
Jangan ditanya perasaan Izal saat ini, langsung sujud syukur dihadapan semua orang.
"Selamat ya, Nduk. Kamu sudah memenangkan pertempuran, pertempuran dengan hatimu. Papa bangga sama kamu, Sayang. Kamu bisa segera move on dari masa lalu. MasyaAllah papa bahagia jika kamu bahagia," terdengar wejangan dari papa yang di Jawa. Ternyata sejak tadi kedua orang tua menyaksikan live obrolan mereka, melalui handphone Aini.
"Loh, Papa. Jadi sejak tadi papa melihat semuanya?"
"Iya, Sayang. Papa dan mama melihat semuanya. Papa bersyukur keputusan kamu ikut Pakdhe sangat tepat, kamu berada dilingkungan yang baik dan yang jelas membuat kamu bisa menyadari kesalahan mu dengan meratapi laki-laki yang nggak punya akhlak. Terimakasih, Sayang. Kamu wanita yang hebat," ucap Papa Lina semangat dan mata memerah karena haru. Anaknya yang terluka sudah kembali menemukan laki-laki yang jauh lebih baik. Al sudah menceritakan semuanya kepada papa Lina. Lina tak kuasa menahan air matanya, mendengar suara kedua orang tuanya membuat Lina semakin merindukan mereka.
"Papa, Terimakasih," ucap Lina sambil mengusap air mata.
"Sayang, jadi sudah siap ini menjadi warga Sumatra?" ucap Mama jail.
"Mama, kok gitu si?"
"Lah iya to, bener kata Mama. Calon kamu sudah menetap disitu, itu artinya papa mama bakalan kangen berat jika kalian sudah menikah nantinya,"
Obrolan papa mama Lina bukan hanya dengan Lina namun juga dengan Bapak ibu Izal serta seluruh anggota keluarga.
"Calon besan, jadi kapan kita bisa kesitu menikahkan anak kita?" ucap Pak Danu semua tertawa dengan sebutan baru yaitu calon besan. Lina dan Izal pipinya memerah menahan malu.
"Ponakan ku si Aini masih ngajar saat ini, jadi nunggu sebulan lagi bagaimana? Pas Aini dan Aini liburan sekolah," ucap Papa Lina diseberang telpon.
"Papa, apa tidak terlalu cepat?" tanya Lina.
"Justru lambat, Lin. Harusnya Minggu besok," ucap Izal dan mendapat pukulan di bahunya dadi Bu Yuli.
"Hu ... maunya. Sudah ibu bilang, sesuatu yang tergesa-gesa itu datangnya dari syaiton,"
"Bukan tergesa-gesa, Ibu. Tapi ... menyegerakan niat baik, niat ibadah,"
"Hu ... memang, Izal. Ibadah sholatnya tuh dibenerin di awal waktu, dan masih banyak ibadah lain," cibir Aini.
"Ternyata calon mantuku sangat mirip anakku ya, Ai. Bawaannya debat terus sama kamu dan Al,"
"Setuju, Om. Memang iya, Izal itu 11 12 sama Lina. Cocok deh, Om," ucap Aini sambil mengacungkan kedua jempol nya.
"Pernikahan kalian sebulan lagi, titip mereka ya Al. Jangan biarkan mereka berduaan dulu!"
"Siap, Om. Tugas ini aku paling demen,"
__ADS_1
"Yah ... bakalan terasa lama deh, waktu sebulan," keluar Izal.
"Sebulan itu, kata Bu Guru 60 hari. Nggak lama kok, Bang,"
"Eits ... panggilannya berubah, Dek. Om ... ingat ... Om!"
"Ayah, terus adek jadi sudah nggak punya Kakak?"
"Bang Izal meskipun kamu panggil Om , tapi tetap sama. Tetap sayang sama kamu, tetap main sama Alia,"
"Oh ... begitu, Yah. Beneran, Om?"
"Iya, dong. Malah makin sayang, sini duduknya sama Om saja,"
"Nggak mau, sama Tante Lina saja. Aku lagi ngambek dulu, belum di belikan es krim,"
"Fotocopy dari Mas Al, ya begitu," ucap Lina.
"Kamu betah disitu, Sayang?"
"Alhamdulillah betah, Pa. Papa kan tau sendiri bagaimana Pakdhe dan Budhe memperlakukan keponakannya. Seperti anak sendiri, tapi kangen papa mama,"
"Wa'alaikumussallam," semua menjawab.
"Mas Al, nanti Izal di kirimi nomor handphone papa Lina, saya mau ngobrol dengan calon besan. Terkait persiapan pernikahan mereka,"
"Siap, Pak Danu. Langsung di kirim supaya tidak lupa,"
"Zal, lekas kamu kabari nenekmu, beliau yang paling khawatir sama kamu,"
"Nanti sehabis isya, Pak. Rencana mau Izal kabari,"
"Mumpung kita lagi ngumpul, gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan ke Mall dekat sini. Jarang-jarang kan, Mas Al dan Mba Aini kesini," lanjut Izal.
"Wah ... kemajuan ini, aku dipanggil mas sama Izal. Bukan lagi jarang, Zal. Tapi lebih tepatnya belum pernah,"
"Ya silahkan kaum muda pada jalan-jalan. Kami para orang tua cukup ngumpul di sini, sambil menikmati kopi hitam," ucap Pak Bagyo.
"Pakdhe, nggak seru dong," rengek Lina.
__ADS_1
"Kata siapa nggak seru, lihat tuh calon kamu sudah mengesahkan dari tadi ditambah cucuku yang super cerewet,"
Setelah sholat Isya Al jadi mengajak anak, istri serta adiknya jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, 20 menit perjalanan dadi rumah budhe Surti. Setelah turun Al berpesan kepada istrinya jangan terlena pulangnya, kasihan anaknya jelas ngantuk berat.
Pertama yang dituju adalah fashion, wanita itu paling rempong kalau sudah jalan ke Mall. Lapar mata membuat mereka berburu barang yang asalnya tidak terlalu penting. Aini dan Lina berjalan didepan, Al dan Izal dibelakang sembari Alia berada di gandengan Izal.
"Zal, akhirnya aku bisa ketemu kamu. Zal, hiks ... maafkan aku, Zal," ucap seorang wanita seusia dengan Lina. Lina dan Aini menoleh kearah suara dan saling pandang lalu tersenyum bersamaan. Al mengambil Alia, namun Alia menolak. Wanita tersebut hendak memeluk Izal namun dengan sigap Izal menghindar, dan lekas menggendong Alia.
"Zal, maafkan aku. Aku yakin kamu masih mencintaiku, aku tidak serendah itu berselingkuh dengan temanku. Aku dijebak, aku sering menjelaskan ke kamu dulu kan? Zal, jawab aku! Aku mau kita balikan, dan segera menikah sesuai dengan rencana kita dulu," ucap wanita itu. Al masih membiarkan wanita itu berbicara.
"Zal, aku mohon. Kamu jelas-jelas mencintaiku, buktinya kamu menyendiri, kamu frustasi gara-gara kita gagal menikah. Kita nggak gagal, Sayang. Hanya ditunda, maaf aku yang telah merencanakan agar pernikahan kita diundur. Kamu maunya secepatnya kan? Aku sekarang kapanpun kamu mau, aku bersedia kapan saja, besok juga aku sudah siap," ucap wanita itu tanpa henti.
"Sayang, kamu sama Ayah, Bunda apa Tante? Om, mau bicara sama orang ini dulu," bisik Izal sama Alia.
"Sama, Tante," jawab Alia dengan berbisik juga. Izal melewati wanita itu dan berjalan menuju Lina, Alia berpindah ke gendongan Lina.
"Lin, kamu jangan salah paham ya, Abang mau menyelesaikan masalah Abang dulu, yang lama tertunda karena kebodohan Abang,"
"Tenang, Bang. Aku nggak apa kok, sekalipun Abang mau balikan lagi aku juga nggak apa," ucap Lina dengan senyum yang dipaksakan. Meski baru hari ini dia menerima keputusan untuk menerima Izal, namun rasanya tak rela jika Izal di dekati wanita lain.
"Ngaco kamu, Lin. Nggak waras kalau sampai aku balikan lagi sama Virna," ucap Izal mantap dihadapan Lina. Lina melihat kesungguhan Dimata Izal.
"Zal, kamu mau kemana? Aku ngomong sama kamu," wanita itu mengikuti Izal.
"Bang, jangan melawak. Jawablah, jangan buat dia berharap, aku percaya pada takdir, aku percaya sama kamu," ucap Lina memberi semangat.
"Zal, siapa wanita itu. Zal, kamu masih mencintaiku kan?
"Astaghfirullah, kenapa denganmu Virna? Bisa diam sebentar, kasih aku kesempatan buat ngomong. Kita duduk disana, aku mau menyelesaikan masalah yang tertunda,"
"Zal, tungguin. Aku mau kamu seperti dulu, selalu mengerti denganku, tungguin, Zal," Virna terus merengek.
Izal jadi teringat masa lalu, bagaimana di berjuang mencintai sosok Virna, dan menjadikan Virna wanita satu-satunya yang istimewa dihatinya. Ya ... mereka memiliki kenangan manis yang sangat banyak.
"Zal, aku kangen masa-masa seperti dulu," ucap Virna sendu setelah duduk di hadapan Izal.
"Bisakah kamu tetap bersamaku? Seperti cita-cita kita dulu?" ucap Virna penuh permohonan.
...💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔...
__ADS_1