
Rasa mual yang hebat sudah mulai menyerang dan dirasakan oleh Dhena. Dalam satu hari ia bisa muntah hingga tiga bahkan sampai lima kali. Membuat Dhena kelelahan dan merasa lemah tak berdaya.
"Mas antar aku ke Bu bidan nanti, ya, biar dikasih obat pereda mual. Kepala aku juga sekarang sering terasa sakit," keluhnya kepada sang suami. Hariz pun mengiakan permintaan sang istri. Karena ia sendiri pun sebenarnya merasa kasihan melihat kondisi Dhena yang sudah tidak melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur.
Bakda Ashar, Hariz mengajak istrinya untuk memeriksakan diri ke tempat bidan praktik terdekat. Sedangkan Dhena masih tergolek lemah tak berdaya sambil beberapa kali ia bolak-balik ke kamar mandi mengeluarkan semua isi perutnya. Terkadang Dhena muntah-muntah sembari berurai air mata karena menahan rasa tak nyaman di bagian tenggorokannya yang terasa sangat getir dan pahit.
Melihat kondisi sang istri yang seperti itu, Hariz segera mengajak Fathan untuk mandi. Hariz sudah biasa memandikan anaknya itu sedari Fathan berusia satu tahun jika Dhena terkuhat sedang sibuk dengan pekerjaan rumah yang lain. Bagi Hariz memandikan anak bukan hanya tugas istri, tapi juga tugas suami yang sama-sama punya kewajiban dalam mengurus sang buah hati tercinta.
"Kita mau kemana, Ayah?" tanya Fathan ketika ia dipakaikan baju oleh Hariz.
"Kita mau ngantar Mama ke rumah bidan." Ayahnya menjawab.
"Rumah Bu bidan yang ada tempat ayunannya itu, ya, Yah?" tanyanya karena ia pernah diajak ke sana sewaktu ia demam beberapa Minggu yang lalu.
Hariz menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ke arah Fathan.
"Hore ... Hore, Aku senang Ayah, nanti aku bisa main ayunan di sana," soraknya riang. Semenjak usianya memasuki dua tahun dulu kosa kata yang dikuasai Fathan memang sudah agak banyak dan sudah fasih melafalkan huruf R.
Mengendarai roda dua mereka mulai berangkat ke tempat Bu bidan. Fathan yang duduk di bagian depan dengan Hariz begitu bahagia. Mulut mungilnya tak henti berceloteh riang dan menanyakan apa saja yang dilihat dan dijumpainya di sepanjang jalan. Hingga Hariz merasa kewalahan saat memberikan jawaban setiap pertanyaan dari putra semata wayangnya itu. Sedangkan Dhena hanya tersenyum bahagia mendengar kedua orang yang dicintainya seperti sedang melakukan sesi tanya jawab yang tak berujung.
Hariz memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah Bu bidan yang cukup luas. Yang terletak persis di pinggir jalan raya.
__ADS_1
Fathan langsung berlari-lari kecil menuju area permainan yang disediakan di sana.
Sedangkan Dhena duduk di kursi tunggu ikut mengantri dengan beberapa orang yang sudah datang terlebih dahulu.
Setelah menunggu tiga pasien selesai diperiksa, nama Dhena pun dipanggil oleh seorang asisten bidan.
"Periksa apa, Mbak?" tanya Bu bidan ramah.
"Saya kemarin-kemarin sudah mencoba tespack dan hasilnya samar seoerti ini," jawab Dhena seraya menyerahkan benda tipis persegi panjang itu yang ia ambil dari tas kecil yang dipakainya.
Setelah melihat benda itu kemudian Bu bidan kembali membuka suara, "Untuk lebih bisa memastikan kita test ulang saja, ya, Mbak," saran Bu bidan. Bu bidan menyerahkan mangkuk kecil ke arah Dhena sambil menikahkan Dhena untuk ke kamar mandi yang terletak di belakang ruangan periksa.
Dhena berjalan ke kamar mandi sambil membawa mangkok kecil ditangannya. Selesai buang air kecil ia membawa sedikit air urinnya itu ke ruang periksa dan langsung diserahkan kepada bidan yang sudah menunggunya.
Beberapa detik kemudian. Terlihat garis dua berwarna merah yang sangat jelas. Ya, Dhena ternyata memang positif hamil.
Setelah ditanya hari pertama terakhir haid. Bu bidan menyimpulkan kandungan Dhena saat ini baru berusia 5 Minggu.
"Ada keluhan apa saja Mbak selama ini?" Bu bidan mekanjutkan pertanyaannya.
"Banyak, Bu. Sudah beberapa hari ini saya mengalami rasa mual yang sangat mengganggu. Sakit kepala, juga terkadang terasa sesak di bagian dada," jelas Dhena memberitahukan semua yang pernah dirasakannya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Iya, memang biasanya rasa mual dan tanda-tanda kehamilan atau biasa disebut dengan ngidam itu bisa dirasakan oleh wanita yang sedang hamil saat memasuki usia kandungan yang ke lima Minggu. Seperti Mbak Dhena sekarang." Bu bidan memberikan penjelasan.
Tak lama kemudian Bu bidan mulai menyiapkan beberapa macam obat pereda mual dan obat anti nyeri untuk sakit kepala dan vitamin serta kalsium tambahan yang harus rutin dikonsumsi oleh ibu hamil seperti Dhena.
Karena saat ini pertama kali dilakukan pemeriksaan kehamilan. Waktunya agak lama karena harus melewati beberapa rangkaian pemeriksaan awal lainnya. Seperti dilihat dari berat badan, lingkar lengan bagian atas dan pemerksiaan lainnya.
***
Hariz sedang menemani Fathan, sang buah hati bermain ayunan persis di depan ruang tunggu. Ketika ada sebuah sepeda motor yang baru datang memasuki halaman sekaligus tempat parkir para pasien yang membawa kendaraannya.
Hariz terhenyak saat bola matanya menangkap sosok perempuan yang sudah tidak asing lagi di penglihatannya. Wanita itu turun dari sepeda motor yang dikendarai oleh seorang perempuan setengah baya. Mungkin bibinya.
Wanita yang baru menjejakkan kaki di halaman itu ternyata Nelly. Yang sudah beberapa waktu Hariz tinggalkan karena perempuan yang pernah jadi istri keduanya itu sudah ditalaknya.
Baru pertama ini mereka kembali bertemu dan bertatap muka. Karena semenjak Hariz menceraikan Nelly, Dhena menyarankan agar Hariz, suaminya itu untuk mencari tempat kerja yang baru untuk menghindari hal-hal buruk yang tak diinginkan bisa terjadi jika Hariz masih harus bertemu dengan mantan madunya itu di tempat kerja. Semua akses media sosial dan nomor teleponnya sengaja langsung diblokir agar Nelly tak bisa lagi berkomunikasi dengan Hariz. Sehingga Nelly merasa kesusahan ketika ia hendak menghubungi Hariz. Untuk langsung datang ke rumahnya, Nelly tak ada keberanian jika harus bertemu dan berurusan dengan Dhena.
Sedangkan Nelly saat ia menyadari ada sosok Hariz di sana. Tanpa berpikir panjang perempuan itu langsung menghampiri Hariz yang masih mematung memandang ke arah wanita yang sedang berjalan ke arahnya.
"Mas Hariz, kebetulan kita bertemu di sini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Mas." Nelly berkata ketika ia sudah berdiri persis di hadapan Hariz.
"Ada apa? Bukannya sudah tak ada lagi urusan dan permasalahan di antara kita," jawab laki-laki bertubuh tegap itu datar. Hariz sebisa mungkin bersikap acuh dan dingin ketika berhadapan dengan wanita yang hampir memporak-porandakan rumah tangganya itu.
__ADS_1
"Dengar dulu, Mas, penjelasanku."