
***
Hariz mendekati sang istri yang sedang berbaring di ruang tengah menemani Fathan bermain sembari menonton film kartun favoritnya.
"Ma, Mas minta maaf, ya, kalau selama ini belum membahagiakan keluarga kecil kita," ucap Hariz. Telapak tangannya mengusap rambut sang istri lembut dari arah belakang.
Dhena bergeming. Seolah tidak mendengar suaminya sedang berbicara. Dalam hatinya Dhena membatin, 'Percuma kamu, Mas berkata seperti itu jika sikapmu hingga sampai saat ini gak bisa menjaga perasaanku.'
"Mas sadar selama ini belum mampu menjadi suami yang baik buat istri juga figur ayah yang bijak buat putra kita," sambung Hariz.
Dhena bergerak bangkit lalu duduk menyender di dinding tembok bercat putih itu. Memandang Hariz sekilas lalu menatap ke arah lain membuang gundah yang memenuhi rongga dadanya.
"Aku bosan, Mas, dengar kamu minta ma'af berkali-kali, tapi keadaan rumah tangga kita selalu seperti ini terus," timpal Dhena kemudian.
Hariz duduk bersila tepat di depan sang istri. Tangannya menggenggam jemari wanitanya itu erat seraya bertanya, "Mas mau tanya, sekarang maunya Mama gimana?"
Sejurus kemudian Dhena menatap lekat mata suaminya.
"Serius Mas ingin tahu apa yang aku mau?"
Hariz menganggukkan kepala, meyakinkan sang istri.
"Sekarang Mas ceraikan Nelly, atau tinggalkan aku!" ucap Dhena penuh penekanan.
Hariz terhenyak seketika. Laki-laki itu tak menyangka jika sang istri berani memberikan pilihan yang di luar dugaan.
Melihat sorot mata Hariz yang menyiratkan kebimbangan, kemudian Dhena berucap kembali, "Kamu keberatan, kan, jika harus menceraikan Nelly?" tanya Dhena penuh selidik. Sorot matanya tajam menatap sang suami.
__ADS_1
Hariz menghela napas berat melalui hidung lalu mengembuskannya lewat mulut. Kemudian menatap Dhena sekilas.
"Iya, nanti Mas akan coba berbicara dengan Nelly. Semoga dirinya menerima dan mengerti dengan semua ini," ujar Hariz mengiakan permintaan Dhena.
"Mama ... aku lapar," ucap Fatha yang tadi asyik bermain lego seorang diri. Sambil sesekali bola matanya tertuju ke layar televisi. Ia mengabaikan obrolan kedua orang tuanya yang sedang bersitegang. Fathan tak teraik mendengarkan obrolan orang dewasa yang menurutnya membosankan.
"Tadi Fathan bukannya sudah makan?" tanya Dhena memastikan.
"Iya, Mama, tapi sekarang aku sudah lapar lagi," rajuknya mulai merengek.
"Di dapur masih ada nasi sama sop, Mama ambilin sebentar, ya, kamu tunggu dulu di sini." Dhena kemudian berdiri hendak melangkahkan kakinya ke arah dapur, tapi urung, ketika ia mendengar permintaan Fathan.
"Aku gak mau makan di rumah," ujar Fathan merajuk.
"Terus maunya apa?"
"Aku mau makan mie tiau sekarang juga," pintanya masih dengan nada merengek khas anak balita.
"Mie tiau yang mangkal di gang depan bukan? tanya sang ayah kemudian. Yang dijawab dengan anggukkan kepala oleh Fathan.
"Tunggu sebentar, ya, Ayah sekarang ganti baju terlebih dahulu," ucap Harizkemudian.
"Mamanya ajak sekalian. Suruh siap-siap juga biar kita bisa berangkat bertiga,' sambung Hariz yang perintahnya ditujukkan kepada Fathan.
"Bukan tiga, lho, Yah. Tapi kita berempat bareng adik bayi yang masih berada di dalam perut Mama," sangkal Fathan, protes. Karena ia sudah paham dengan keadasn mamanya yang sedang berbadan dua. Karena Dhena sering berkomunikasi memberikan pengertian kepada anak pertamanya itu agar tidak kaget ketika nanti adiknya sudah waktunya terlahir ke dunia melengkapi rumah mereka.
Karena Dhena paham orang tua yang merencanakan untuk memiliki anak kedua harus memberikan pengertian kepada anak pertama atau calon kakaknya bahkan ketika adiknya belum lahir.
__ADS_1
Hal tersebut dilakukan untuk menghindari rasa kaget anak pertama, terlebih jika ia masih berusia di bawah lima tahun atau batita.
Kedatangan adik baru tentu membawa perubahan pada keluarga, dan perhatian orang tua mau tidak mau harus dibagi.
Hal tersebut sering kali membuat anak pertama merasa cemburu dan tersaingi. Oleh karena itu, penting untuk memberikan pengertian dan penjelasan kepada kakaknya terkait kelahiran adik baru tersebut.
Selain itu, memiliki dua anak atau lebih akan meningkatkan kecenderungan mereka untuk bertengkar akibat adanya persaingan antar saudara.
Meskipun persaingan saudara kandung adalah wajar dan tidak terhindarkan, bersikap proaktif akan berdampak besar pada hubungan anak-anak.
Persaingan saudara kandung tersebut adalah kenyataan bahwa mereka harus berbagi kasih dan perhatian orang tua mereka serta ruang dan benda yang mereka mainkan.
Persaingan antar saudara kandung dapat terlihat sejak ibu mengandung anak kedua. Beberapa anak pertama akan menunjukkan sikap senang dengan calon adik baru namun beberapa mulai menunjukkan sikap makin rewel, menolak berpisah dengan ibu, dan lain-lain. Setelah anak kedua lahir, anak pertama melihat kasih sayang dan perhatian orangtua tercurah pada anggota baru di keluarga. Ia tidak lagi menjadi paling istimewa dan berkuasa. Ia kini harus berbagi dengan adiknya. Waktu bermainnya dengan ayah dan ibu berkurang, barang-barang lamanya digunakan oleh adik ‘baru’ ini, keinginannya tidak lagi paling diutamakan. Ini dapat memunculkan persaingan dengan adiknya tersebut demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang orangtua.
Seiring berkembangnya fisik, kognisi, dan mental anak, persaingan antar saudara kandung dapat menurun karena anak sudah lebih dapat berpikir tentang kondisi yang terjadi di sekitarnya. Akan tetapi, persaingan bisa pula berlanjut sampai dewasa. Bentuk persaingan antar saudara kandung saat masih anak-anak, remaja, dan dewasa dapat berbeda terkait kebutuhan yang juga berbeda dalam setiap tahap perkembangan. Ketika masih anak-anak, yang diperebutkan adalah mainan atau waktu bermain dengan orangtua. Mereka protektif sekali dengan mainan pribadi sehingga kesal jika mainan tersebut diambil saudara kandung lain. Hal lain yang biasa terjadi adalah salah satu cemburu dengan mainan yang dimiliki lainnya lalu akhirnya berebut mainan.
Kini mereka bertiga sudah duduk berhadapan di meja kedai mie tiau yang Fathan minta tadi. Sambil menunggu mie dihidangkan Fathan terus berceloteh menanyakan banyak hal yang kebetulan dilihatnya di sekitar sana kepada Hariz, ayahnya.
Ditengah celotehannya tiba-tiba bocah laki-laki itu berseru nyaring sehingga semua orang yang sedang hadir di sana seketika melirik dan membalikkan badan ke arah Fathan dan orang yang ditunjuk olehnya.
"Ayah ... Itu bukannya tante Nelly yang temannya ayah waktu kita bertemu bareng Nenek itu, Yah," seru anak yang usianya kini sudah hampir empat tahun itu setengah berteriak membuat Hariz dan Dhena terhenyak dan mengarahkan pandangan mengikuti telunjuk sang buah hati mereka.
Belum hilang keterkejutan mereka dari arah bersamaan terdengar suara anak kecil berbicara.
"Bunda, tuh, lihat! Di sana ada Ayah, kita duduk di sana juga, yuk, bareng sama Ayah. Aku kangen sekali sama Ayah." Suaranya yang nyaring hampir bisa didengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan tanpa dinding itu.
Bersambung ....
__ADS_1