Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Survei


__ADS_3

Paginya mereka terbangun dalam suasana yang begitu hangat, penuh canda tawa. Dukungan penuh buat Aini karena hari ini akan menghadap kepala sekolah terkait negosiasi tugas tambahan jam pelajaran. Kemungkinan kepala sekolah tidak akan mengijinkan begitu saja pastinya butuh usaha untuk meyakinkan kalau Aini juga ingin perhatiannya terhadap keluarga tetap bisa berkualitas, namun tugas dan tanggungjawab pokok diskolah tetap bisa dijalankan dengan baik.


Al Ghazali hari ini mendapat kabar dari sahabatnya Radit, kalau ada rumah luas disewakan dengan lokasi yang sangat strategis.


"Ai, mungkin mas nanti nggak bisa njemput Alia, nanti Izal yang menjemput, tolong kabari wali kelas Alia, mas mau meninjau lokasi baru kita"


"Mas Radit yang ngasih kabar mas?"


"Iya Ai, nanti mas ngambil jatah Izal ngantar ketempat Radit sekalian janjian mau survei lokasi"


"Siap mas, Ai langsung wa"


"Jadi nanti bang Izal yang jemput adek yah?"


"Iya sayang, nggak apa kan?"


"Horee..... Alhamdulillah nanti mau minta bang Izal buat beli boba kalau sama ayah suka dibilang nunggu bareng bunda, nggak asyik"


"Ooooh.....jadi kalau sama ayah nggak asyik yaa" Al sambil memegang kedua pipi gembul anaknya.


"Ampun ayah......haha....sakit jangan cubit cubit"


"Anak ayah, buruan makan. Nanti ditinggal sama ayah kalau nggak makan-makan"


"Ya udah yah, nggak apa ditinggal. Adek telat nggak apa kok, nanti minta bang Izal yang antar adek"


"Susah ya kalau ngomong sama anak cerdas" ucap Al gemas.


"Sayang, bunda ke kamar dulu ya, bunda mau pakai jilbab dulu, kamu selesaikan makannya. Sebentar lagi kita berangkat"


"Siap bunda"


Sampai sekolah suasana masih belum terlalu rame, rute pertama ke sekolah Alia dulu, kemudian baru ke sekolah Aini.


"MasyaAllah kelihatan sekali ada yang lagi bahagia ya, beda dengan 2 hari belakangan ini" goda Bu Yuni.

__ADS_1


"Ya Allah Bu, kaget. Saya kira belum ada yang datang aku yang pertama"


"Bu Aini saja yang nggak sadar, aku disini sejak tadi menjadi pengamat sahabatku"


"Bu....kalau aku menghadap kepsek buat mundur ngajar di jam tambahan gimana ya Bu?"


"Biasanya susah Bu, mengingat tidak semua guru diberi kepercayaan untuk mengampu jam tambahan. Kenapa mesti mundur Bu, justru hal ini bagus artinya kinerja Bu Aini bagus, dan sebanding dengan gaji yang diterima, lumayan kan bisa buat perawatan tubuh"


"Awalnya aku mikirnya juga gitu Bu, tapi ternyata aku nggak bisa membagi waktu. Terlalu fokus disekolah anak dan suami protes, mereka juga minta diperhatikan"


"Pantesan kemarin-kemarin Bu Aini terlihat murung, nampaknya sekarang sudah baikan ini....ada yang habis sayang-sayangan ini khm khm"


"Apaan si Bu Yuni, serius ngomongnya gimana sama kepsek"


"Sampaikan saja sesuai fakta, kalau suami Bu Aini nggak membolehkan untuk menambah jam tambahan, demi perdamaian dirumah. Biasanya kalau kaitannya dengan restu suami kepsek bakalan ngerti, apalagi selama ini dedikasi Bu Aini bagus jadi kepsek bakal percaya dengan alasan yang disampaikan"


"Terimakasih Bu Yuni, MasyaAllah bahagia punya sahabat macam Bu Yuni"


Satu persatu teman mulai berdatangan dengan begitu mereka mengakhiri obrolannya untuk menuju kelas masing-masing.


Sementara sepulang mengantar anak dan istri Al bergegas ke rumah Radit sesuai janjinya. Jam 9 sampai kerumah Radit.


"Assalamualaikum bro"


"Wa'alaikumussallam, akhirnya kamu datang juga masuk dulu Al, biar istriku bikinkan minum dulu"


"Nggak usah Dit, kita langsung saja gimana?"


"Okelah, aku ambil helm dulu pamit bini juga, pakai motormu apa motorku?"


"Motorku saja, tadinya mau siang menjelang sore jam 14.00 an kesininya sambil bawa dagangan eh ternyata janjiannya dimajukan"


"Sorry bro, sore anakku minta jalan-jalan"


"Keluarga itu utama Dit, aku ngerti kok. Aku mbonceng ya, kamu yang lebih tahu jalannya" Al melempar kuncinya kearah sahabatnya.

__ADS_1


"Ok, sebenarnya ada 2 tempat Al tapi pikirku ini yang paling strategis diantara 2 pilihan itu" Radit berjalan beriringan menuju motor Al.


Sampailah mereka disebuah rumah ukuran 8x12 model klasik khas melayu dengan halaman yang terbilang luas muat buat 10 mobil, 4 kamar tidur 2 diantaranya lengkap dengan kamar mandi didalam, kamar mandi luar 2 buah. Halaman belakang juga terlihat luas. Letak rumahnya dipojok pas perempatan. Tepat disamping rumah terdapat masjid, bukan hanya itu lokasi juga dekat dengan akses kesehatan. Dan ternyata tak jauh dari sekolahan tempat anak dan istrinya, hanya butuh waktu 15 menit perjalanan pakai motor bedanya lokasi yang sekarang arah Utara sedangkan rumah yang inventaris sekolah arah selatan. Pemilik asli sudah meninggal 1 th yang lalu, ahli warisnya sudah memiliki rumah semua jadi tak ada satupun yang mau menempati, mereka berkeliling mengamati sekitar 30 menit bersama ahli waris pemilik.


"Gimana bro? cocok?"


"Cocok Dit, sewanya gimana pak?" menjawab pertanyaan sahabatnya sekaligus bertanya kepada pak Agus.


"Dibeli sekalian juga boleh pak Al" ucap pak Agus sambil tertawa.


"Kalau untuk beli mau saja pak Agus, tapi yang buat barter belum cukup pak"


"Seperti yang disebut awal tadi pak Al, tak kurangi gope. 1 tahun dulu apa mau berapa tahun?


"Lumayan tuh Al, turun gope?"


"1 tahun dulu pak Agus, okelah deal"


"Kirim no rekening pak Agus"


"Semoga nyaman pak Al, insyallah lingkungan sangat kondusif disini dan laju kendaraan juga bukan akses jalan cepat, cukup lenggang. Sayapun aslinya betah mengingat ini tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, hanya saja istri lebih betah dirumah sendiri"


"Mungkin ini rejeki kami pak Agus, terima saja" ledek Al sambil tertawa.


"Okelah sip, ini kuncinya. bagi-bagi resep pak Al kiat menjadi pengusaha sukses" Sambil menyerahkan kunci berikut cadangannya.


"Bukannya kebalik, malu saya pak Agus, saya yang harus belajar sama pak Agus, terimakasih pak padahal belum transfer loh kuncinya sudah dikasih saya"


"Kalau nggak transfer gampang, tinggal datangi langsung rumah pak Radit. Beres kan? Becanda pak, saya kenal lama dengan pak Radit, istri beliau masih ada hubungan kerabat dengan saya"


Al dan Radit segera berpamitan, kali ini niat untuk beli mobil diurungkan terlebih dahulu ada kebutuhan yang lebih penting yaitu sewa tempat untuk mengembangkan bisnisnya. Tempat strategis juga merupakan aset utama, sasarannya nnti bisa jadi ada pengecer yang datang langsung mengambil dagangan, secara nama mereka sudah mulai dapat dikalangan pedagang. Keputusan yang diambil tadi tidak melibatkan Aini sama sekali, karena Aini sudah menyerahkan sepenuhnya kepada suaminya.


Al berniat sore nanti jika Aini pulang gasik akan mengajak mereka berkunjung ke kontrakan yang baru di sewa. Tak lupa Al juga mengabari pakdhe dan budhenya, jika nggak dikabari ntah apa yang akan terjadi dengan budhenya. Membayangkan saja Al ngeri, bisa-bisa berubah menjadi stasiun, keretanya terlalu panjangπŸ˜„πŸ€£


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2