
Kurang lebih satu jam perjalanan mereka sudah sampai dirumah kembali, dirumah sudah datang juga keluarga Pakdhe dan Budhe Surti.
Keluarga besar sudah berkumpul dirumah, suasana diruang belakang semakin rame terutama jomblowan yang penasaran dengan sosok sepupu Bosnya.
"Kedatangan gadis kampung saja sudah heboh, palingan dekil yang datang baru tau rasa,"
"Ya Allah kapan si normalnya Kak Indri, sewot terus! Nggak usah dengerin kami kan bisa!" ucap Lastri.
Berbeda dengan yang berkumpul diruang depan, mereka sibuk menceritakan kehidupan masing-masing yang setelah sekian tahun berpisah.
"Lina, kamu tinggal dirumah Budhe Surti saja ya?" ucap Surti.
"Tidak bisa begitu Nek, Tante Lina harus disini," protes si kecil.
"Iya Lin, dirumah Pakdhe saja. Disini terlalu rame, pusing nanti," seloroh Pakdhe sambil menggoda Alia.
"Kakek, nggak bisa gitu. Tante Lina harus disini titik," Alia cemberut.
"Sayang sini sama Kakek saja, disitu digodain terus. Sayangnya Kakek, kemari," ucap Kakek.
"Nggak mau Kek, maunya sama Tante Lina," Alia masih terus menempel sama Tantenya.
"Wah kalau gitu si ada yang girang banget, tuh sudah senyum-senyum sendiri yang merasa diuntungkan," Budhe tahu banget dengan siapa Al, sosok bucin dengan istrinya. Budhe teringat bagaimana konsentrasi Al buyar ketika perang dingin sebulan lalu. Merasa ada yang memperhatikan Al tertawa lebar.
"Budhe, paling peka sama Al," di sela-sela tawanya.
"Haha ... Bagyo, anakmu itu sifatnya 11 12 sama kamu, gengsinya terlalu besar," Surti mengadu pada adiknya.
"Budhe jangan mulai deh, jangan buka-buka kartu. Kartu sudah ditutup rapat," Sikap Al ketika didepan keluarganya berbanding terbalik ketika diluar.
"Lin, kebelakang yuk kenalan sama teman-teman," ucap Al mengalihkan pembicaraan.
"Al!" semua orang tua serempak kesal dengan Al.
__ADS_1
"Kenapa? Kok ngeliatnya gitu banget," tanya Al heran.
"Lina masih capek lah Al, beneran kan. Nggak peka sama sekali," ucap Surti. Al meninggalkan keluarganya untuk melihat karyawannya sampai mana pekerjaannya.
"Makanan sudah siap! Mak Dang, kenalkan ini Bapak dan Ibu kami, ini Lina nantinya bakal tinggal disini bareng kita," ucap Aini dengan girang.
"Pak, Bu, Lin. Beliau ini sudah kami anggap Emak sendiri, kami biasa memanggil Mak Dang," Aini mengenalkan Mak Dang kepada keluarganya.
"Wah ini toh yang selalu kalian sebut-sebut di telpon. Terimakasih ya Bu Dang, sudah selalu bantuin anak kami. Bersyukur sekali anak-anak dipertemukan Allah dengan orang yang baik," ucap Emak tulus.
"Jangan berlebihan Bu, saya yang bersyukur dipertemukan dengan Mas Al dan Mba Aini. Kami banyak terbantu dengan kehadiran mereka," ucap Mak Dang.
"Dek, Tante mau bantuin Mak Dang bawa makanan ya," Alia mengangguk.
"Mak Dang ikut makan bareng sini saja,"
"Iya Bu, bareng-bareng sama kami," tambah Emak.
"Dibelakang saja Bu, bareng anak-anak,"
"Lin Pakdhe pakai sambal, ikan, sama daun ubi," pintanya pada ponakannya.
"Siap Pakdhe,"
"Aku juga mau Lin,"
"Ayah ambil sendiri, apa Bunda yang ambilkan. Tante mau sambil nyuapin Adek," ucap Alia manja.
"Yah, Bunda sekarang dicuekin sama adek, nempel terus tuh sama tantenya," pura-pura merengek.
"Tenang Nda, Ayah nggak akan mengabaikan kamu," sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Harus itu, awas saja kalau sampai menantu Bapak diabaikan. Kamu yang bakalan Bapak hukum," ancam Bapak.
__ADS_1
"Ya deh, Aini yang anak kalian. Aku bukan siapa-siapa," ucap Al lemah. Mak Dang sangat terkesan dengan kehangatan keluarga Bosnya. Selesai makan Mak Dang kembali ke belakang diikuti orang tua Al untuk menyapa orang-orang yang selama ini membatu anaknya. Mereka merasa semakin dihargai dengan kehadiran orang tua Al yang sangat ramah dan mengakui keberadaan mereka. Bapaknya Al terus berseloroh, membuat mereka tertawa terpingkal-pangkalan.
"Pakdhe, sekarang sudah hafal belum, saya siapa?" tanya Izal.
"Tentu saja hafal dan sangat ingat, kamu si bocah tengil yang selalu dibanggakan sama cucuku Zal," sontak mengundang tawa temannya. Mereka menyoraki Izal yang dapat julukan baru, bisa jadi bahan candaan teman-temannya. Yang mendapat julukan baru hanya senyum-senyum.
"Sudah ayok kita sholat Dzuhur dulu," ajak Bapak menyudahi berkumpul dengan karyawan anaknya.
Lina menampakan wajah yang sangat lesu, setelah mandi dan sholat dia tidak tahan. Perjalanan yang memakan waktu 11 jam cukup menguras energi.
"Mbak, aku tidur dimana? Ngantuk banget Mbak,"
"Tidur dikamar Alia saja sementara, Budhe Surti kemungkinan nginap juga jadi biar ada tempat. Kamar yang mau kamu tempati buat tidur Budhe Surti. Lagian Mbak nggak yakin adek mau pisah sama kamu. Sekalian saja kalian tidur bareng,"
"Dek, ayok temani Tante Lina tidur, capek banget," Alia berlari menggandeng tangan tantenya.
Bapak, Ibu menempati kamar yang buat ruang kerja Al saat mengawasi CCTV, sofa sudah diganti dengan kasur yang nyaman. Mengingat CCTV jadi teringat Indri. Aini sengaja tidak menyinggung tentang Indri, Budhe Surti tentu tidak akan membiarkan masalah berlarut dalam usaha keponakannya. Indri juga nampaknya jadi anak yang baik saat ini. Namun perbuatannya kemarin sore sudah masuk dalam catatan.
Al serius dalam menangani Indri, tak ingin istrinya yang bertindak, laporan Izal kemarin sore tentang istrinya yang mengintrogasi dia semakin mendorong Al lekas bertindak ditambah dengan kejadian dibandara yang bertemu suami Indri. Sehabis sholat Dzuhur Al meminta Mak Dang dan Izal menemuinya.
"Zal, Mak Dang, tolong ajak bicara Indri pancing untuk mengakui kesalahan, pakai cara yang lembut tanpa melukai, pancing juga agar dia mengundurkan diri. Percuma dipertahankan beda dengan kejadian dulu sewaktu Bang Feri, dulu Bang Feri dikasih kesempatan langsung sadar dan bisa dilihat sampai sekarang Bang Feri luar biasa baik. Mak Dang pasti paham, kami pendatang yang sedang merintis usaha, jangan sampai tindakan kami membuat orang sakit hati dan berbuat lebih yang merugikan. Yang aku takutkan mereka akan berbuat kecurangan kepada istri dan anakku, makanya aku melarang istriku yang bertindak, bukan karena membela Indri tapi karena takut keluargaku yang jadi sasaran,"
"Mas, kalau dia tetap mau bertahan bagaiman?"
"Mak, tadi siang kami ketemu suami Indri, Indri menuntut pisah dengan dia karena dipaksa menikah sama aku kata dia, jadi tadi suaminya marah-marah ke saya,"
"Astaghfirullah, tidak masuk akal. Aku pengin tau sebenarnya Kak Indri punya penyakit gangguan mental atau kenapa? Diluar akal sehat loh,"
"Aku juga berfikir seperti itu Zal, mungkin jika cek ke psikolog dia mengalami gangguan,"
"Nanti coba tak tanyakan sama Pak Burhan siapa tau beliau paham,"
"Pak mengingat yang dilakukan adalah sesuatu yang ekstrim kenapa tidak ditanyakan saja sama Pak Burhan,"
__ADS_1
"Baiklah, tak tanyakan dulu saja. Aku juga curiga, jangan-jangan memang punya gangguan mental. Jika betul maka aku akan menyampaikan tentang keberatannya kepada Pak Burhan. Meminta suami Indri untuk membawa berobat," ucap Al mereka mengangguk.