
Aini menceritakan kejadian pagi tadi yang tak diduga, bahwa Pak Abid ternyata kamarnya bersebelahan dengan kamar Ai. Tak ada yang ditutup-tutupi, semua diceritakan dari malam tadi yang Pak Abid wa, sampai saat kerja kelompok pada saat seminar tadi.
Flashback on
Peserta seminar dibagi menjadi berkelompok yang terdiri dari 2 orang dari masing-masing gugus sekolah. Itu artinya Aini sekelompok dengan pak Abid.
"Bismillah, InsyaAllah baik-baik saja," ucapan Aini dalam hati. Abid mendekat ke posisi Aini, tidak sendirian ada pak Hasan bersama Abid.
"Ayo Aini, kita duduk disitu," Abid menunjuk bangku kosong yang ditinggal penghuninya menuju kelompok masing-masing. "Ayo, Pak,"
"Jadi gimana tugasnya Pak Hasan, pembagiannya?" ucap Abid.
Aini masih sedikit canggung, tapi melihat pak Abid yang sekarang tatapannya jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Artinya pak Abid menepati janjinya.
"Aini kebagian menyusun rencana pembelajaran, sedangkan kamu pak Abid merancang alat peraga yang akan digunakan. Bagaimana? sanggup?"
"Siap Pak, InsyaAllah,"
"Siap Pak, InsyaAllah," ucap mereka serempak
"Baiklah, langsung dimulai jika ada kesulitan kalian bisa diskusikan bareng-bareng," Aini dan Abid sama-sama menganggukkan kepala tanda setuju. Kerja kelompok berjalan dengan lancar.
Flashback off
Aini menceritakan semuanya, sebenarnya tadinya Al sudah bertanya-tanya ketika melihat hp Aini yang tergeletak dimeja. Saat Aini sedang mandi orang tua Aini menelpon, kemudian diangkat oleh Al setelah panggilan berakhir, Al tidak sengaja melihat riwayat panggilan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Abid. Akhirnya Al melihat pesan masuk, dilihatnya banyak pesan masuk. Yang membuat Al senang tidak ada satupun balasan pesan untuk Abid. Dan didaftar panggilan juga adanya panggilan tak terjawab, tidak ada panggilan masuk. Al tersenyum bahagia, dan saat Aini menceritakan kemudian dalam hati Al mencocokan dengan itu.
"Terimakasih ya sayang kamu selalu menjaga kehormatan diri sendiri dan kehormatan suamimu," senyum tulus Al lalu meraih tangan Aini lalu digenggam erat dengan posisi masih duduk berhadapan.
"Sama-sama Mas Al Sayang, sudah semestinya. Ketika Ai menikah tentunya harus menerima pasangan Ai dengan penuh syukur. Ai ingat betul mengenai kenapa sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan. Nah perempuan yang seperti apa? jawabannya adalah perempuan yang kufur. Kufur kepada suaminya. Ai nggak mau dong jadi salah satu diantara mereka," sambil tersenyum.
Jika mau menuruti ego memang benar yang dikatakan Abid, saat ini Aini mengalami hidup yang tidak mudah dimana suaminya sakit, meski sudah baikan tapi masih tetap menjalani terapi yang memerlukan biaya. Sementara tidak ada pemasukan, yang ada pengeluaran setiap harinya. Tabungan habis, lama-lama aset bisa jadi habis juga. Tapi sebagai manusia yang masih punya iman maka mereka harus terus berusaha.
__ADS_1
Membayangkan neraka Aini sudah bergidik ngeri. “Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita,” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Semoga Allah menjadikan kita sebagai istri yang shalihah yang selalu mensyukuri kebaikan-kebaikan suami serta menjadi pendorong bagi suami untuk berbuat kebaikan.
"Mas Al, 3 bulan lagi InsyaAllah sudah menjelang akhir tahun pelajaran. Jadi kita mau merantau," "Hayuk, jadi jadi,"
"Kalau begitu biar Ai mencari lowongan guru di Mbah google dulu," Al mengangguk
"Ai setelah solat Asar kita kerumah Emak yuk," Al memanggil orang tuanya dengan sebutan emak, bapak. Sedangkan Ai biasa memanggil orang tuanya sendiri mama, bapak.
"Siap Mas Al. Kaya rumah emak jauh banget pakai ada rencana segala, orang hanya berapa Langkat dari rumah kita," sambil ketawa cekikikan
Rumah emaknya memang tidak jauh hanya dibatasi pekarangan kosong saja.
"Ya kan mas tau, kamu capek. Jadi nggak bisa sekarang, nanti pas bada asar," Al menjelaskan
"Mas Al, Ai sudah dapat lowongan diluar pulau tapi,"
"Mas, aku lamar keduanya ya. Yang di pulau K sekolah yang dikelola PT sawit mas. Yang di pulau S sebuah yayasan mandiri, bukan PT,"
"Bismillah Ai, semoga Allah selalu menuntun kita menjadi lebih baik di manapun kita nantinya,"
"Aamiin. Mas, masih ada waktu beberapa menit menjelang sholat asar. Rebahan dulu yuk," Al mengangguk. Aini bangkit dari duduknya menuju kamar disusul Al dibelakangnya.
"Nanti mas akan ceritakan sekalian sama Emak mengenai niat kita Ai. Sebenarnya mas kurang yakin apakah emak akan mengijinkan atau tidak, sejak kecil mas nggak pernah jauh dengan orang tua,"
"Mudah-mudahan emak sama bapak ngerti maksud dan tujuan kita, Mas," Aini menenangkan
Sebenarnya wajar jika orang tua Al keberatan. Al hanya memiliki 1 saudara yaitu adik. Jarak umur Al dengan adiknya hanya terpaut 2 tahun. Adiknya sudah merantau sebelum menikah sampai sekarang sudah memiliki anak. Adiknya menikah 1 tahun lebih dulu dari Al. Adik Al menjadi penjual keliling di Ibukota J. Al pikirannya menerawang.
"Mas, aku masih penasaran sama pernyataan mas tadi. Yang tidak bisa melakukan sendiri. Sementara yang Ai tau, mas orang yang serba bisa. Apalagi membuat Ai jatuh cinta, mas paling bisa kan?." Sambil cengengesan
__ADS_1
"Haha ... ternyata kamu masih mikirin itu, Ai," yang tadinya rebahan terlentang mengubah posisi menghadap istrinya.
"Yakin Ai, kamu mau tau banget?"
"Iya lah, Mas. Tapi tunggu, nampak mencurigakan?"
"Ya udah, kita praktek langsung aja yuk. Mumpung Alia masih belum bangun," tersenyum licik.
"Kok praktek si mas, emak nggak bisa diomongin saja?" Ai makin bingung
"Masalahnya gini Ai, kalau hanya diomongin biasanya kamu kurang paham. Dengan praktek kamu pastinya lebih paham," tangan Al mulai jail meraba-raba bukan yang seharusnya.
"Mas, awas jangan mesyum. Aku mau rebahan saja juga. Bentar lagi Alia juga bakalan bangun,"
"Haha ... kamu lucu banget si Ai. Yakin nggak jadi pengin tau," ucap Al modus.
"Nggak!" jawab Aini ketus
"Haha ... ada yang marah rupanya."
"Mas, nggak lucu," ucap Ai lagi
Awal mengenal Al, Aini tidak menyangka kalau suaminya mesyum akut. Yang didengar dari Sintia kalau Al itu tipe cowo yang serius, bicara seperlunya bahkan Sintia jarang sekali melihat Al tersenyum. Meskipun begitu Al termasuk pemuda yang aktif dalam organisasi kepemudaan.
"Dilanjut nanti malam ya Ai,"
"Siapa juga yang mau," masih mode cemberut
"Haha ... yang tadi Ai, praktek hal yang nggak bisa kulakukan sendirinya. Harus ada partner kerja, kalau mas partnernya adalah kamu," tertawa puas sambil menuju kamar anaknya yang terbangun sudah memanggil Ayah-ayah.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1
Terimakasih banyak kakak-kakak pembaca. Semoga sehat selalu❤️