
***
Matahari belum menampakan sinarnya ketika dari arah dapur terdengar suara sutil beradu dengan wajan. Ternyata Hariz sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Dari kemarin sore Dhena hanya berbaring di tempat tidur. Puncaknya malam tadi badannya terasa remuk redam disertai demam tinggi dan muntah-muntah hebat.
"Minum teh manis hangat dulu, ya, setelah ini sarapan." Sambil menyodorkan segelas teh manis Hariz berkata lembut kepada sang istri.
"Tapi mulutku terasa pahit sekali, Mas, takutnya muntah lagi nanti kalau diisi minuman atau makanan," tolaknya ragu.
"Coba aja dulu, daripada perutnya kosong nanti malah tambah parah gimana?" ucap Hariz seraya tangan kekarnya membantu membangunkan sang istri dari tempat tidur.
Setelah sedikit dipaksa akhirnya Dhena pun meminum beberap teguk teh hangat yang dibuatkan suaminya.
"Gimana kalau Mas cari bubur ayam dulu di pangkalan untuk sarapan? Mas sama Fathan nanti sarapan nasi goreng aja. Gak apa-apa kan, kalau Mas tinggal sebentar?" tanyanya, minta persetujuan.
"Iya, terserah Mas saja," jawab Dhena lirih.
"Tunggu sebentar ya, Sayang," ucapnya, seraya mencium ujung kepala sang istri lembut.
***
"Ayaah ... aku mau pup, teriak Fathan dari ruang tengah yang dari tadi asyik dengan tontonan kartun favoritnya.
" Iya, buka dulu celananya .... !" jawab Hariz, sang ayah.
Beberapa menit kemudian terdengar lagi suara cemprengnya Fathan dari arah kamar mandi.
"Udaah .... !"
"Ya, tunggu sebentar ya." Hariz menunda pekerjaan yang sedang membilas pakaian yang tadi dicucinya.
"Aku sekalian mandi, ya, Yah?" pinta Fathan kemudian.
Sedangkan Dhena hanya bisa menguping pembicaraan antara ayah dan anak itu dari balik kamar tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena kepalanya berat sekali walau hanya dibawa bergerak sedikit saja.
Usai mencuci dan menjemur pakaian, Hariz rupanya mulai mencuci piring dan peralatan dapur.
Hari ini harusnya Hariz berangkat kerja. Tapi, karena melihat kondisi sang istri seperti ini ia memilih minta izin demi mengurus istri yang sedang sakit serta Fathan yang masih berusia tiga tahun.
Memasuki waktu Zuhur Hariz baru bisa beristirahat setelah semua pekerjaan rumah satu persatu diselesaikannya.
***
"Mama ... nanti Fathan mau bawa mobil truk mainan ini ke pantai, ya? biar nanti aku bisa main pasir di sana," celoteh Fathan saat Dhena sibuk menyiapkan makan siang.
__ADS_1
Sedangkan Fathan sedang asyik dengan mainan truk kesayangannya.
"Ya, nanti Fathan bilang dulu sama Ayah kalau Fathan mau main ke pantai, ya," jawab Dhena.
Tak lama kemudian, terdengar deru motor Hariz memasuki halaman.
"Horee ... Ayah pulang, Ayah pulang .... !" Fathan melonjak kegirangan melihat ayahnya pulang.
"Ayah, besok pagi Fathan mau ke pantai sambil bawa truk ini, ya, Yah, boleh gak?" cerocosnya, tak peduli ayahnya baru datang dalam kondisi capek.
"Boleh dong, Sayang ... besok, kan, hari minggu Ayah libur, jadi bisa main seharian bareng Fathan sama Mama juga." Hariz mengiakan permintaan sang buah hati seraya menggendongnya dengan tas yang masih berada di punggung.
Dhena pun menghampiri Hariz dan mencium punggung tangannya takzim.
"Ayah mau salat apa mau makan dulu?" tanyanya, memberikan pilihan.
"Langsung makan aja, tadi Ayah udah salat di musala tempat kerja sebelum pulang."
***
"Ayoo ... Yah! katanya pagi ini mau ke pantai, jadi gak?" Fathan yang baru bangun tidur langsung menagih apa yang dijanjikan sang ayah kemarin.
"Coba tanya Mama dulu, boleh gak sekarang kita ke pantai? Kan Mama kemarin lagi sakit," titah Hariz kemudian.
"Jadi dong, ini Mama sedang nyiapin bekal untuk sarapan kita nanti di sana," jawab Dhena sambil menata nasi, lauk, dan sayur ke dalam kotak makanan. Hari ini Dhena merasa badannya sudah jauh lebih baik. Tidak seperti kemarin-kemarin. Mualnya sudah sedikit berkurang. Mungkin karena efek obat yang sudah diminumnya.
Sementara Dhena sibuk dengan urusan dapur, Hariz mengajak mandi putranya lalu memakaikan baju, dan menyiapkan peralatan lainnya yang akan dibawa. Setelah semuanya siap mereka pun berangkat ke tempat tujuan yang hanya membutuhkan waktu lima belas menit perjalanan menggunakan roda dua.
Hariz menggelar tikar yang dibawa dari rumah, mereka pun mulai sarapan pagi di alam bebas ditemani deburan ombak dan hangatnya sinar mentari pagi.
Setelah puas bermain pasir dan air laut Dhena mengajak pulang Fathan dan Hariz, karena matahari sudah mulai terasa panas.
Sesampai di rumah, Dhena langsung disambut Mang Ujang, tukang sayur langganan di depan rumah untuk belanja harian, setelah memilih beberapa sayuran dan lauk secukupnya Dhena mulai berjibaku dengan alat dapur untuk menyiapkan makan siang nanti.
Sedangkan Hariz langsung merendam pakaian kotor lalu mencucinya, tanpa diminta oleh Dhena. Sementara Fathan asik bersepeda ria di halaman depan.
"Mas, berasnya habis ternyata yang untuk masak sekarang, kemarin aku lupa bilang," ucapnya pada Hariz yang sedang beristirahat sambil mendengarkan pengajian dari siaran radio.
"Iya, nanti Mas beli dulu ke warung," ujarnya seraya berdiri lalu menyambar kunci motor di atas meja.
"Oya, Mas, sekalian beli bawang merah dan garam juga, ya, tadi aku lupa beli di Kang sayur," pintanya sekalian.
"Iya, masih ada yang mau dibeli lagi gak?" tanya Hariz kemudian.
"Udah cukup itu saja, Mas"
__ADS_1
***
Keesokan harinya seperti biasa Dhena ikut bergabung bersama ibu-ibu yang lain saat mang sayur keliling mangkal di depan rumahnya.
Tiba-tiba bi Kemproh berbicara dengan suara nyaring yang ditujukan kepada Dhena.
"Eh, Mama Fathan tumben belanja di sini, emang gak nyuruh suaminya belanja bawang ke warung lagi, ya?" sindirnya melirik sinis ke arah Dhena.
"Biasanya juga saya belanja di Mang Ujang, kok, Bu. Iya, kan, Mang Ujang?" jawabnya seraya bertanya pada Mang Ujang.
Mang ujang menganggukan kepala sembari tersenyum ramah, mengiyakan pertanyaan Dhena.
"Kemarin, kok, saya lihat Ayahnya Fathan beli bawang di warung depan," sangkal Bi Kemproh ketus.
Setelah membayar semua belanjaan, Dhena buru-buru berpamitan. Diiringi tatapan aneh dari ibu-ibu lainnya.
Sesampai di rumah, sambil memasak Dhena kepikiran terus dengan ucapan Bi Kemproh yang seolah memojokannya di depan ibu-ibu yang lain.
***
"Mas, aku minta maaf kalau selama ini sudah berbuat salah dan mempermalukanmu," ucap Dhena kepada Hariz membuka obrolan sebelum beranjak tidur.
Hariz menautkan kedua alis tebalnya, seraya bertanya, "Maksudnya? Kenapa, kok, tiba-tiba minta maaf?"
"Tadi siang waktu aku belanja sayur, Bi Kemproh negur aku gara-gara Mas kemarin beli beras dan bawang di warung Bu Haji." Dhena mengutarakan unek-unek yang dari siang dipendamnya.
Hariz meraih telapak tangan sang istri lalu menggenggamnya erat. "Terus istri Mas sedih dengan ucapan Bi Kemproh tadi?" Mata elangnya menatap Dhena lekat.
"Iya, Mas, aku kepikiran terus sampai sekarang."
"Mas ini seorang suami, apa yang salah jika suami membantu istrinya sendiri. Lagi pula ketika seorang suami pergi ke warung membeli beras dan bawang itu bukan suatu aib untuk si suami, kok, kalau menurut Mas sendiri." Lelaki bertubuh tegap itu mengungkapkan pendapatnya panjang lebar.
"Tapi ... Mas, aku malu .... "
Tangan kekarnya meraih kepala sang istri pelan menuju dada bidangnya.
"Mulai dari sekarang gak perlu dengerin dan tanggapin omongan orang, selama sikap kita tidak pernah merugikan dan mengganggu orang lain," tuturnya bijaksana.
'Ya Allah, Mas ... tahu kah Kau, saat ini semua ucapan dan sikapmu sungguh telah membuatku merasa jatuh cinta untuk kesekian ribu kalinya,' ucapnya dalam hati.
Semua sikap Hariz yang pernah menorehkan luka dan kecewa dalam hati Dhena seolah menguap begitu saja seperti debu tertiup angin. Lenyap seketika tanpa bekas.
'Ya Robb ... Semoga kebahagiaan ini jangan cepat berlalu,' batin Dhena dalam hati.
Bersambung ....
__ADS_1