Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Obat Hati


__ADS_3

Hampir lima belas menit Dhena menunggu balasan dari Gagah. Tapi belum juga ada tanggapan dari lelaki yang berprofesi sebagai dokter spesialis THT muda itu.


Dhena melangkahkan kakinya ke pintu kamar mandi untuk membersihkan diri. Wanita itu mulai mengaliri sebagian tubuhnya menggunakan air yang terasa dingin menyentuh kulit berharap bisa meluruhkan semua penat yang ia rasa.


Dhena masuki kamar kembali, sebelum berganti pakaian ia ingin memastikan apakah sudah ada jawaban apa belum dari lelaki yang barusan tadi ia kirim pesan. Perempuan itu melihat pesan yang sudah ia kirim tadi masih terlihat centang satu abu-abu. Ia menghela napas berat berusaha mengusir rasa sesak dalam dada.


'Sama siapa aku harus membagi beban ini?' lirihnya. Dhena bergegas memakai pakaian dan hijab lebarnya. Tak lupa ia memakai kaus kaki untuk menutup auratnya secara sempurna. Sore itu ternyata ia harus mengambil sebuah gamis yang sedang dijahit oleh penjahit langganannya. Dhena berjalan ke luar rumah seorang diri karena keadaan rumah masih dalam keadaan sepi.


Dhena berjalan menyusuri jalan raya yang mulai terlihat ramai. Setelah ia mengambil baju gamisnya di tempat tailor yang terletak di perempatan jalan.


Ponsel yang berada di saku gamis yang ia kenakan terasa bergetar. Dhena menghentikan langkah sejenak. Kemudian perempuan itu memicungkan mata untuk memastikan siapa gerangan yang sedang melakukan panggilan itu. Perlahan wanita itu menggeser layar kaca benda pipih dengan bentuk segi empat itu.


"Hallo, Assalamualaikum, Mas, Gagah?" sapa Dhena memastikan.


"Kamu masih di rumah?" tanya suara bass dari ujung sana memastikan.


Dhena memutar badan sambil memperhatikan sekeliling.


"Enggak Mas, aku sekarang lagi berada di jalan anggrek persis di samping rumah makan Bundo yang tak jauh dari perempatan." Dhena menjelaskan.


"Sekarang kamu masuk ke rumah makan itu lalu duduk di situ, jangan kemana-mana dulu. Saya sedang menuju ke sana!" pinta Gagah dengan terburu. Lalu ia memutuskan sambungan setelah meminta Dhena untuk menunggunya di sana. Gagah kemudian dengan tergesa melakukan kendaraan roda empatnya menuju lokasi yang barusan sudah disebutkan oleh Dhena.

__ADS_1


Hanya butuh waktu sepuluh menit Gagah sudah terlihat memarkirkan mobilnya persis di depan rumah makan yang di bagian depan atasnya bertuliskan rumah makan khas Padang yang berjejer dengan mini market di sebelahnya.


Dhena menghela napas lega setelah orang yang ditunggunya akhirnya sudah di depan mata.


Dengan langkah tergesa kemudian Gagah menghampiri meja yang di sana sudah ada seorang wanita yang sedang menunggunya.


Sebelumnya Gagah memesan dua gelas teh manis hangat untuk dirinya dan Dhena.


"Kamu kenapa, Dhen?" tanya Hariz mulai membuka obrolan.


Dhena masih bergeming menatap nanar ke arah Gagah seolah ia ingin mengatakan jika saat ini ia butuh orang yang bisa memahami isi hatinya yang sedang nestapa. Tapi, apa daya bibir wanita itu hanya mampu membisu, lidahnya seolah kelu untuk mengeluarkan kata-kata. Hanya tetes bening yang mulai luruh dari setiap sudut matanya hingga membasahi pipi. Ia tak mampu mengurai kegundahan yang memenuhi rongga dadanya.


"Minum dulu tehnya, biar sedikit lega," titah lski-laki berhidung mancung itu sembari tersenyum tulus ke arah Dhena.


Dhena meraih gelas yang tadi diberikan oleh Gagah. Kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang memang sudah mulai terasa kering karena habis menangis.


"Aku sudah tak tahan jika harus terus bertahan di sini, Mas," ungkap Dhena lirih.


Obrolan mereka berdua terjeda ketika kumandang azan mulai terdengar dari arah masjid terdekat. Kemudian Gagah mengajak Dhena untuk melaksanakan kewajiban salat lima wsktu terlebih dulu.


Dhena mengekor di belakang lelaki berrambut cepak itu. Usai mengambil air wudhu Dhena mulai mengenakan mukena yang sudah disediakan oleh pihak masjid setempat yang memang dikhususkan untuk bisa dipakai oleh semua jema'ah perempuan.

__ADS_1


Usai melaksanakan salat berjama'ah kemudian imam masjid itu memberikan sedikit tausyiah kepada seluruh jam'ah yang hadir di dalam masjid sana.


"Jalan kehidupan seseorang memang selalu berubah, berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik, bertukar-tukar. Kadang kita berada di atas, kadang di bawah. Kadang maju, kadang mundur. Tapi, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita, yaitu hati yang selalu tenang, damai, dan tetap teguh dalam kebenaran."


"Hanya orang beriman yang Allah anugerahkan ketenangan dalam hatinya. Seperti yang sudah Allah firmankan di dalam kitabnya, "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS al-Fath: 4).


Kesulitan dan permasalahan hidup terkadang membuat hati gelisah, cemas, dan jauh dari ketenangan. Apalagi, jika hati kita telah dihinggapi iri, dengki, hasud, ujub, takabur, dan penyakit hati lainnya.


Padahal, jika hati dalam kondisi tenang, lisan dan ang gota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang di benarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi.


Sedikitnya ada lima hal yang mesti dilakukan. Pertama, berdoa dengan penuh keimanan dan ke sungguhan. Memohon kepada Allah SWT agar menganugerahkan kebersihan dan ketenangan hati. "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman." (QS at-Taubah: 26).


Kedua, bersihkan hati dari rasa dendam dan dengki. Sepatutnya kita berdoa dan ber usaha semaksimal mungkin agar ter hindar dari keduanya (QS al-Hasyr:10).


Ketiga, berprasangka baik. Ini merupakan faktor paling utama yang akan mengantarkan kita kepada ke bahagiaan. "Hai orang-orang yang beriman, jauhi lah kebanyakan prasangka (kecuriga an), karena sebagian dari prasangka itu dosa." (QS al- Hujurat: 12).


Keempat, kesabaran dan ketabahan. Hal tersebut mampu melumatkan penderitaan dan kesusahan. "Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS Yusuf: 18).


Kelima, pemberian maaf dan toleransi (QS asy-Syuura:43). Al-Mawardi mengungkapkan, "Di antara hak sesama Muslim adalah dimaafkan kesalahannya dan ditutup kekurangannya. Karena barang siapa memaafkan dan menutupi kekurangan saudaranya, niscaya dia akan dihindarkan dari kefakiran dan dijauhkan dari kebodohan."


Masih dengan balutan mukena di tubuhnya Dhena berusaha menyimak dan mencerna setiap kata dan kalimat yang dipaparkan oleh imam masjid tadi. Entah suatu kebetulan atau tidak. Dhena sering kali mengalami suatu hal yang dibaca atau didengarnya itu begitu tepat dan pas dengan keadaan hatinya saat itu.

__ADS_1


__ADS_2