Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Permintaan Dhena


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Hariz dan Dhena ternyata Nelly sering mengunjungi Bu Aida. Nelly datang membawakan barang-barang mewah dan berharga demi membeli hati ibunya Hariz. Keuangan Bu Aida pun terjamin karena selain ia mendapat teransferan dari Burhan, anak angkatnya. Juga ditambah dengan kiriman dari Nelly dengan jumlah yang besar.


Terbiasa dimanjakan dengan materi yang berlebih hingga membuat hati Bu Aida tertutup. Ia merasa bahagia ketika pertama kali mendengar Hariz menikahi Nelly. Harapannya untuk bisa mendapatkan menantu tajir bisa terlaksana walaupun ada sebongkah hati yang tersakiti, yaitu menantu pertamanya. Yang tak lain adalah Dhena.


Bu Aida yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan menjadi lupa diri ketika ia dipertemukan dengan sosok Nelly yang sering memberikannya hadiah dan kiriman uang.


"Kamu harus kembali rujuk dengan Nelly, Hariz," ucap Bu Aida menatap ke arah Hariz.


"Tapi, Bu. Dhena juga saat ini sedang hamil," sangkal Hariz berusaha menolak.


"Gak ada tapi-tapian. Kalau kamu gak sampai rujuk lagi dengan Nelly, Ibu sangat kecewa dengan kamu Hariz." Bu Aida berkata tanpa menghiraukan perasaan Dhena yang masih duduk terpekur.


"Hoeekk .... !"


Sembari menutup mulutnya Dhena berlari ke arah kamar mandi. Bu Aida melirik ke arah Dhena sekilas sambil bergumam, "Ih, lebay banget kamu Dhena."


Dhena menumpahkan semua isi perutnya sampai badannya menggigil hebat. Rasa getir menjalari tenggorokannya berbaur dengan rasa perih di dalam hatinya. Mendengar semua permintaan Bu Aida kepada Hariz.


***


"Mas mualku kambuh lagi. Padahal perutku melilit minta diisi," ungkap Dhena kepada Hariz.


Dhena mulai merasa kesulitan lagi dengan makanan yang ia makan. Tadi ia sempat menyeduh mie instan cup berharap bisa meredam rasa laparnya. Tadinya ia membayangkan ketika memakan makanan instan itu bisa terasa segar ternyata kenyataannya. Beberapa menit setelah ia berhasil menghabiskan semua mienya perutnya seketika terasa mual kembali. Semua makanan yang tadi sudah sempat masuk langsung naik lagi kerongkongan dan dimuntahkan tanpa sisa. Hingga perut Dhena terasa kosong lagi.


"Aku minta yang seger-seger, Mas.


"Mau apa?"

__ADS_1


"Aku mau jambu air yang berwarna merah."


"Jam segini di mana nyarinya?"


"Tadi aku lihat di story WA-nya Mbak Ningsih, katanya banyak di rumahnya."


"Tapi, ini, kan, sudah jam setengah sepuluh malam. Apa gak ganggu Mbak Ningsih. Takutnya dianya sudah tidur," tutur Hariz hati-hati.


"Barusan aku sudah WA katanya boleh diambil sekarang. Dianya belum tidur, kok, Mas." Dhena menjelaskan.


Hariz yang sudah sempat memejamkan matanya berusaha menanggapi permintaan sang istri dengan penuh kesabaran. Karena ia khawatir kejadian yang lalu terulang kembali dan selalu diungkit-ungkit oleh Dhena.


Kejadian ketika Dhena pertama kali ngidam putranya pernah minta dibelikan seafood tapi, oleh Hariz diabaikan dan tidak sempat dituruti. Hariz berusaha belajar dari kesalahan agar hal yang membuat istrinya pernah kecewa itu jangan sampai terulang untuk kedua kalinya.


Hariz kemudian bangkit dari tidurnya lalu memakai celana panjang.


Beberapa menit kemudian terdengar suara mesin motor dinyalakan dan mulai pergi menjauh. Dhena berjalan ke luar kamar duduk di ruang tengah sambil menyalakan pesawat televisi menyaksikan siaran berita di salah satu stasiun tivi swasta.


Hampir lima belas menit, akhirnya Hariz kembali dengan kantong keresek ditangannya. Membawakan pesanan Dhena yang sedari tadi menunggu.


"Alhamdulillah, ada kan, Mas jambunya? Tangan Dhena meraih pelastik yang diberikan sang suami ke arahnya. Sorot mata Dhena langsung berbinar ketika melihat jambu yang ia inginkan memenuhi kantong kresek berwarna hitam yang dibawa oleh suaminya.


Tanpa pikir panjang Dhena langsung menyambar satu biji jambu dan mengunyahnya penuh semangat. Rasa segar dari buah berwarna merah menyala itu langsung menjalar di lidah perempuan yang sedang mengalami kenaikan hormon estrogen itu.


Tak terasa Dhena sudah hampir menghabiskan setengah keresek jambu yang sedari tadi berada di hadapannya.


"Udah dulu makan jambunya. Buat besok lagi. Kalau sampai kebanyakan gak baik, nanti malah jadi mencret." Hariz memperingatkan sang istri yang sedari tadi tak berhenti mengunyah buah yang memiliki banyak kandungan airnya itu.

__ADS_1


"Mas mau?" Dhena menawari Hariz.


"Buat yang lagi ngidam aja, takut nanti nanyain lagi kalau kurang," jawab Hariz.


"Oya, tadi Mas sudah mau tidur padahal, ya, dibangunin minta tolong ambilin jambu ini? Marah gak Mas, aku dah ganggu tidur Mas tadi?" pancing Dhena penasaran.


"Kalau memang marah, ya, Mas mana mungkin malam-malam maksain berangkat buat ngambil buah itu," jawab Hariz kemudian.


Dhena mengulas senyum penuh bahagia. Ia yakin jika kini sang suami sudah jauh banyak berubah. Tidak seperti saat ia hamil pertama anak mereka yang membuat hati Dhena sering merasa tertekan dan terpuruk.


Sedangkan untuk kehamilan keduanya ini Dhena diuji dengan hadirnya orang ketiga yang masih merong-rong rumah tangganya yang belum stabil. Harapan Dhena semoga ia bisa dan dapat melaluinya dengan penuh kesabaran. Dhena yakin, setiap rumah tangga pasti akan dihadapkan dan mengalami dengan ujiannya masing-masing. Tergantung kita bisa menjalaninya atau menyerah begitu saja.


Dhena tak ingin anak-anaknya sampai mengalami anak yang broken home gara-gara keegoisan kedua orang tuanya. Dhena sudah mengalami begitu pahit dan getirnya menjadi anak korban perceraian kedua orang tua. Selain tak bisa merasakan kasih sayang yang utuh juga sering mendapat bulyan dan nyinyiran dari teman-temannya gara-gara memiliki ibu atau bapak tiri. Itu semua sangat menyakitkan. Dan sangat membekas hingga kini Dhena sudah berumah tangga dan memiliki anak.


Bu Aida yang sedang tidur di kamar depan merasa terusik dengan obrolan Hariz dan Dhena yang masih duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Wanita itu pun lalu membuka pintu kamarnya dan menghampiri anak menantunya.


"Kalian ini, lagi ngapain sih, malam-malam bukannya pada tidur malah masih pada ngobrol terus, gangguin Ibu yang lagi tidur saja," gerutu Bu Aida sambil berdiri di ambang pintu ruang tengah.


Dhena dan Hariz saling berpandangan.


"Tadi Dhena belum makan, Bu, terus minta diambilin jambu ke rumah tetangga." Hariz berusaha memberikan penjelasan apa adanya.


Hariz tak menyangka jika jawabannya itu ternyata membuat ibunya berang dan memaki Dhena di hadapannya.


"Kamu nyuruh Hariz malam-malam begini ke rumah orang, Dhena?" tanyanya sinis ke arah Dhena.


"I ... iya, Bu," jawab Dhena tergagap.

__ADS_1


"Dasar aleman saja kamu itu, mentang-mentang lagi ngidam seenaknya minta dan nyuruh-nyuruh suami gak lihat waktu." Bu Aida bersungut-sungut. Kemudian ia membalikan badannya meninggalkan Dhena dan Hariz.


__ADS_2