Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Menentang Mitos


__ADS_3

***


Usai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya Dhena membawa Reza dan Fathan bermain ke rumah Bi Kemproh. Sekadar untuk mencari teman ngobrol di teras depan rumah Bi Kemproh dengan beberapa ibu-ibu yang lain.


"Reza sekarang sudah umur berapa, Mbak Dhena?" tanya bi Kemproh mulai membuka obrolan.


"Udah mau sebelas bulan," jawab Dhena kemudian.


"Udah sebelas bulan, kok, masih belum bisa jalan juga, ya?" tanya bi Kemproh dengan nada nyinyir.


"Lihat, nih, keponakan saya. Walaupun umurnya baru 7 bulan tapi, badannya gemuk dan ngegemesin sudah bisa berjalan pula," sambung perempuan berbadan gemuk itu membanggakan Nadin, keponakannya sendiri yang sedang berada dalam pangkuannya.


"Duh, pinter sekali Dedek Nadin," puji Dhena sembari mencubit gemas pipi bocah perempuan yang memang berbadan gemuk itu.


"Iya, dong. Ibunya kan, rajin. Pandai mengurus anak. Memangnya situ anaknya kecil-kecil semua jarang dikasih makan gitu jadinya kurang gizi," ujar bi Kemproh mulai mengeluarkan jurus sok tahunya.


Padahal bi Kemproh sendiri tidak pernah tahu bagaimana perjuangan Dhena ketika harus membuat dan memberi makanan untuk anaknya dari semenjak usia 6 bulan saat pertama kalinya diberikan MPASI hingga kini berusia sebelas bulan. Demi untuk agar sang buah hati mendapatkan gizi dan nutrisi terbaik dalam tumbuh kembangnya.


Melemparkan celaan terhadap cara pengasuhan ibu seperti yang dilakukan Bi Kemproh kepada Dhena bukanlah suatu perkara yang remeh pun etis, terlebih jika dialamatkan kepada bayi-bayi mereka, seperti yang terjadi pada Dhena. 

__ADS_1


Baby shaming, begitu perilaku ini disebut. Merupakan kondisi yang sering dialami para ibu yang bisa saja berujung pada depresi dan rasa kecil hati.


Hal yang sama juga dialami Dhena. Saat Fathan, anaknya berusia dua tahun dan mulai banyak beraktivitas, Dhena sering kali kebanjiran komentar yang menyasar pada fisik anaknya. "Kok kurus sih? Kok, hitam banget, sih, anaknya?" Begitulah kira-kira komentar yang sering ia dengar dari orang-orang sekeliling yang sudah sering bertemu.


Awalnya, Dhena masih bisa bersikap masa bodoh. Tapi, lama kelamaan ia jengah juga. Ia juga sempat terpengaruh dan merasa kesal ketika anak lelakinya susah makan, dan ingin sang anak gemuk. Padahal sebelumnya tak ada pikiran semacam itu dalam benaknya.


Dhena paham bahwa sangatlah wajar di usia aktif anak menjadi lebih kurus dari biasanya karena energi yang dikeluarkan pun lebih besar. Karena keseringan dikomentari lama-lama ia pun malas untuk ikut nimbrung dan kumpul-kumpul bersama ibu-ibu yang lain. Ia lebih nyaman mencari teman ngobrol yang sehati dan sepemikiran dengannya yang tidak selalu mengorek dan mempermasalahkan urusan orang lain. Yang bisa saling menjaga perasaan masing-masing.


Karena masih banyak orang yang belum menyadari ketika mereka melakukan celaan kepada anak atau baby shaming akan bisa mengakibatkan sang ibu mengalami stres, tertekan bahkan depresi yang akan mengganggu kejiwaan ibu itu sendiri.


Pengalaman ini dirasakan langsung oleh Dhena ketika anak keduanya itu belum genap berumur 40 hari, ia sudah mendapat baby shaming dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Mereka melabeli Dhena sebagai ibu yang tega karena seolah membiarkan bayinya memiliki tali pusat atau pusar menonjol.


"Anak aku gak ada satu pun yang pusarnya bodong kayak anaknya Dhena karena aku selalu dipakein koin logam," ujar salah satu seseibu yang ketika itu main ke tempat Dhena dan melihat Dhena sedang menggantikan popok bayinya.


Walaupun sudah sering diingatkan oleh beberapa ibu agar memakaikan koin logam pada bayinya. Tapi, Dhena tetap mengabaikannya karena ia tak ingin terjadi hal-hal buruk terjadi pada anaknya seperti iritasi atau infeksi yang bisa diakibatkan dari koin logam itu.


Berada di lingkungan yang masih percaya dengan mitos-mitos kental membuat Dhena merasa tak nyaman. Karena selalu ada saja sikap dan pola asuhnya yang selalu dikomentarin karena menurut mereka selalu berbeda dengan kebanyakan orang.


Ketika lahir anak keduanya ia sama sekali tak pernah memakaikan gurita yang tentu saja mendapat cercaan dari setiap orang yang kebetulan melihatnya.

__ADS_1


Padahal bukan zamannya lagi memakaikan gurita pada bayi baru lahir. Sebab, gurita cenderung lebih banyak menimbulkan efek negatif untuk bayi daripada memberikan manfaat.


Pada zaman dahulu orang tua menyarankan agar bayi baru lahir memakai gurita. Bayi pakai gurita dipercaya dapat mencegah masuk angin, menghangatkan perut, dan mencegah pusar bayi menjadi bodong.


Oran gtua juga percaya jika dengan menggunakan gurita bisa mengecilkan perut bayi yang buncit. Akibat dari semua kepercayaan itu, akhirnya pemakaian gurita pada bayi menjadi salah satu perawatan turun menurun.


Tak hanya zaman dulu, ternyata di era sekarang pun masih banyak sekali orang tua yang menggunakan gurita pada bayinya yang baru lahir. Tapi, sebenarnya apakah bayi pakai gurita memang akan mendapatkan manfaat-manfaat itu?


Padahal, perlu kita ketahui, pemakaian gurita dalam dunia medis tidak disarankan. Sejumlah penelitian menunjukkan jika gurita tidak begitu memberikan manfaat pada bayi.


Misalnya, dikatakan gurita dapat mengecilkan perut bayi yang buncit, padahal hal tersebut tidak benar. Perut bayi yang buncit adalah kondisi wajar yang terjadi dan sering ditemukan pada banyak bayi baru lahir.


Kondisi ini disebabkan oleh timbunan lemak dan otot perut yang masih tipis, sehingga menimbulkan kesan perut yang buncit. Lalu, adanya udara yang masuk saat menyusui atau bayi menangis juga menyebabkan masuknya udara ke dalam perut bayi.


Perut buncit pada bayi nanti akan normal dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Maka dari itu, tak perlu lagi penggunaan gurita untuk mengatasi kondisi perut buncit pada bayi.


Justru, bayi pakai gurita memicu timbulnya risiko buruk. Seperti dianggap bisa mengganggu proses pernapasan bayi dan tumbuh kembang pada perut bayi yang belum sepenuhnya sempurna.


Pemakaian gurita khususnya yang diikat terlalu kencang, bisa menyebabkan beberapa gangguan kesehatan. Contohnya, bayi akan sulit bernapas, mudah gumoh dan mengganggu pertumbuhan organ bayi.

__ADS_1


Apabila bayi baru lahir mengalami masalah pernapasan dan kekurangan oksigen, umumnya napas bayi akan menjadi lebih cepat dan pendek. Jika ini dibiarkan begitu saja, bisa membahayakan bayi, ia akan berhenti bernapas sepenuhnya hingga berujung pada kematian.


Namun, setiap kali Dhena mengutarakan alasannya yang tidak memakaikan gurita kepada bayinya itu. Bi Kemproh pun selalu menyangkalnya dengan berkata, "Semua anak bayi yang dipakein gurita gak ada, tuh, yang sampai meninggal."


__ADS_2