Ujian Kesetiaan

Ujian Kesetiaan
Hati yang Terluka


__ADS_3

Dhena beranjak dari tempat duduknya lalu kemudian berjalan menuju meja bagian administrasi.


"Dengan Ibu Dhena Khoirunnisa, tujuan periksa ke poli THT?" tanya wanita muda itu memastikan.


"Iya, Mbak," jawab Dhena mengulas senyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Poli THT hari ini yang sedang praktik dokter Gagah Haidar. Setelah dari sini Bu Dhena bisa langsung ke ruangan beliau di lantai tiga," imbuh wanita itu sekaligus memberikan arahan kepada Dhena.


Setelah mengucapkan terima kasih Dhena bergegas menuju pintu lift yang akan membawanya ke lantai tiga.


Ketika sedang menyusuri koridor rumah sakit Dhena teringat dengan nama dokter yang sepertinya sudah tak asing lagi di pendengarannya. Gagah Haidar.


Namun, hatinya menepis semua dugaan dalam pikirannya jika nama itu merupakan orang yang pernah dekat dengan Dhena.


Dhena kini sudah berdiri di depan pintu lift. Ketika dirinya memasuki ruangan sempit itu terlihat ada satu orang pria yang sangat akrab dalam ingatannya.


"Mas Gagah, ya?" tanya Dhena memastikan.


Laki-laki tersebut menganggukkan kepala cepat mengiakan pertanyaan wanita yang sedang berdiri berhadapan dengannya.


"Dhena Khoirunnisa? Kenapa bisa ada di sini?" lelaki tegap itu mengernyitkan keningnya.


Gagah Haidar merupakan laki-laki pertama yang bisa kenal dekat dengan Dhena sebelum Dhena mengenak Iwan. Karena perkenalan mereka diawali saat Dhena menjadi mahasiswi di salah satu kampus tempat ia menimba ilmu setelah lulus dari sekolah menengah atas.


Laki-laki bermata teduh itulah yang pernah menyelamatkan Dhena ketika ia hendak membayar minuman di sebuah mini market dekat kampusnya.Tapi, ternyata dompetnya lupa dibawa karena masih tertinggal di kostan.


Keakraban keduanya menjadi semakin intens ketika mereka ada dalam satu kelompok salah satu organisasi rohis di kampusnya.


Dulu Dhena sempat mengagumi sosok Gagah yang menurutnya kepribadian lelaki itu sangat berbeda dengan pria kebanyakan yang ia kenal. Salat lima waktunya yang selalu terjaga dan selalu berjama'ah di masjid kampus membuat hati Dhena selalu berdesir hangat tiap kali tak sengaja berpapasan dengan Gagah.

__ADS_1


Gagah yang dulu pernah mengenyam pendidikan kedokteran spesialis THT kini ia ditugaskan di sebuah rumah sakit swasta.


Pintu lift terbuka di lantai tiga mereka keluar beriringan. Gagah langsung memasuki ruang praktiknya karena sudah ada beberapa pasien yang mengantri di kursi yang berjejer di depan pintu masuk ruangannya.


Sedangkan Dhena duduk di bangku tunggu bersama beberapa pasien yang lain. Ia berada di nomor urut yang ke lima.


***


Nelly sudah kembali ke rumahnya. Tinggal menjalani masa pemulihan. Sudah bebarapa hari ia ditemani oleh Hariz.


Nelly terkesiap sesaat setelah membaca beberapa chat via whatsApp di ponsel milik Hariz. Perempuan cantik itu tak menyangka jika Hariz kembali rujuk dengannya hanya demi ibunya saja.


Sambil menahan gejolak di dalam dada, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu pun meletakkan kembali ponsel di meja kamar. Berusaha menutupi betapa hancur hatinya saat ini.


"Bunda, kenapa nangis?" Pertanyaan dari Vito, putra pertamanya yang kini sudah berusia enam tahun mengacaukan lamunan Nelly.


"Emh ... Enggak, kok, Sayang, Bunda gak nangis," jawabnya tergagap sembari mengusap air mata yang masih tersisa di sudut netra menggunakan ujung ibu jari lentiknya.


"Ayah nakal. Tadi lagi nemenin Vito main tapi, sekarang Vito malah ditinggal bobo tuh, di depan TV," rajuknya merangkul sang bunda.


"Yaudah, sekarang Vito bobo siang bareng bunda aja, yuk, di sini." Nelly memangku lalu membaringkan tubuh mungil Vito di tempat tidurnya.


Beberapa menit kemudian kelopak mata lelaki kecil itu pun mulai terpejam sempurna. Pertanda sudah beralih ke alam mimpi indahnya. Perlahan Nelly bangkit dan duduk di tepi tempat tidur sambil sesekali memastikan putranya sudah benar-benar terlelap.


Nelly berjalan mengendap ke arah pintu kamar lalu berjalan keluar memastikan kalau suaminya juga masih tidur di ruang tengah seperti tadi yang dikatakan oleh putranya.


Dilihatnya Hariz sedang tidur terlentang menyangga kepala dengan sebelah tangan menghadap ke arah televisi yang masih menyala dengan suara nyaring.


Entah kenapa lelaki berusia tiga puluh empat tahun itu terlihat sangat nyaman tidur dengan posisi seperti itu. Suara bising dari alat elektronik itu seolah tidak membuatnya terusik.

__ADS_1


Setelah mematikan televisi dan menutup pintu depan Nelly berinisiatif untuk kembali ke dalam kamar. Rasa penasran dengan chat di ponsel Hariz terus memenuhi isi kepalanya.


Di dalam kamar, setelah menguncinya terlebih dulu. Nelly mulai memberanikan diri membuka aplikasi warna biru berlogo F milik sang suami. Beberapa status di beranda akun media sosial itu tidak ada sesuatu yang membuatnya curiga.


Namun, hati perempuan berkulit putih itu seakan teriris saat membuka inbok Facebook Hariz.


Cairan hangat mulai kembali luruh seketika dari sudut netra. Tanpa mampu ia bendung lagi. Samar pandangannya membaca pesan dari Hariz yang dikirim ke nomor Dhena.


["Sabar, ya, Sayang. Mas melakukan ini semua karena terpaksa. Yakinlah. Sampai detik ini kamulah satu-satunya istri yang selalu mengisi hati Mas. Gak pernah ada wanita kedua dan ketiga."]


'Jadi, selama ini kehadiranku dianggap sebagai apa? Jika sebagai yang kedua pun aku tak pernah diakuinya?' jerit batin Nelly dalam hati.


***


Hati perempuan mana yang tak hancur lebur saat mendapati lelakinya membohongi di belakangnya? Sikapnya menunjukkan seolah mencintainya. Tapi ternyata hatinya hanya untuk istri pertamanya. Nelly berharap semua ini hanyalah mimpi buruk yang hanya dirasakannya sementara waktu.


Namun, kenyataannya semua ini memang benar-benar nyata. Kenyataan pahit yang harus ia jalani.


Selama ini Nelly merasa, Hariz merupakan sosok pria sekaligus suami yang baik dan penuh perhatian kepada keluarga kecilnya. Rasa sayang kepadanya dan Vito anak pertamanya begitu nyata terlihat dengan sikapnya yang selalu memanjakan Vito dari pertama mereka bertemu hingga saat ini. Walaupun Vito bukan dari darah dagingnya Hariz.


***


"Untuk beberapa hari ke depan sepertinya Mas gak bisa pulang ke sini, ya, kamu baik-baik di rumah sama Vito" pesan Hariz saat mereka menikmati sarapan paginya bertiga.


"Iya, Mas." Nelly berusaha bersikap sebiasa dan senormal mungkin di hadapan Hariz. Seolah ia belum mengetahui tentang chat suaminya itu kepada Dhena di belakangnya.


Walaupun jauh di dalam hatinya Nelly bersikeras meredam gelenyer nyeri yang menusuk tiap kali ingatannya tertuju kepada chat mesra Hariz dengan istri pertamanya itu.


"Mas harus menemani Dhena, kasian dia pasti butuh Mas karena sedang hamil anak kami yang kedua jadi sepertinya gak bisa pulang ke sini lagi lebih cepat," ujar Hariz tanpa mempedulikan hati Nelly yang semakin teriris dengan ucapan Hariz barusan.

__ADS_1


"Iya, Mas, aku ngerti, kok. Setiap istri yang sedang hamil itu pasti sangat membutuhkan sosok suami disampingnya." Nelly berusah mengulas senyum di hadapan Hariz. Menyembunyikan luka hatinya.


'Aku harus sadar diri. Aku ini hanya wanita keduanya yang tak pernah bisa menggantikan sosok Dhena di hati Mas Hariz,' batin Nelly.


__ADS_2