Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Perubahan Sikap Sandra


__ADS_3

***


Tiba di rumah sang kakak, Dhena disambut ramah oleh Shofia sang kakak ipar. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki pintu depan sambil menanyakan kabar satu sama lain.


"Kok, sendiri, Dhen? Azam Kemana?" tanya Shofia.


"Masih di tempat kerja, Mbak."


Shofia pun tak melanjutkan pertanyaannya.


Ketika Kahfi pulang ke rumah dan mendapati Dhena berada di rumahnya. Lelaki itu pun menyarankan adiknya itu untuk segera pulang ke rumahnya.


"Gak baik seorang istri pergi dari rumah tanpa seizin suami," ucap Kahfi mengingatkan Dhena.

__ADS_1


Karena setengah dipaksa untuk pulang oleh Kahfi, Dhena pun dengan berat hati sore harinya kemudian kembali pulang ke tempat kediaman Azam sebelum suaminya itu pulang dari tempat kerja.


***


Sekian bulan di rawat di rumah sakit, dokter pun memperbolehkan Hariz untuk menjalani perawatan di rumah. Usai menyelesaikan semua administrasi Sandra pun membawa sang suami ke tempat kediaman mereka.


Pria yang dulu bertubuh tegap dan gagah itu pun saat ini sudah sangat jauh berubah. Tak nampak lagi body atletisnya yang dulu ia banggakan. Rambutnya yang dulu selalu dipotong pendek dan rapi, kini, dibiarkan sedikit gondrong hingga penampilannya terlihat seperti tak terurus.


"Sandra, kenapa kamu membawaku ke sini?" tanya Hariz dengan raut wajah heran.


"Iya, Mas, mulai dari sekarang tempat kamu di sini." Sandra menjawab dengan nada datar.


"Maksud kamu?" sela Hariz.

__ADS_1


"Aku gak bisa Mas, kalau harus satu kamar dengan pria cacat dan lumpuh seperti kondisi kamu seperti ini!" seru Sandra tanpa memikirkan bagaimana hancurnya perasaan sang suami ketika mendengar ungkapannya barusan.


Bola mata Hariz melirik sinis ke arah wanita yang sudah dinikahinya karena demi mewujudkan keinginan ibunya beberapa tahun yang lalu. Hingga ia dengan tega mencampakkan Dhena begitu saja tanpa rasa peduli kepada perempuan yang sudah memberikan dua putra untuknya.


Usai membantu membaringkan Hariz di dipan berukurun kecil kemudian Sandra melenggang meninggalkan sang suami di dalam ruangan yang sempit dan pengap tanpa fentilasi udara itu.


kini Hariz hanya mampu meratapi nasibnya seorang diri. Andai waktu bisa diputar kembali ia tak akan menyia-nyiakan Dhena yang dulu benar-benar bisa mencintainya tanpa tapi. Istri yang selalu bisa sabar ketika dirinya dalam keadaan terpuruk dan berada di bawah karena ujian ekonomi yang harus mereka lewati.


Namun, penyesalan tinggallah penyesalan. Semua tak akan kembali lagi seperti yang diharapkan. Kini Hariz harus menjalani takdirnya yang ia pilih sendiri. Terkurung di dalam ruangan yang sumpek dengan kondisinya tubuh lemah tak berdaya.


Sekitar pukul setengah 7 malam Sandra sudah keluar meninggalkan rumah. Ia tak peduli dengan keadaan suami serta kedua anak sambungnya yang masih butuh perhatian darinya. Bahkan ia biarkan Fathan dan Reza dalam keadaan belum dimandikan dengan perut kosong.


Fathan yang sudah berusia 7 tahun berinisiatif untuk memandikan sang adik karena dilihatnya Reza sudah basah kuyup karena pipis di celana. Satu persatu anak laki-laki malang itu melucuti pakaian sang adik lalu menuntunnya menuju kamar mandi. Fathan dituntut untuk bisa mandiri dan menjaga serta merawat adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2