Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Terpeleset Tumpahan Minyak


__ADS_3

"Saya mohon, Bu. Bantu saya untuk bisa menjadi suami yang baik untuk Dhena dan menjadi sosok ayah yang bijak buat kedua anak-anak saya." Hariz kemudian menggenggam jemari sang ibu dan menemplekannya di bagian dadanya.


Bu Aida mengalihkan pandangan ke arah lain dengan tatapan nanar.


"Menjadi suami yang baik buat istri kamu dan menjadi anak yang durhaka kepada ibu kandung sendiri? Itu yang kamu harapkan, Hariz?" Bu Aida menarik paksa pergelangan tangannya dari genggaman anak laki-lakinya itu.


"Bu ... Maksud saya tidak seperti itu. Jangan jadikan saya menjadi anak yang durhaka sama Ibu," ungkap Hariz memelas.


***


Pagi menjelang. Sebelum terdengar kumandangkan azan Subuh Dhena sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Saat ini ia membuat goreng pisang untuk teman ngopi sang suami. Wanita itu mulai membuat adonan dan hendak menuangkan minyak ke atas wajan. Baru saja ia meraih dan mengangkatnya botol plastik yang kini sudah di genggaman Dhena pun terpeleset kemudian jatuh di lantai dapur.


Sepersekian detik Dhena terkesiap. Kepalanya menoleh ke segala arah memastikan tidak ada orang yang mendekat ke arah dapur. Ia berjalan berjinjit menuju halaman samping untuk mengambil alat pengepel untuk membersihkan minyak yang menggenangi lantai dapur.


Sedangkan Bu Aida yang berniat akan merebus air untuknya membuat teh berjalan dengan santai ke arah dapur. Baru beberapa kakinya hendak mendekati kompor telapak kakinya menyentuh genangan minyak di lantai yang menyebabkan ia terpeleset dan terpelanting dengan keras.


Bu Aida menjerit histeris mengejutkan semua orang yang berada di dalam rumah. Kepalanya membentur ujung keramik tempat washtapel hingga mengalirkan darah berwarna merah segar dari dahi bagian samping.


Dhena yang masih berdiri di ambang pintu dapur terhenyak. Badannya seketika gemetar dengan bola mata melebar. Detak jantungnya berpacu lebih cepat ketika mendapati sang ibu mertua terkulai lemah di lantai dapur dengan darah yang terus mengalir deras dari bagian samping dahi.


"Bu ... Ibu, gak kenapa-kenapa?" Dhena berlari memburu sang mertua dengan alat pengepel masih di tangan.

__ADS_1


"Dhena, kamu sengaja, kan, mau mencelakai saya?" desis Bu Aida melirik sinis ke arah Dhena.


Dhena segera meraih tubuh Bu Aida berusaha menolong dan membantunya untuk bisa bangun, walaupun terasa berat Dhena terus menguatkan diri agar Bu Aida bisa diangkatnya.


"Maaf Bu, tadi saya hendak menuangkan minyak ke dalam wajan. Tapi, tak sengaja botolnya jatuh ke bawah. Saya tadi gak mengira kalau Ibu akan ke dapur." Dhena menjelaskan.


Hariz yang baru pulang dari masjid merasa heran mendengar ada keributan dari arah belakang. Terdesak rasa penasaran, kemudian kaki panjangnya tergesa melangkah ke arah dapur untuk memastikan apa yang sudah terjadi di sana.


Badan Hariz menegang ketika dilihatnya sang ibu sedang tersungkur di lantai dapur dengan berlumuran darah segar. Sedangkan Dhena yang sedari tadi hendak memberikan pertolongan hanya mampu ikut terduduk lemas tanpa bisa melakukan apa pun. Badannya ikut lemas bak tak bertenaga menyaksikan keadaan Bu Aida yang seperti itu.


Setelah beberapa menit terpaku. Hariz berlari ke arah kedua wanitanya dengan berseru, "Ibu kenapa!?"


"Hariz ... Cepat tolongin, Ibu, Nak, kepala Ibu terasa sakit sekali ini." Bu Aida merintih.


Sedangkan Dhena melanjutkan mengelap semua minyak yang masih terlihat menggenang di beberapa bagian lantai. Setelah agak mengering ia mulai mengepelnya dengan menggunakan cairan wipol berharap licin di bagian lantai yang diakibatkan oleh minyak cepat menghilang karena khawatir bisa mencelakakan yang lain.


Usai membereskan semuanya. Dhena menuangkan air hangat ke dalam baskom berukuran sedang dengan sapu tangan untuk mengompres dan membersihkan darah di bagian dahi ibu mertuanya. Niatnya untuk membuat makanan ia tunda.


Langkah kakinya menuju kamar bu Aida dengan kedua tangan memegang baskom plastik. Baru saja sebagian badannya menyembul dari arah pintu. Bu Aida mengusirnya dengan berteriak histeris tidak mengizinkan Dhena untuk memasuki kamarnya.


"Pergi kamu, Dhena. Jangan sok baik seperti itu di depan saya!" hardik Bu Aida dari arah dalam kamar.

__ADS_1


Baskom berisi air hangat dalam genggaman Dhena hampir saja terjatuh jika saja tak dipegang dengan kuat oleh Dhena. Ada desir perih menyayat hatinya ketika mendengar suara sang ibu mertuanya barusan yang sudah tega mengusirnya secara terang-terangan di depan suaminya sendiri.


Hariz kemudian berdiri di samping tempat tidur ibunya lalu berjalan pelan menghampiri sang istri yang masih diam terpaku dengan kelopak mata yang mulai mengembun.


"Sini, biar Mas yang coba bersihkan luka Ibu. Kamu ke kamar saja temenin anak-anak di sana," titah Hariz berkata lembut.


Dhena menganggukkan kepala pelan. Lalu membalikan badan menjauh dari pintu kamar sang ibu mertua yang seolah semakin menjadi rasa bencinya kepada menantu perempuannya itu. Dhena hanya menyesali diri. Kenapa ia selalu dihadapkan dengan situasi yang seolah sengaja memojokkan dirinya.


Padahal, sekuat dan sebisa mungkin Dhena menjaga agar tak terjadi hal-hal seperti itu. Yang bisa menyudutkan keberadaannya di rumah itu. Tapi, ternyata semua di luar dugaan. Karena semua kejadian sering terjadi di luar prediksi setiap manusia.


Hanya hati Dhena sendiri dan Allah yang mengetahui dengan apa yang ada dalam pikiran Dhena saat ini. Karena dalam pikirannya itu sama sekali tak pernah terlintas untuk sampai mencelakakan Bu Aida, ibu mertuanya sendiri. Seperti yang tadi dituduhkan oleh ibunya Hariz kepada Dhena barusan.


Sadar dirinya belum sempat melaksanakan salat Subuh. Kemudian Dhena berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Dalam sujud panjangnya ia mengadukan semua isi hatinya yang begitu bergemuruh kepada sang Maha Kuasa.


Berharap ia selalu diberikan kesabaran dan kekuatan setiap kali dihadapkan dengan orang-orang yang tidak pernah menyukai dirinya seperti ibu mertuanya sendiri itu. Dhena melangitkan do'a agar Bu Aida dibukakan hatinya untuk bisa menerimanya dan bisa menganggapnya sebagai anak sendiri. Karena Dhena sangat yakin jika Sang Maha Pengatur sudah berkehendak pasti semuanya akan terjadi. Karena hanya Allah-lah yang mampu membolak-balikan hati setiap hambanya.


"Mama, kenapa Mama nangis?" Pertanyaan dari Fathan mengejutkan Dhena yang masih berbalut mukena.


"Mama sedih ya, karena sering dimarahin sama Nenek seperti kemarin?" sambung anak laki-lakinya itu kemudian.

__ADS_1


Dhena menggelengkan kepalanya pelan ke arah anak sulungnya.


"Enggak, Sayang. Nenek gak pernah marahin Mama, kok, Nenek kemarin hanya nasihatin Mama saja. Karena Nenek sayang sama Mama seperti sayangnya Nenek sama Fathan, sama Adek Reza, juga sama Ayah." Dhena berusaha memberikan pengertian sembari membelai lembut rambut putra sulungnya.


__ADS_2