
"Haha ... ayolah, apa begini sambutannya kawan, aku rasa sangat berlebihan," ucapnya dengan nada mengejek
"Aku tak mengerti maksudmu? Aku tidak tau bahasa kode, aku tak peka,"
"Menjemput anakmu di tolak, bertamu kesini di grebek, apakah seperti ini dalam menyambut tamu jauh?" ternyata dia yang mencoba menjemput anakku,.
"Seorang teman tak akan mengutus anak buahnya membuntuti istriku, seorang teman tak akan menjemput anakku tanpa ijinku, seorang teman tak akan berbuat onar di lingkungan rumahku, sobat," jawab Al.
"Ayolah, aku temanku. Cepat perintahkan dia melepas ikatan ini. Aku sangat haus tidak bisa minum," rengek Zaki, mendengar ungkapannya, Pak Arif menyodorkan air mineral lengkap dengan sedotan ke arah mulut Zaki.
"Bukankah kamu kuat, melepas seperti itu apakah tidak kuat? Katakan sebenarnya apa tujuanmu, aku tak pernah mengusik kehidupanmu!"
"Ayolah kawan, lepaskan dulu baru aku bercerita. Tapi ini rahasia ya, jangan sampai orang tau,"
"Haha ... ternyata kita berurusan dengan orang yang tak waras, Pak Arif," Al terbahak.
"Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kewarasannya, Pak Al?"
"Mungkin sedikit siraman air di kepalanya, atau mungkin dia butuh berendam," ucapku disertai dengan tawa. Tak habis pikir kenapa sampai aku berurusan dengan dia.
"Al tujuanku kemari karena ada satu hal harus aku bicarakan. Kenapa kamu sekarang jadi melebihiku kekayaannya, orang kampung tak lagi memandangku. Aku sekarang di perlakukan seperti sampah oleh mereka, mereka selalu memujamu,"
"Jauh-jauh kesini hanya ingin sebuah popularitas? Tak ada hubungannya denganku, Zaki. Aku tak peduli dengan popularitas, untuk apa? Hidupku tidak bergantung dengan mereka, bukan?"
"Tapi bagiku sangat penting, aku ingin kamu merasakan penderitaan yang aku alami saat ini, di cemooh masyarakat, di hina karena aku kalah denganmu,"
"Zaki, satu hal yang penting kamu ingat. Aku nggak ada tujuan menyaingi, dan aku menjalani usaha di perantauan jadi mereka tak melihat kebenaran dan aku dulu juga tak peduli dengan popularitas kamu, aku tak bersalah dalam hal ini. Ada peran Allah yang membuat semua ini lancar, kamu tau siapa itu Allah,"
"Jangan kamu berlaku sok islami, melihat kecantikan Sari saja kamu melotot,"
"Ah ... aku lupa sekarang sedang bicara dengan siapa. Orang yang sangat suka memutar balikan fakta. Aku ladeni kamu. Mungkin tujuan kamu kali ini bukan hanya melihat kemajuan usahaku kawan, tapi melihat apakah istriku sudah meminta cerai dan kamu ingin memungutnya. Tapi kamu jauh dari kata pantas jika kamu mengharapkan istriku. Kamu memerintah Sari untuk menggodaku, lantas istriku minta cerai maka kesempatan itu kamu gunakan untuk mendapatkan Aini. Jangan dulu senang kamu, Zaki. Aini sangat paham siapa itu suaminya, dan aku sangat paham siapa itu Aini. Aini sangat tak pantang jika berdampingan denganmu,"
__ADS_1
"Kamu menuduhku?"
"Menuduh, bukan sama sekali sobat. Aku hanya berbicara fakta percakapanku dengan Sari, bukankah kamu ingat dengan isi percakapannya. Jika tidak ingat maka nanti aku akan mengingatkannya," mata Zaki tak percaya dengan Al sekarang, tidak seperti dulu yang akan mudah percaya, mengedepankan kepentingan temannya.
"Aku tak menyangka, istrimu semakin cantik ya Al. Dan kenapa dia tak marah padamu?"
"Zaki ... Zaki, tanpa aku mengingatkan ternyata kamu sudah mengakuinya, kalau mau ngomong mesti di tata. Model begini kemanapun nggak bakalan punya teman. Aku sudah lelah selalu mengalah sama kamu dulu, aku sering menjadi korbanmu, mengakui kesalahan yang tidak aku perbuat. Aku sering mempertanggungjawabkan perbuatan kamu dulu. Itu sudah cukup bagiku. Sekarang kamu harus bertanggungjawab dengan jiwa dan ragamu sendiri,"
"Aku membayangkan tubuh istrimu seperti apa ya, sayangnya selalu terbungkus rapi. Jadi nggak bisa ku bayangkan dirinya hanya terlihat wajahnya yang begitu cantik,"
"Zaki, bicaramu ngelantur. Ingat, ini daerah orang lain. Kamu bisa kuat di kampung, tapi tidak disini. Jangan berani macam-macam disini?"
"Al, lepaskan. Tanganku sudah sangat pegal. Mana bisa aku membalas mu jika tangganya di ikat,"
Al tak mengerti yang ada di otak Zaki, bisa-bisanya kesini hanya main-main mengusik kehidupan orang lain.
"Hubungi anak buahnya sekarang, suruh kemari!"
"Al, bagaimana bisa, ponselku di saku. Tanganku diikat," dengan sigap Pak Arif merogoh ponsel di saku kemeja Zaki.
"Zaki, siapa nama anak buahnya?"
"Zaki berbicara dengan anak buahnya untuk segera kemari. 10 menit kemudian anak buahnya masuk ke gerbang rumah Al. Betapa terkejutnya siapa yang datang, ternyata Paman Sarno.
"Maaf, Al. Aku hanya menuruti kemauan Zaki. Dia terus menekan Paman agar mau menemani dia menemui kamu. Mau melihat kebenaran usahamu, aku nggak ikutan," ucap Paman Sarno.
Datanglah dua orang berseragam polisi ke pos keamanan di rumah Al.
"Kami dari kepolisian mendapat laporan dari warga kamu disini ada keributan, ini surat penangkapannya,"
"Pak Al, dan Pak Arif harap ikut kami untuk dimintai keterangan,"
__ADS_1
"Al, Paman nggak ikutan, jangan ikut di tangkap. Otak dari semua keributan itu Zaki. Dia saja yang di hukum,"
"Paman hanya dimintai keterangan, soal hukum biar mereka yang menentukan," ucap Al kepada Paman Sarno. Malang sekali nasibmu Paman, berurusan dengan Zaki itu repot mana pernah di untungkan.
"Benar kata Pak Al, jika kamu melawan akan membatalkan. Jelaskan saja di kantor," ucap Polisi dengan tegas.
Aini dan anak buahnya mendekat karena kaget dengan suara mobil polisi yang berhenti dirumah Al. Mata Aini bertabrakan dengan Al, Al paham maksud dari Aini.
"Sayang, kemarilah," ucap Al. Aini mendekat kearah suaminya.
"Kamu , Zaki. Berbalik, jangan kamu tatap istriku?"
"Cuma sedikit juga, lagian dia tidak rugi ditatap orang tampan,"
"Diam!"
"Sayang, Mas akan ikut ke Kantor polisi untuk di mintai keterangan. Kamu telpon Izal untuk tak usah buru-buru bawa mobilnya. Si Pembuat onar sudah tertangkap,"
"Baik, Mas. Jangan lama-lama, mereka butuh penjelasan, nggak mungkin aku yang menjelaskan ke mereka," Aini menunjuk ke karyawannya.
"Siap, Sayang. InsyaAllah tak akan lama. Ayo Pak kita berangkat!"
Zaki dan Sarno dikawal menuju mobil polisi sementara Al dan Arif pakai mobil sendiri. Di gerbang Izal berpapasan dengan mobil tersebut buru-buru menyetop mobil Al.
"Mas, sebentar. Aini belum kami bawa, tadi ibu Guru bilang sebelum kami ada seseorang yang menjemput kami mengaku bernama Lina. Jadi kami tak bisa membawa Alia takut kami bukan utusan dari Mba Aini.
"Jadi setelah Zaki ke sekolah, anak perempuan yang mengaku Lina? Siapa, Zal?"
"Bu Guru juga heran, akhirnya kami kembali dengan tangan kosong. Tak akan diijinkan pulang kecuali orang tua kandung yang menjemputnya,"
"Baiklah, aku selesaikan urusan yang ini dulu, Zal. Yang penting Alia aman di sekolah," Mobil Al menyusul Zaki ke Kantor polisi. Pertanyaannya siapa yang mengaku sebagai Lina?
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...****************...