Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Operasi Caesar 2


__ADS_3

Suster pun mulai menusukkan jarum suntik epidural di bagian punggung Dhena. Setelah selesai, kemudian membiarkannya beberapa menit memastikan obat biusnya bekerja sempurna.


"Coba angkat kaki sebelah kanannya, Mbak!"


Dhena berusaha mengangkat kakinya yang mulai terasa berat sekali, mencoba mengangkat yang sebelahnya sama sudah tidak mampu digerakkan.


Dengan posisi tiduran dan diberi sekat tirai pembatas di bagian dada, agar pasien tidak bisa melihat langsung operasi caesar yang nanti akan dilakukan oleh dokter dan team.


Seorang ibu tiba-tiba menyibakkan tirai pembatas, menyembulkan muka yang sudah tertutup masker serta penutup kepala berwarna hijau sambil berucap lembut, "Assalamualaikum, Mbak Dhena, saya dokter Wiwi, yang akan melakukan tindakkan operasi. Sebelum semuanya dimulai mari kita membaca doa bersama, semoga prosesnya dimudahkan dan dilancarkan."


'Alhamdulillah, Ya Allah ... dipertemukan dengan dokter yang menanganiku dengan baik, ramah juga agamis seperti beliau,' batin Dhena dalam hati.


Usai berdoa tepat pukul 18:15 tindakan caesar pun dimulai. Mulai terasa di bagian bawah perut Dhena seperti ada yang disayat-sayat walaupun tidak terasa sakit namun cukup membuat perempuan itu ngilu.


Ada satu orang suster yang duduk di kursi persis di sebelah kepalanya mengajak ngobrol santai untuk mengalihkan perhatian pasien agar tidak terlalu merasa tegang.


Tak lama kemudian sekitar pukul 18:30 terdengar tangisan bayi menggema memenuhi ruangan, setelah dibersihkan lalu diletakkan persis di atas dada sang ibu oleh seorang perawat. Untuk eksplor dan mendapatkan kolostrum.


Saat kulit si kecil mungil menyentuh, ada rasa bahagia dan haru menyelimuti hati Dhena. Bahagia melihat bayinya sudah berada dalam dekapan.

__ADS_1


Setelah dirasa cukup, si kecil diambil alih kembali oleh perawat dan suster lainnya mulai membantu Dhena untuk dipindahkan ke tempat tidur dorong dan mengantarkannya kembali ke ruang rawat inap.


Ketika Dhena memasuki kamar rawat kembali rasa sedih menyeruak dalam rongga dadanya.Bagaimana tidak, dalam kondisi seperti ini tidak ada satu orang pun keluarga yang hadir memberikan dukungan dan selamat. Dhena menjalaninya seorang diri. Tapi, ia pun tidak bisa menyalahkan siapapun karena ini sudah resiko hidup jauh dari keluarga.


Bahakan untuk sekedar memberi kabar kepada ibunya yang berada di jauh sana pun tidak sama sekali ia lakukan, karena wanita itu sangat yakin sang ibu pasti akan merasa lebih khawatir saat mendengar anaknya yang jauh di rantau orang dalam kondisi seperti ini, apalagi kalau sampai tahu melahirkan dengan cara operasi cesar.


"Mbak, saya minta salah satu suster atau perawatnya untuk bisa menemani saya di sini untuk menemani ngobrol, biar saya gak sendirian," pinta Dhena sebelum beberapa orang dari pihak rumah sakit yang bertugas mengurusnya itu pergi dari ruangan.


Namun, tak ada satu orang pun diantara lima orang yang mengenakan seragam putih-putih itu yang menanggapi permintaan Dhena. Mereka berlalu begitu saja tanpa berpamitan terlebih dulu.


Dhena merasa kesulitan saat ia hendak mengambil ponsel yang terletak di meja sebelah ranjang karena tangannya tak sampai untuk meraih benda pipih itu. Sedangkan di sekitarnya tak ada orang yang bisa untuk dimintai tolong. Sedangkan seluruh anggota tubuhnya terasa kaku dan sangat sulit untuk digerakkan. Tadinya ia bermaksud akan menghubungi sang suami jika kini ia sudah melewati proses tindakkan caesar dan sudah kembali ke ruang rawat inap.


"Ma'af, Bu, saya mau ambil ponsel saya, tapi tangan saya gak nyampe," jawab Dhena kemudian.


Ibu itu pun meraih ponsel yang tergeletak di nakas lalu memberikannya ke arah Dhena.


"Makasih, nggih, Bu, mohon ma'af, saya sudah ngerepotin," ucap Dhena terharu karena ternyata masih ada orang yang bersedia menolong dan membantunya di saat ia dalam keadaan tak berdaya seperti itu.


Sudah lewat waktu Isya Hariz baru datang, kelopak mata Dhena berembun saat melihat sosok suami sudah berdiri di samping, ia menumpahkan semua rasa harunya yang dari tadi disimpan sendiri kepada sang suami.

__ADS_1


"Maaf, Mas baru datang jam segini," ucap laki-laki beralis tebal itu mengusap kepala sang istri lembut. Seraya menceritakan kegiatannya selama di rumah tadi yang ternyata begitu sibuk. Dari mulai nyuapin si sulung Fathan, memandikan dan menyiapkan pakaian bersih dan keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit. Dhena pun memakluminya. Baginya yang penting sekarang sudah bisa berkumpul dan sudah dapat menemaninya di ruangan itu.


"Mama ... Tadi aku sudah lihat Dedek bayinya, lho, sama Ayah di sana. Dedek bayinya lagi bobo, Ma, gak bisa diajak main," celoteh bocah empat tahun itu bercerita.


"Dedek bayinya, kok, gak disimpan di sini, Ma? Kenapa?" sambung Fathan masih terus bertanya.


"Iya, mungkin besok pagi diantar ke sini." Dhena berusaha memberikan jawaban kepada anak lelakinya yang selalu banyak bertanya.


"Mas, tolong belikan aku freshcare dulu di luar," pinta Dhena mumpung suaminya itu sudah berada di sampingnya. Sekitar 10 menit Hari


Karena pengaruh biusnya sudah mulai berkurang rasa sakit dibekas sayatan dan jahitan di perut Dhena mulai terasa senut-senut dan perih, seluruh badannya terasa ngilu dan pegal. Setelah diolesi frashcare dengan merata oleh suami, rasa pegal mulai berkurang.


Malam itu Dhena tidak bisa memejamkan mata apalagi sang suami yang terus mengajaknya berbincang sampai larut malam dengan posisi duduk di kursi samping tempat tidur sambil sesekali mengipasi Dhena karena suasana kamar yang terasa panas.


***


Dhena baru menyadari jika keadaan badannya yang dikira baik-baik saja itu ternyata lemah tak berdaya ketika pagi hari perawat yang membantu menyeka dengan air hangat memintanya untuk sekedar membalikkan badan pun ternyata ia tak mampu melakukannya.


'Ya, Allah ... ternyata seperti ini efek pasca operasi caesar, tidak seperti saat melahirkan normal si sulung, Fathan. Pagi harinya aku langsung bisa berjalan dan mandi sendiri ke kamar mandi. Tapi, saat ini aku harus menerima kenyataan kalau badan ini persis seperti orang lumpuh yang tak berdaya untuk sekedar menggerakkan badan,' batinnya dalam hati.

__ADS_1


Bahkan Dhena harus bisa menahan diri sekuat mungkin agar tidak bersin, batuk, dan tertawa sesuka hati. Karena saat hal-hal kecil itu dilakukan efeknya sangat-sangat menyiksa sekali di bagian perut yang diperban, seakan jahitan yang masih basah itu ikut terbuka kembali.


__ADS_2