Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Aini Tes Kehamilan


__ADS_3

"Mana aku tau, Mas. Aku saja tidak tau, kamu habis pergi kemana?" ucap Aini santai.


Al duduk di sofa yang sedang buat tiduran istrinya. Dia mencubit hidung istrinya.


"Gemes banget si, sama kamu, Ai,"


"Mas, sakit tau!"


"Aku nggak sakit, tuh," ucap Al.


"Mas, memangnya darimana?" tanya Aini sambil duduk di samping suaminya.


"Ai, tebak apa yang suamimu beli?"


"Nggak mau, ribet. Tinggal tunjukkan, gampang kan?"


"Yah, kamu nggak seru. Pura-pura nebak kan bisa," ucap Al sewot.


"Mas, mana? Jangan bikin penasaran berlebihan, dosa,"


"Janji dulu, kalau kamu nggak bakalan marah ketika tau apa yang suamimu beli, aku hanya ingin memastikan sesuatu. Soal hasil aku nggak memikirkan, yang penting tau,"


"Ih, ... apa si? Bikin penasaran saja kamu, suamiku yang tampan," ucap Aini sambil terkekeh.


"Ya Allah, kedengarannya saja manis. Tapi raut mukanya menunjukkan ejekan, nasib-nasib,"


"Aku ikhlas ngomong tampan, asli."


"Ini lihat, janji jangan marah. Kalau marah besok nggak dibelikan cilok sama es krim," ucap Al sambil ngakak.


Aini sangat antusias membuka kresek, dia melihat benda pipih kecil. Matanya berkaca-kaca.


"Mas, aku takut. Nggak mau cek, lagian baru telat 2 hari kan?"


"Ai, Sayang. Istri mas Al yang cantik, tadi mas sudah bilang kan? Jangan pikirkan hasilnya, lihat saja bawaannya kamu lesu, padahal naf*su makan meningkat. Terus ada lagi, yaitu sensitif," ucap Al sambil menggenggam tangan Aini.


"Haha ... kaya di sinetron ya, Mas?"


"Sinetron, bagaimana?"


"Iya, kamu romantis banget,"


"Astaghfirullah, ketawanya ngeri banget, Sayang. Memangnya kamu nggak sadar siapa suamimu selama ini, laki-laki tampan, romantis, tanggungjawab dan penuh kasih sayang,"


"Pfff ... narsis," ucap Aini sambil berlari ke kamarnya.

__ADS_1


Memang benar, Aini merasakan hormonnya sensitif. Bawaannya ngantuk di pagi hari, lapar melulu. Padahal cacingan juga bisa ya, perutnya lapar terus.


Untuk hasil akurat itu tes di pagi hari, tapi karena suaminya penasaran maka detik ini juga mau tes. Al beli 5 alat untuk mendeteksi kehamilan. Hari ini pakai 3 dulu besok pagi 2.


Aini masuk ke kamar mandi dengan santai, tidak ada beban sedikitpun. Dia pasrah dengan ketentuan Allah.


Ini bukan hal pertama bagi Aini untuk tes kehamilan jadi sudah paham. Selesai dengan urusannya Aini keluar sambil membawa 3 benda dengan hasil sama.


"Astaghfirullah, sejak kapan, Mas. Berdiri di depan pintu," Aini sambil memegang dadanya.


"Melihat suami di depanmu malah seperti melihat hantu, Aini oh Aini,"


"Mas, ini," Aini memberikan ketiga benda pipih itu ke tangan suaminya. Dia berjalan melenggang keluar kamar.


"Ya Allah, kenapa jadi seperti itu ya? Padahal nggak salah makan apa-apa?"


Al membuka tangannya yang tadinya sama Aini disuruh menggenggam.


"Alhamdulillah, ternyata benar dugaan ku. Terimakasih Ya Allah, semoga sehat terus istri dan calon dede bayinya. Ai ... Ai!" Al berteriak mencari keberadaan istrinya.


"Lagi makan lagi, Sayang. Kamu nggak mau mendapat pelukan selamat dari suamimu?" tanya Al heran. Wanita pada umumnya sangat bahagia mendapat kata terimakasih dan selamat dari suami.


"Nggak perlu, aku masih mau makan. Pelukan dan kata selamat tidak bikin kenyang," ucap Aini sambil terus mengunyah makanan.


"Sekarang bilangnya begitu, awas kalau nanti ngambek gara-gara nggak di peluk!"


Al melihat istrinya yang sedang makan membuat dia ingin makan juga. Dia ikut menyendok makanan yang ada di piring istrinya.


"Mas, jangan banyak-banyak. Itu punyaku, Mas,"


"Astaghfirullah, seperti orang kekurangan saja. Kalau kurang tinggal nambah kan, Sayang. Itu masih banyak."


"Ya sudah, ini habiskan saja sekalian!" ucap Aini kesal sama suaminya.


Dia merasa seperti anak kecil yang direbut mainannya. Kesal, marah dan malas berdebat.


"Aini, mau kemana? Tuh kan, ngambek lagi dia,. Sabar ... sabar," ucap Al sambil mengelus da*da sendiri.


Al menghabiskan nasi yang ada di piring Aini.


"Dari tadi di cari di kamar tidak ada, ternyata disini," ucap Al setelah menemukan keberadaan istrinya di ruang tamu sambil makan cemilan di toples yang di pangkuannya. Al tertawa namun di tahan, takut istrinya tersinggung lagi. Kemudian melakukan mogok makan malah akan berbahaya bagi janinnya.


"Sayang, nanti sore habis asar kita ke dokter obgyn ya. Supaya kita tau perkembangannya," rayu Al.


Aini masih enggan untuk berbicara dia hanya mengangguk tanpa melihat lawan bicara.

__ADS_1


"Ya sudah, aku disini dicuekin dan tidak dianggap. Mending aku mau mengontrol laporan anak-anak saja lah," ucap Al sambil melangkah meninggalkan ruang tamu.


"Mas! Jangan kemana-mana, disini dulu. Aku mau di peluk," Al hanya geleng-geleng kepala. Pusing kalau memikirkan ucapan istrinya. Iya bisa berarti tidak, bisa juga berarti iya. Begitupun dengan pernyataan tidak, kata pernyataan tidak bisa berarti iya, bisa juga berarti tidak.


"Sayang, sudah dibilang dari dulu. Jangan pakai bahasa kode dengan suami kamu. Kamu sendiri kan yang bilang kalau aku makhluk tak peka. Aku mengakui itu, Sayang,"


"Aku kesal sama kamu, Mas," mendengar ucapan istrinya Al terkekeh.


"Iya, tau. Mas yang salah titik. Sudah puas kan, suamimu sudah mengakui kesalahannya,"


"Mas, aku mau ke kamar. Persiapan sholat dzuhur kan? Tiduran sebentar, kamu boleh ke belakang sekarang," ucap Aini melu-malu.


"Siap, ratu," ucap Al sambil mengacak pucuk jilbab istrinya.


"Mas, cium dulu,"


"Hem, manja ya."


Al menuju ruang kerjanya untuk mengecek laporan masing-masing divisi. Ia tersenyum puas melihat hasil kerja seluruh karyawannya.


Kinerja semua karyawan Al sangat bagus, meski tetap saja ada yang semaunya sendiri namun hanya segelintir dan di anggap wajar. Kerjanya ogah-ogahan maka resikonya hanya dapat UMR,


Ponselnya berkedip menandakan ada pesan masuk.


[Pak, saya mau ketemu dengan Pak Al]


[Baik, Pak Burhan. Setelah sholat Dzuhur saya ke rumah, InsyaAllah] balas pesanku.


[Aku tunggu, Pak Al. Ini ada kaitannya permintaan Bapak tadi pagi]


[Siap, Pak. InsyaAllah nanti saya akan mampir ke situ]


Al melupakan satu hal, hari ini meminta Pak Burhan untuk mencabut tuntutan, atau paling tidak memberi kesaksian kalau Paman Sarno tidak terlibat, hanya menuruti perintah Zaki.


Dia bergegas menuju kamar menemui istrinya


"Sayang, mas mau bicara," begitu membuka pintu dia langsung bicara. Dan ternyata dia terlelap.


"Sayang, sudah hampir Adzan. Bangun, Sayang," ucap Al sambil menggoyangkan pundak istrinya.


"Aku masih ngantuk banget, Mas," Aini merengek.


"Sayang, nggak baik tidur setelah makan,"


"Yang nggak baik itu tidur sambil makan," Aini duduk sambil terkekeh

__ADS_1


"Kamu itu ya, sekarang kalau diajak bicara selalu begitu, mas mau ketemu Pak Burhan habis Dzuhur,"


"Mas, jangan kemana-mana? Kalau boleh aku mau ikut?"


__ADS_2