
***
Bu Aida meminta Hariz untuk datang ke rumahnya saat itu juga. Rencananya Bu Aida akan meminta ditemani Hariz untuk menyambut kedatangan kedua tamunya itu.
"Kamu sendiri saja Hariz datang ke rumah ibunya. Gak perlu bawa anak-anak apalagi istri kamu yang kampungan itu," pinta Bu Aida saat ia menghubungi anak laki-lakinya via telepon.
Bu Aida sengaja menyewa sebuah mobil dari tetangga dan menyuruh Hariz untuk menjadi sopirnya.
Sekitar jam setengah dua siang ibu dan anak itu berangkat menuju bandara. Tak harus menunggu lama karena mereka sudah bisa saling bertemu.
Kini mereka berempat sudah berada di dalam mobil. Bu Aida dan Bu Mala duduk di bangku belakang. Sedangkan Sandra disuruh duduk disamping Hariz oleh Bu Aida.
Tiba di rumah, Sumi sudah menyiapkan makan siang di meja makan yang sudah dipenuhi beberapa menu makanan dah buah-buahan untuk menyambut tamunya Bu Aida.
Awalnya Hariz hendak langsung kembali lagi ke rumahnya, tapi niatnya urung ketika Bu Aida memintanya untuk ikut makan terlebih dulu bersama Bu Mala dan Sandra.
"Wah ... Bu Aida, tahu aja nih, sayur kesukaan saya santenan daun singkong," pekik Bu Mala ketika dirinya duduk di kursi melihat satu panci sayur daun singkong berukuran besar sudah terhidang di sana
"Sebenarnya Sandra di sini sudah disediakan rumah dan juga kendaraan oleh pihak perusahaan. Tapi, karena saya ingin sekali bertemu dengan bu Aida, makanya tadi minta dijemput," tutur Bu Mala berbasa-basi.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kok, Bu Mala. Saya juga gak keberatan malah senang sudah bisa jemput Njenengan dan Sandra. Ya, enggak Hariz?" jawab Bu Aida melirik ke arah anak laki-lakinya yang sedang menyuap nasi. Yang ditanya hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh.
***
Hariz tiba di rumah hampir menjelang Isya dengan baju dan basah kuyup. Karena di tengah jalan tadi ia terjebak hujan deras. Mau berteduh tapi, khwatair terlalu malam sampai di rumah. Sehingga laki-laki itu terpaksa menerobos hujan lebat berharap cepat tiba di kediamannya.
"Kamu dari mana, Mas?" tanya Dhena melihat sang suami datang dengan kondisi basah kuyup.
"Tadi Mas dari rumah Ibu."
Dhena beranjak ke arah dapur kemudian mengisi air ke dalam ceret dan memanaskannya untuk mandi suaminya.
Dhena mulai berbaring menyamping di sisi anak keduanya sambil memberikan ASI. Sedangkan Fathan sudah mulai terlihat terpejam dari beberapa menit yang lalu. Sembari ngelonin Reza, putra keduanya, kini, pikiran Dhena mulai mengembara mengingat beberapa kejadian yang dialaminya beberapa hari yang lalu, yang saat ini masih menghantui isi kepalanya.
"Waduh ... Waduh. Enak sekali, ya, kamu, siang-siang begini main di kamar terus bareng anak. Padahal kerjaan rumah belum kamu sentuh satu pun," ucap Bu Aida menghampiri Dhena yang sedang mencoba menemani sang buah hati bermain karena sedari tadi merengek terus. Tak bisa ditinggal walaupun satu langkah oleh ibunya.
"Ma'af, Bu. Sekarang ini Reza sedang rewel. Jadi, saya belum bisa membereskan dan mengerjakan rumah dan yang lainnya." Dhena berusaha mencoba memberikan sedikit penjelasan kepada sang ibu mertua.
Jauh di lubuk hatinya Dhena merasa nelangsa. Karena perlakuan Bu Aida yang seolah tak pernah bisa untuk mengerti dengan kondisi Dhena saat ini. Yang setiap hari harus menghabiskan waktu untuk menjaga, merawat, dan menemani kedua anaknya hingga ia tidak bisa sesempurna wanita lain dalam mengurus rumah dan pekerjaan lainnya.
__ADS_1
Padahal, harapan Dhena ketika Bu Aida sedang berada di rumah atau sedang tinggal bersama Dhena sedikit banyak bisa ikut membantu bergantian menjaga dan mengurus ke dua buah hatinya.
Namun, kenyataan yang didapat Dhena malah selalu salah di mata sang ibu mertuanya itu. Jangankan untuk bisa membantu mengasuh kedua cucunya. Ketika Dhena hendak menjalankan kewajiban salat lima waktu pun ia harus menunggu Reza tidur pulas terlebih dulu. Karena sikap Bu Aida yang begitu cuek dan masa bodo dengan Fathan dan Reza ketika di depan Dhena.
Sangat berbanding balik ketika Bu Aida sedang berada di dekat Hariz, anak laki-laki nya itu. Maka ia akan bersikap begitu manis dan sangat-sangat perhatian kepada kedua cucunya itu. Entah apa maksud di balik sikap Bu Aida yang seperti itu.
"Dhena, perlu kamu ketahui seberapa lama dan seberapa jauh kamu melangkah hidup bersama anak saya. Kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan dalam pernikahan dan rumah tangga kamu ini. Ingat itu!" tutur Bu Aida, ibu kandungnya Hariz itu kemudian duduk di sisi tempat tidur sambil menatap tajam ke arah Dhena dengan memamerkan raut muka yang begitu keruh diliputi rasa kebencian yang mendalam kepada Dhena, menantunya itu.
Dhena yang tadi hanya mampu menunduk. Kini, mencoba mengangkat wajahnya dan berusaha untuk menatap kedua mata Bu Aida. Mencari setitik belas kasih dari sorot mata sang ibu mertua yang nyaris tak pernah ia rasakan dari sosok ibu kandung suaminya itu.
"Kenapa bisa begitu yakin Ibu berbicara buruk kepada menantu Ibu sendiri?" tanya Dhena dengan suara bergetar mencoba meredam rasa luka di dalam hatinya akibat ucapan pedas dari Bu Aida tadi.
"Karena dari dulu saya tidak pernah suka dan tidak pernah ridho Hariz bisa hidup bersama dengan kamu, Dhena!"
"Ingat, ya, saya ini ibu kandungnya Hariz. Yang dulu sudah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, dan menjaganya. Jadi, kehidupan Hariz hingga saat ini harus tetap berada dalam pengaturan saya, sebagai ibunya. Bukan wanita lain walaupun itu kamu, Dhena, yang sebagai istrinya," sambung Bu Aida penuh penekanan.
"Jadi, saya minta cepat atau lambat kamu harus bisa melepaskan diri dari kehidupan Hariz. Karena saya sebagai ibunya punya rencana sendiri untuk kebaikan anak laki-lakinya saya." Mendengar ungkapan terakhir dari wanita yang seharusnya bisa menjadi sosok ibu bagi Dhena itu, hati Dhena begitu sakit bagai luka yang masih menganga ditaburi garam. Perih. Rasa pilu yang ia rasakan saat dirinya dulu ditinggal nikah oleh suaminya dengan Nelly tak sebanding dengan ketika ia harus dipisahkan secara paksa seperti itu oleh orang ketiga, yaitu ibunya Hariz sendiri.
"Belum tidur? Kenapa menangis?"
__ADS_1
Pertanyaan dari Hariz yang baru saja memasuki kamar dan melihat Dhena sedang bersimbah air mata membuyarkan semua lamunan Dhena. Perempuan bertubuh kecil itu pun dengan tergesa mengusap kedua pipinya yang basah oleh air mata yang tadi dibiarkannya terjun bebas mengalir begitu saja.