
"Pak Arif, ada yang sakit?" tanya Al panik.
"Nggak ada, Pak. Hanya lecet sedikit tangannya. Kaki aman saya pakai celana panjang dan sepatu lengkap," ucap Pak Arif.
"Kenapa Pak Arif buru-buru? Tangannya biar di obati dulu. Bang, P3K minta tolong di ambil di mejaku,"
"Sudah lagi di ambil sama Lastri, Pak," ujar suami Lastri. Pak Arif duduk dihadapan bosnya ditempat biasanya karyawannya istirahat makan dan minum.
"Maaf, Pak. Saya kurang hati-hati jadinya jatuh. Saya disuruh Ibu menyampaikan, kalau makanan Bapak sudah disiapkan, pesan beliau makan saja dulu, kemungkinan Bu Aini dan Alia makan di luar. Nanti beliau akan pulang agak malam, hanya itu pesannya, Pak,"
"Terimakasih, Pak Arif. Sudah diobati, Pak?"
"Sudah, hanya lecet sedikit. Bahkan aku sudah merasakan yang lebih sakit dari ini, yaitu di hianati oleh istriku," ucap Pak Arif pilu. "Eh ... malah jadi curhat," ucapnya lagi dengan tertawa.
"Saking semangatnya ya, Pak Arif. Mau menyampaikan amanah," ucap Lastri.
"Iya, Mbak Lastri. Tapi ibu pesan, Mba Lastri pulang saja tak perlu menunggu," menyampaikan pesan dari Aini.
"Bang, ayo kita pulang. Alhamdulillah aku sudah tenang mendengar pesan dari ibu. Insyaallah beliau baik-baik saja,"
"Selamat berjuang, Pak Al. Semangat!" pesan suami Lastri. Al mengangguk dan hanya menanggapi dengan senyum kecut. Al dan Pak Arif ke masjid untuk sholat Maghrib. Lastri dan suaminya tidak tau duduk permasalahannya, hanya mereka paham jika bosnya sedang berselisih pendapat. Bukankah sesuatu yang wajar dalam rumah tangga terjadi perselisihan ataupun perbedaan pendapat?
Selesai sholat isya tak ada niat untuk menyentuh makanan yang di hidangkan oleh istrinya, selera makannya lenyap. Padahal yang dimasak Aini adalah makanan kesukaan suaminya.
__ADS_1
Itulah, makanya kalau ngomong mesti dipikir. Kalau sudah begini repot kan? Al terus menyalahkan dirinya sendiri.
Pukul 20.30 terdengar deru kendaraan memasuki rumah Al buru-buru keluar rumah menyambut kedatangan dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Mata Al tercengang manakala melihat pemandangan di depannya. Benarkah itu istriku?
Al terbengong melihat istrinya yang tersenyum begitu manis, namun ada pemandangan janggal mengenai dua wanita didepannya. Alia tangannya penuh dengan tas belanjaan, begitu juga dengan Aini.
"Mas, kenapa diam saja. Bantuin juga boleh, kenapa bengong?" Al tidak menanggapi kalimat istrinya. Dia masih shock merasa tidak mengenali istrinya lagi.
"Ayah, jalan-jalan kali ini seru. Bunda ajak aku ke taman bermain di Mall. Lihat ini bunda belikan banyak baju buat Alia. Ayah ... kata bunda ayah sudah makan dirumah jadi Alia nggak bawa oleh-oleh buat ayah," Alia terus berceloteh.
"Ayah, tolongin aku. Ini berat," rengek Alia menyerahkan semua barang belanjaan kemudian berlenggang masuk rumah tanpa berdosa.
Aini langsung mengikuti anaknya setelah meletakkan belanjaan dikamar. Mendampingi anaknya untuk bersih-bersih, belajar dan muraja'ah hafalan. Aini menemani anaknya sampai tertidur. Sejak tadi Al hanya menjadi penonton aktivitas mereka. Batin Aini tersenyum puas melihat kebingungan suaminya.
"Sayang, darimana? Maafkan. Aku ... " suara Al tercekat.
"Kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah ya dengan penampilanku?" Aini menatap suaminya heran dengan reaksi yang ditunjukkan suaminya.
"Tidak, kamu justru semakin cantik. Tapi ... "
"Tapi apa, Mas. Heran ya, kok bisa aku belanja banyak. Mengabiskan banyak uang? Boros? Bukankah uangmu banyak, Mas. Tenang tak akan habis jikalau aku boros, bahkan Sari ikut kamu nafkahipun uang kamu masih banyak," dengan senyum menggoda.
"Bukan seperti itu maksudku, Sayang," jual Al gugup.
__ADS_1
"Terus gimana dong? Bukankan wanitamu ini sama seperti mereka, cukup dikasih duit yang banyak, percuma dong kalau nggak aku habiskan. Habisnya suamiku banyak duit. Aku tarik kata-kata siang tadi, aku tak menyesal resign dari karirku, justru aku bersyukur nggak perlu capek kerja, tinggal menikmati hasil dari ATM berjalanku, ah ... bukankah benar begitu? Aku cukup menikmati jerih payah lelakiku," dengan senyum mengejek sampai dia sendiri bergidik ngeri dengan tingkahnya sendiri.
"Aini, Mas bener-bener menyesal dengan ucapan waktu itu," ucap Al memelas.
"Kenapa harus menyesal? Oh ... Mas Al yang tampan. Bukankah kamu ingin merasakan sentuhan wanita yang banyak? Sini aku sentuh, mau dengan gaya apa?" mendengar ucapan istrinya yang semakin ngelantur Al matanya memerah.
"Aini, aku sadar dengan ucapanku sekarang. Mas sungguh minta maaf. Anggap waktu itu aku khilaf,"
"Khilaf? Baiklah aku akan menganggap kalau kamu khilaf. Deal ...ya ..." Aini menjeda kalimatnya. "Mas, mulai malam ini aku bukan lagi istrimu. Tapi wanitamu, Catat ya Mas ... wanitamu, jadi tugasku adalah menghabiskan uangmu dan melayani kemanapun kamu mau terutama di ranjang, aku standby 24 jam untuk kamu. Aku nggak ada masak, nyuci apalagi menjemur, nggak mau tanganku bau bawang dong, haha ... apalagi menjemur kepanasan nanti kulitku gosong masa mesti pakai payung, perawatanku mahal. Dan aku kan wanitamu, beda dong dengan tugas sebagai istri?" ucap Aini sambil tersenyum dan duduk di pangkuan suaminya dan bergelayut manja dengan tangan melingkar dileher suaminya .
"Aini, jangan seperti ini,"
"Jangan seperti ini bagaimana? Nggak mau disentuh, ah ... baiklah. Tapi tetap isi lagi saldoku ya, Mas? Biar tambah banyak duitku," Aini menarik tangannya dari leher suaminya namun dia masih duduk dipangkuan.
"Aini, aku mohon hentikan kegilaannya. Sudah cukup ..."
"Jadi menurutmu ini gila, bagaimana dengan yang Mas amati sewaktu bersama Zaki? Bukankah sangat menarik memandangi mereka? Beda ya, memandang yang haram jauh lebih menarik, padahal jelas-jelas ada yang halal? Perlu mas ketahui, aku bisa jauh lebih gila dari ini, tapi sayangnya aku masih sangat takut dengan murka Allah. Jadi cukup dengan merayu suamiku sendiri," Al tidak menjawab hanya memeluk erat tubuh istrinya. Al sangat paham, Aini seperti ini karena sangat kecewa dengannya.
"Aini, bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan suamimu ini? Aku akan datangkan Zaki untuk menjelaskan akhir pembicaraan kami waktu itu, aku akan melakukan semuanya yang kamu mau asal kamu memaafkan ku. Aini sungguh, Mas sangat menyesal. Aku hanya main-main menanggapi perkataan Zaki, bahkan ucapan paman Sarno juga bukan serius. Aku hanya main-main,"
"Main-main, kamu bilang? Sungguh malang nasib para wanita. Dengan bebas menjadi bahan bercandaan, aku tak sudi mendengarkan Zaki ngomong. Aku jijik dengan ucapannya, andai waktu itu dia tidak sedang berbicara dengan kamu maka aku juga tak akan mendengarkan. Jangan sekalipun kamu menyalahkan Zaki, karena dia memang sudah seperti itu sejak dulu. Yang perlu kamu salahkan adalah pertahanan kamu," Aini bangkit dari pangkuan Al dan mengurai pelukan suaminya.
"Ingat ya, Mas. Panggil saja aku di kamar tamu, nanti kamu bisa datang malam-malam saat istrimu tidur, ingat Mas. Hati-hati jangan sampai ketahuan," ucap Aini berbisik lalu meninggalkan suaminya.
__ADS_1
Al mengejar. Duk ... Arrrgggg!