
"Zal, pengalaman orang tua jauh lebih banyak dibandingkan dengan kita. Jangan anggap remeh mereka, bisa jadi malah mereka kenal satu sama lain. Mengingat Pakdhe Darto tinggal disini juga sudah 20 an tahun, sama seperti Bapakmu,"
"Pak, tapi bagaimana kalau hal ini justru membuat Lina malah tidak suka dengan ku?"
"Nggak usah galau lah, Zal. Yang kamu bayangkan saat ini belum tentu terjadi, bisa saja sebaliknya kan?" ucap Aini menenangkan.
"Bu, kalau seandainya jadi Lina sikap apa yang ibu ambil dalam situasi ini?" tanya Izal.
"Nggak bisa gitu, Zal. Itu namanya nyuri star, nikmati saja episodenya. Nggak seru nanti kalau minta bocoran," ucap Al tertawa. Al memang sudah pernah membicarakan dengan Lina jika Izal punya niat serius. Lina sempat ragu dan menolak mentah-mentah namun nasihat Al dan Aini membuat dia pasrah, dia akan menerimanya. Akan menjalani pacaran setelah menikah, itu kenapa Lina diantar ke rumah Budhe, untuk menenangkan diri tujuannya.
"Ye ... Pak, aku cuma tanya jika itu terjadi pada Bu Aini," ucap Izal dengan sewot.
"Yang jelas istriku ketika aku meminta ijin untuk dekat justru jawabannya meminta langsung nikah, Zal. Menang banyak kan?" ucap Al sambil tersenyum jail. Izal yang melihat tingkah Bosnya dari spion semakin cemberut.
"Bangga!" celetuk Izal.
"Kamu tuh ya, sekarang jadi mirip Lina, Zal. Bawaannya mau perang terus sama kita-kita, iya nggak sih, Mas?"
"Betul, Sayang," jawab Al dengan mesra sambil merengkuh istrinya untuk mendekat.
"Nggak usah pamer kemesraan, tau yang didepannya masih jomblo!"
"Tuh kan, Mas. Semakin menjadi, berjodoh kali ya?"
"Aamiin," jawab Izal sambil tersenyum.
"Nggak jadi marah dia tuh, Ai."
"Ayah, Bunda, Abang! Berisik banget dari tadi, Alia ngantuk!" teriak Alia.
"Bobo saja, Dek. Jangan mendengarkan pembicaraan Ayah dan Bunda yang tak jelas," ucap Izal puas.
Alia pun tertidur dengan posisi duduk dan memeluk boneka kesayangannya.
__ADS_1
"Zal, rumahnya yg warna hijau didepan itu. Kamu lihat kanan jalan,"
"Lah, yang itu. Dulu aku pernah kesitu waktu masih kecil, diajak Bapak, iya ingat banget pas itu naik pohon mangga nggak bisa turun,"
"Nangis?" cibir Al.
"Nggak lah, mana bisa nangis. Sudah jadi anak pemberani sejak kecil," ucap Izal bangga.
"Tapi melamar anak orang nggak berani ya?" tanya Al meledek. Tak terdengar jawaban hanya tarikan nafas panjang Izal. Mobil segera memasuki pekarangan yang luas, suasana sangat asri terlihat ada pohon mangga yang sangat besar diperkirakan umurnya lebih dari 20 tahun. Pohon inilah yang di maksud Izal.
Mobil yang dikendarai Bapak diparkiran tepat di samping mobil Al. Para orang tua turun dalam kondisi terbahak-bahak, entah menertawakan apa.
Budhe Surti dan Pakdhe Darto sudah menyambut kedatangan kami di depan pintu, mereka sudah dikabari oleh emak. Pakdhe mempersilahkan semua untuk masuk. Alia dalam gendongan Al, masih dalam keadaan tertidur.
"Jadi, Izal itu anak kamu toh Yul?" ucap Budhe Surti.
"Iya, Mbak. Yang dulu pernah nyangkut di pohon mangga depan," ucap Yuli sembari tertawa.
"Iya, Mbak. Dulu beberapa tahun dia tinggal sama Kakek Neneknya di Jawa Barat,"
"Pantesan,"
"Hem ... Bu, reunian sudah selesai?" ucap Pak Danu.
"Bapak itu kebiasaan, nggak bisa lihat orang senang," ucap Yuli sambil cemberut.
"Budhe, Lina mana kok nggak keluar? Sama Mas kemana?" tanya Al.
"Lina malu katanya Al, sana kamu yang bawa dia kedepan. Kalau Mas mu lagi pergi menemani istrinya, kerumah temannya tadi,"
"Ai, kebelakang yuk. Kita bawa Lina kesini," ucap Al dengan kocak. Alia sudah ditidurkan di sofa panjang, bersama kakeknya.
"Ye ... sendirian kenapa,"
__ADS_1
"Bisa-bisa nanti kesini lagi dengan tangan kosong," bela Al. Aini menurut sama suaminya menjemput Lina. Ternyata berbeda dengan yang dikatakan Budhe, Lina sedang menyiapkan minum buat para tamunya. Akhirnya Al dan Aini membantu Lina menyajikan minum dan temannya keruang depan.
Lina berpenampilan sangat anggun, dengan jilbab lebarnya senada dengan warna gamisnya tidak menutup kecantikan sama sekali, justru menambah aura kecantikan Lina.
"Sayang, sini duduk dekat ibu. Ibu mau kenalan," ucap Yuli sambil meraih bahu Lina. Orang tua Lina langsung terpesona dengan penampilan Lina yang tak jauh beda dengan Aini. Lina menurut dan duduk persis disamping Bu Yuli. Tubuh ramping mungil khas Asia dengan tinggi badan 160 cm, meski tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya namun terlihat sangat menawan.
"Patas saja anak Ibu berkeinginan lekas menikah, takut kamu kecantol laki-laki lain katanya, Ibu juga sangat setuju, bukan hanya cantik tapi juga Solehah, MasyaAllah," ucap Bu Yuli.
"Jangan berlebihan Bu, nanti saya terbang," ucap Lina tak enak dengan kalimat pujian ibunya Izal.
"Kenalkan ya, Nak. Aku ibunya Izal, Yuli nama ibu. Yang disamping pakdhe kamu itu Pak Danu, ayahnya Izal. Terus yang disamping Mas Al itu Izal namanya," ucap Yuli di sambut dengan gelak tawa seisi rumah. Membuat Alia terbangun, dan bingung melihat sekeliling.
"Yul, nggak pernah berubah ya kamu. Cocok lah sama mereka. Mereka jarang serius jika sama keluarga, seriusnya kalau sama orang lain," ucap Surti.
"Kakek, kenapa pada ketawa. Mana Tante Lin"
"Kamu kaget ya, Sayang. Itu Tante kamu, lagi sama nenek Yuli," jawab kakeknya. Alia segera berlari kearah Tantenya.
Pembicaraan berlanjut dengan poin bahwa Izal berniat melamar dan menikahi Lina, dan rencana keberangkatan ke Jawa Tengah kampung halaman Lina.
"Izal, Lina. Dengan pengalaman kalian yang sama-sama pernah tersakiti jangan menjadi suatu ketakutan, justru jadikan pelajaran jika disakiti rasanya seperti ini jadi justru kalian bisa saling menjaga nantinya. Kepercayaan itu sangat mahal, dimana kita bisa dipercaya meskipun pasangan kita tidak berasa disamping kita. Jika kepercayaan itu sudah kita miliki maka tak ada ketakutan sedikitpun dengan yang namanya penghianatan, yang ada kita sudah pasrahkan sepenuhnya sama Allah," ucap Aini menasihati Lina yang masih ragu dengan niat Izal.
"Yakinlah, ketika pondasi iman kita baik. Maka Allah akan jadikan semuanya menjadi yang terbaik untuk kehidupan kita," Al menambahkan.
"Kalian juga bisa belajar dari pernikahan Al dan Aini. Kenal baru 2 kali pertemuan, itupun pertemuan tak sengaja mereka memutuskan untuk menikah, dalam waktu kurang dari dua bulan. Itu artinya jika niat kita memang benar-benar ibadah, menyempurnakan separuh iman kita maka Allah akan mudahkan munculnya kasih sayang dalam rumah tangga," Bapak Al menambahkan.
"Nggih, Pakdhe Bagyo. Kulo manut, InsyaAllah siap dados garwone Bang Izal,"
(Ya, Pakdhe Bagyo. Saya nurut, insyallah siap jadi istri Bang Izal,")
"Alhamdulillah," ucap mereka bersamaan.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1