Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Lina ngambek


__ADS_3

"Bapak, jangan melamun terus, temani itu cucu lagi main!"


"Lagi mengingat sapinya sudah dikasih makan belum ya?"


"Ya Allah ... si Bapak, nggak mungkin terlantar! Kemarin bukannya sudah Vidio call dangan Udin, sapinya sehat, Udin yang merawat juga sehat. Baru juga sebulan, Emak masih pengin disini lama, nungguin cucu. Kalau masih penasaran video call lagi, Pak,"


"Emak, nggak bisa diajak berkeluh kesah. Bapak ngomong satu, emak seribu. Jadi makin pusing dengarnya, mending momong cucu," ucap Bapak sambil mencari keberadaan cucunya yang sedang bersama Lina. Ternyata mereka berasa di ruang kerja karyawan ikut berbaur dengan mereka.


"Zal, jaga pandanganmu," tegur Al


"Yah, Pak Al. Perhatian banget sama Izal, sampai-sampai arah pandanganku diperhatikan, aku lagi perhatian sama calon ponakan, hehe," sambil menunjuk Alia yang bersama Lina.


"Percaya diri banget. Kalau sudah mantap segera sampaikan niat baiknya. Ingat kalau sudah siap!"


"Mau sholat istikharah dulu, Pak. Mohon petunjuk dari Allah. Pak kelihatannya Soleh juga sangat perhatian sama Lina," ucap Izal dengan wajah lesu.


Lina sepupu Al memang memiliki daya tarik tersendiri, namun sosok wanita yang sangat susah disentuh hatinya. Soleh sering memberi perhatian, namun Lina terlihat sangat cuek dengan sekitar. Latar belakang Lina ikut keluarga Al salah satunya juga karena gagal menikah. Calon suaminya menghamili wanita lain, membuat Lina seolah menutup diri dari laki-laki.


"Zal, dia itu memiliki latar belakang yang hampir sama dengan kamu. Hati dia sedang terluka, mungkin saat ini dia masih belum bisa membuka diri, semoga kamu bisa menjadi obat bagi dia dan semoga yang terbaik buat kalian. Aku dukung sepenuhnya jika kamu berniat serius, namun keputusan tetap sepenuhnya aku serahkan sama adikku. Dia yang mau menjalani kan?"


"Aamiin ... aku mengerti, Pak. Terimakasih, saatnya berjuang," ucap Izal penuh semangat.


"Bicarakan dengan orang tua, jangan bertindak sendiri tanpa sepengetahuan orang tua. Adikku bukan anak yang berpendidikan tinggi, bukan juga berlatar belakang orang kaya jadi pertimbangkan itu,"


"Mau kaya atau nggak, tetap setelah menikah menjadi tanggungjawab seorang suami. Jadi InsyaAllah orang tua tidak mempermasalahkan. Hal pendidikan memang penting sebagai calon ibu, tapi bukan berarti mutlak, karena pendidikan nantinya bisa didapat diluar sekolah formal. Misalnya ikut kelas parenting, ikut kajian dll,"


"Wah ... hebat MasyaAllah, Zal. Aku suka pemikiran kamu," ucap Al sambil menepuk pundaknya.


"Bang Izal, kesini!" teriak Alia.


"Bentar, Sayang."


Izal setengah berlari ke arah Alia, disitu ada Lina dan Bapak juga sedang duduk menemani cucunya bermain.


"Bang Izal, harus beli dagangan adek. Mau beli apa bang?"


"Beli yang di samping adek, dijual nggak?" sambil meledek Lina.


Sontak Lina melihat ke arah Izal, dengan pandangan malu. Pipinya sudah merah, Lina meski berasal dari desa namun kulitnya putih bersih jadi sangat terlihat jika sedang malu.

__ADS_1


"Zal!" tegur Bapak.


"Eh ... Pakdhe, nggak macam-macam kok, Pakdhe,"


"Adek jualan pizza, donat sama jus. Abang mau beli apa?" sambil menunjukkan mainan berbentuk macam-macam makanan.


"Abang beli pizza sama jus ya, Dek. Abang mau belikan tantenya Alia boleh?"


"Abang, Tante Lina itu punyaku jadi nggak boleh,"


"Abang juga abang kamu kan? Jadi boleh lah,"


"Iya deh, oke oke," sambil tersenyum.


"Dek, Abang kerja dulu ya. Mau jalan ini mengantarkan pesanan. Adek nitip beli apa, biar Abang belikan. Tanya sama Tante kamu juga ya?"


"Tanya sendiri lah, Bang! Orangnya disini juga," Alia kesal.


"Tantenya Alia, mau nitip beli apa. Biar Abang belikan," geli sendiri Izal dengan ucapannya. Bisa-bisanya dia bicaranya lembut, dalam hati dia tersenyum melihat respon Lina yang malu.


"Boleh apa saja, Bang?"


"Eh ... maaf. Maksudnya Tantenya Alia, Pakdhe maaf, keceplosan." ucap Izal malu.


Melihat respon Lina yang seperti itu Izal mengambil kesimpulan kalau Lina tertarik.


"Nitip beli seblak yang pedas level 10,"


"Nggak boleh!" jawab Izal dan Bapak serempak.


"Kok, gitu sih. Pakdhe, Bang Izal? Tadi boleh apa saja kok jadi nggak boleh?"


"Harus peduli dengan kesehatan sendiri ya, Pakdhe," ucap Izal kepada Pakdhe meminta dukungan.


"Iya, Lin. Kamu nggak ingat baru 3 hari yang lalu maagh kamu kambuh. Heran sama ponakan yang satu ini,"


"Ya udah, nggak jadi berselera! Beli pizza saja sama kamu ya, dek?"


"Ini Tante sayang, ini pizza-nya adek kasih bonus donat deh, jangan marah gitu Tan, nanti jadi jelek,"

__ADS_1


Izal menarik nafas panjang, meninggalkan mereka. Bener-bener terkadang wanita itu aneh, cepat banget ngambeknya. Eh tapi tunggu, dia berani ngambek sama aku itu artinya dia sudah bisa menganggap ku orang dekat. Izal bersorak senang dalam hati, tak terasa jadi tersenyum sendiri.


Sikap Izal tentu menjadi pusat perhatian teman-temannya, senyum sendiri tidak jelas.


"Trio, obat yang kemarin masih ada? punya Izal itu loh!" ucap Soleh. Yang ditanya justru kebingungan, kemudian tersadar kalau itu buat meledek Izal.


"Memang kenapa, Leh?"


"Tuh, Izal kambuh,"


"Ambil saja di meja, Pak Bos. Kemarin disimpan disana,"


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Izal bingung dengan ucapan teman-temannya. Tadi dia memang sempat melamun karena saking bahagianya.


"Alhamdulillah, sudah sadar Yo. Jadi nggak butuh lagi obatnya," Soleh dan Trio tertawa lepas. Izal nggak memperdulikan ucapan teman-temannya. Izal melanjutkan kegiatannya menyusun box pada motornya.


"Bang Firman, bawaannya semakin banyak saja ini. Luar biasa ... jiwa mudaku meronta-ronta kalah dengan Bang Firman," ucap Izal dengan wajah penuh semangat.


"Bang Izal bisa saja. Aku terbakar semangat Bang Izal, aku sangat paham siapa Bapak kamu. Tapi tidak serta merta berpangku tangan. Salut sama Bang Izal,"


"Gimana kabar Kak Indri?"


"Alhamdulillah sehat, terapi kemarin sudah dinyatakan sembuh,"


"Alhamdulillah syukurlah, ikut senang Bang,"


"Terimakasih, saya dengar Bang Izal yang pertama kali menyadari tentang gangguan psikologis yang dialami istri saya,"


"Jangan berlebihan, Bang. Semua berkat Allah yang menunjukkan kepada kami semua bisa melihat dari berbagai sudut pandang,"


"Iya, Bang. Aku jadi semakin sadar. Selama ini saya terlalu berlarut dalam lumpur dosa. Pantas saja Allah menghukum dengan kerjaan selalu berantakan," ucap Firman penuh sesal.


"Nggak perlu disesali, semoga kedepannya kita semakin bertambah baik, kapan Kak Indri mulai kerja?"


"Masih malu katanya, butuh waktu. Dia malu dengan kesalahan yang diperbuat,"


"Saya paham, Bang. Mudah-mudahan Kak Indri bisa mengalahkan rasa malunya untuk datang kembali disini,"


"Tapi Bu Aini sama Lastri rencana mau kerumah, menjemput Indri biar mau berbaur kembali,"

__ADS_1


"Alhamdulillah, semoga bisa menjadi solusi. Semangat terus Bang! Aku jalan dulu, sudah siap semua ini," menunjukkan box sudah tersusun rapi.


__ADS_2