hasilnya kadang di luar ekspektasinya sendiri.
"Ma'af, Bu saya berbicara seperti tadi hanya untuk menjaga perasaan istri saya sendiri karena bagaimana pun juga Dhena itu istri saya yang sudah saya ambil alih tanggung jawabnya dari keluarganya dulu," ungkap Hariz berharap sang ibu mengerti dengan posisi Hariz yang kini sudah menjadi sosok seorang suami untuk istrinya dan seorang ayah untuk kedua anak laki-lakinya.
__ADS_1
"Ibu kecewa sama kamu, Hariz! Demi perempuan yang baru beberapa tahun menemani hidup kamu. Kamu begitu tega mengenyampingkan Ibu seperti ini." Wajah keriput Bu Aida mulai diliputi kesedihan yang membuat perasaan anak laki-lakinya itu menjadi gamang dan serba salah.