Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Sikap Aini yang Memalukan


__ADS_3

"Nda, ayok belangkat. Cepetan, nenek udah nungguin" rengek Alia. "Iya, Sayang. Bunda mau ambil oleh-oleh dulu buat kakek nenek" sambil jongkok mensejajarkan dengan anaknya.


"Ayah, buluan yah. Janan kelamaan ... Alia udah siap, Yah," rengek Alia.


"Iya sayang, buru-buru banget sih anak ayah ini. Tadi pagi juga habis dari rumah nenek,"


"Beda, Yah. Tadi pagi nggak cama bunda,"


"Ya udah, ayok kita berangkat."


"Siap belangkat," menirukan ayahnya.


Meraka jalan kaki, karena rumahnya hanya dipisahkan dengan pekarangan kosong. Hidup didesa masih banyak lahan luas, antara satu rumah dengan rumah lain jaraknya jauh jauh, beda dengan daerah perkotaan yang padat penduduk rumahnya berjajar tanpa jarak, bahkan ada yg pemisahnya hanya tembok. Kalau disuruh milih mending tinggal diperkotaan apa pedesaan jawabannya tergantung masing-masing individu, sesuai situasi dan sesuai kebutuhan.


Hanya butuh waktu 5 menit jalan kaki sudah sampai didepan pintu neneknya.


"Assalamualaikum, Nenek!" teriak Alia


"Memang ya Ai, buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya" sambil memperhatikan tingkah laku Alia


"Maksud mas apa si?"


"Hmmm, lihat aja tuh anakmu. Teriak-teriaknya mirip sapa ya?" sambil ketawa


"Iya iya ... anaku ya mirip sama aku lah mas." sewot


"Haha ... iya ... tidurnya juga mirip ya Ai?"


"Iya ... iya. Mirip kebo, sudah dibangunin. Mau bilangin Ai kaya kebo aja susah banget," tambah kesal


"Pulang aja yuk Ai, kita titipin Alia disini. Mas mau cium kamu yang lagi cemberut" bisik Al takut kedengaran anaknya.


PLAK ... Ai memukul bahu suaminya.


"Kenapa bunda pukul ayah? Ndak baik malah malah, Nda."


"Nah loh, nggak baik, Nda," senang ada pembelaan dari anaknya.


"Iya ... iya Lia, bunda nggak marah kok. Nih bunda senyum kan?" menarik bibir membentuk senyuman.


"Lama nenek, masuk aja yuk. Mungkin masih solat Ai" ucap Al.


"Yok, Yah," jawab Lia dan Al membuka pintu.

__ADS_1


"Cucu nenek habis bobo ya?"


"Iya, Nek. Nenek dali mana? Lia tadi sudah salam loh, Nek. Nenek ndak jawab," memasang wajah imut melihat kearah wajah neneknya, dengan posisi duduk dipangkuan sang nenek.


"Maaf ya, Dek. Nenek tadi lagi sholat"


"Oooh, solat ya, Nek. Tadi adek juda habis solat sama ayah bunda. Iya kan, Yah?" melihat ke arah ayahnya.


Mereka sedang duduk diruang tengah, ruang keluarga. Al mengangguk kearah anaknya.


"Mak, bapak kemana?" tanya Aini


"Tadi pamit ke masjid. Mungkin mampir kerumah Wa Karim dulu. Semalam wa Karim dari sini. Minta tolong bapak untuk membawa pedagang kambing. Wa Karim mau menjual kambingnya 2 ekor"


"Palingan sebentar lagi pulang. Ai sampai rumah jam berapa tadi siang?" ucapnya lagi melihat ke arah menantunya.


"Sampai rumah jam satu, Mak. Ai bawa getuk rasa nangka kesukaan emak sama bapak,"


"Terimakasih ya, Ai. Bapak pasti seneng banget," sambil tersenyum.


Emak Al sangat bersyukur memiliki menantu seperti Aini. Begitu tegar mendampingi Al, tidak pernah mendengar Aini berkeluh kesah ke tetangga atau kerabatnya. Biasanya perempuan paling susah adalah menjaga lisan agar tidak keceplosan mengeluhkan keadaan kepada tetangga ataupun teman yang dijumpainya. Apalagi kalau sudah urusan ketemu teman ngerumpi, wanita itu akan ada saja yang dibicarakan, dan sebagian berakhir dengan berkeluh kesah serta ghibah. Itu sebagian yaa ... kalau para pembaca tidak.😷


Aini sesekali tetap berbaur dengan ibu-ibu lainnya saat beli sayur. Tapi Aini bukan tipe yang suka berkeluh kesah dengan tetangganya. Bagi Aini, suami merupakan tempat ternyaman dalam bertukar pikiran. Meski ketika ngobrol nggak pernah lurus kalau sudah berurusan dengan suami, berakhir dengan kemesyuman suami tapi tetap saja nyaman. Kalau kaitannya dengan suami tidak mungkin kan cerita ke suami, maka pelampiasannya adalah menangis. Setelah menangis semua jadi plong.


Betul kata emak, setelah mereka cerita kurang lebih 30menit bapak pulang.


"Kakek, udah pulang, Kek,"


"Sudah sayangnya kakek, cucu kakek datang kapan ini?"


"Sejak tadi, Kek. Nda bawa oleh oleh getuk sokalaja lasa nangka,"


"Alhamdulillah, rejeki kakek ya. Pas banget, kakek lagi pengin" Bapaknya Al ini sangat pandai membuat menantunya bahagia. Aslinya galak tapi perhatian.


Pernah dulu jika siang hari lampu teras masih menyala dan bapak melihat maka siap-siap saja Aini kena marah. Awalnya sedih mendapat perlakuan seperti itu, gara-gara lampu. Tapi seiring berjalannya waktu Aini semakin memahami karakter mertuanya itu. Waktu awal-awal menikah Aini sering menangis sendirian atas sikap mertuanya,


Flashback on


Emak pulang belanja, membawa belanjaan banyak. Oleh-oleh baru dikasih setelah Al dirumah, padahal tadinya Emak sudah berkunjung kerumah Al, namun yang dirumah Aini saja.


Pernah juga suatu ketika Emak kerumah Al, namun Al nggak dirumah. Selang 1 jam kerumah lagi, Al belum pulang juga. Selang 2 jam datang lagi dan Al sudah dirumah. Ternyata Emak mau minta uang 700ribu waktu itu.


"Tadi emak sudah kesini Al, tapi yang dirumah istrimu,"

__ADS_1


"Memangnya ada apa Mak?"


"Gini Al, Emak mau minta uang 700ribu sama kamu."


"Ooh ya Mak, bentar tak ambil dikamar,"


Aini melihat suaminya mengambil uang di laci nakes.


"Ooo ... ternyata emak minta uang. Kenapa nggak ngomong ke Ai. Ai kan nggak pelit, minta ke Ai juga bakalan tak kasih," pikir Ai dalam hati


"Kemarin ngasih jajan saja baru dikasih setelah mas Al pulang," pikir Ai lagi.


Al berjalan mendekati emak yang ada diruang keluarga.


"Ini cukup segitu, Mak?"


"InsyaAllah cukup Al, Aini belum bangun apa Al? Emak langsung pulang ya. Terimakasih Al"


"Iya Mak, jangan gitu, Mak. Emak kalau butuh sesuatu minta aja ke Al dan Ai, InsyaAllah akan kami kasih Mak"


"Ya Al, terimakasih ya. Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussallam"


Flashback off


Setelah lama menikah Aini malu sendiri dengan sikapnya selama ini, yang terlalu perasa terlalu sensitif. Harusnya Aini memaklumi, mungkin saat pertama datang emak benar-benar lupa kalau tadi ada oleh-oleh untuk anak dan menantunya, begitu ingat baru balik membawa oleh-oleh dan pas bertepatan dengan Al dirumah.


Harusnya Aini itu sadar bahwa Al Ghazali (suaminya) adalah anak dari mertuanya, yang sudah sejak kecil bersama maka hubungannya sangat dekat. Minta apapun jelas lebih enak kalau ke anak sendiri. Harusnya Aini sadar jangan cemburu dengan kedekatan suami dan mertua. Hihi...malu malu malu ... itulah pentingnya kita terus belajar termasuk ilmu berumah tangga, dimana berumah tangga tentu kita akan terlibat tidak hanya dengan suami, tapi keluarga suami. Tak heran banyak kasus antara mertua dan menantu, terutama menantu perempuan dengan mertua perempuan. Beruntungnya Allah menuntun Aini menemukan sebuah artikel tentang mertua dan menantu, bagaimana harus bersikap sebelum persoalan antara Aini dan mertua berlarut. Selain membaca Aini juga mencari di YouTube bagaimana menyikapi hubungan antara mertua dan menantu, Alhamdulillah seperti saat ini Aini sangat nyaman hubungannya dengan mertua. Menurut yg Aini baca, kita tidak boleh menuntut mertua untuk mengerti kita, ingin sikap mertua sesuai dengan keinginan kita maka kita mulai dengan perubahan diri sendiri. Kunci utamanya adalah diri sendiri. Kalahkan ego kita, ini adalah tantangan yang tidak mudah kaitannya dengan ego.


Aini tersadar dari lamunannya setelah mendengar Alia berbicara dengan kakeknya.


"Gimana Kek, enak? adek mau juda," sambil berjalan kearah kakeknya dan duduk dipangkuan kakek.


Semua tersenyum bahagia melihat tingkah Alia.


"Pak, sebenarnya ada yang perlu kami bicarakan" Al berhenti sejenak untuk mengambil nafas beratnya.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Terimakasih kakak pembaca setia ❀️


Semoga sehat selalu

__ADS_1


Tinggalkan jejak di kolom komentar yaa ... ditunggu kritik dan sarannya🌷🌸


__ADS_2