
***
Belum hilang keterkejutan mereka dari arah bersamaan terdengar suara anak kecil berbicara.
"Bunda, tuh, lihat! Di sana ada Ayah, kita duduk di sana juga, yuk, bareng sama Ayah. Aku kangen sekali sama Ayah." Suaranya yang nyaring hampir bisa didengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan tanpa dinding itu.
Dari jarak beberapa meter itu kedua pandangan Hariz dan Nelly bertemu. Saling menatap dari kejauhan dengan kecamuk hati masing-masing. Hariz tak menyangka jika akan bertemu dengan Nelly dan Vito di saat dirinya sedang bersama keluarga kecilnya.
Sedangkan Nelly tak mampu menutupi perasaan hatinya yang teriris ketika harus menyaksikan langsung kebersamaan Hariz dengan Dhena dan buah hati mereka yang begitu tampak harmonis dan penuh kebahagiaan.
Ada rasa panas sekaligus pilu berbaur menjadi satu dalam hati Nelly ketika di depan mata disuguhkan dengan pemandangan yang tak bisa dipungkiri telah mampu menorehkan luka di dada wanita beranak satu itu.
"Ayo, cepat Bunda, kita ke sana samperin Ayah!" ajak Vito. Tangan mungilnya menarik paksa pergelangan tangan sang bunda.
"Nak, kita cari tempat lain saja, ya, Sayang." Nelly berusaha membujuk Vito.
"Tapi, di sini ada Ayah, Bun, aku mau sama Ayah." Vito terus berusaha meronta menepiskan jemari bundanya yang mencengkram kuat tangan anaknya agar tidak sampai menghambur ke arah pria yang kini sedang bersama istri dan anaknya.
"Vito, Bunda minta kali ini kamu manut sama Bunda, ya? Nanti kita bisa cari tempat lain yang lebih lengkap makanannya." Nelly masih terus mencoba merayu sang anak dengan suara tersengal mencoba menguasai keadaan hatinya yang terus bergemuruh. Berharap Vito bisa segera diajak keluar dengan cepat dari sana. Kebetulan di kedai itu hanya ada beberapa jenis makanan seperti mie ayam, bakso, dan mie tiau, serta makanan pelengkap dan jenis minuman segar lainnya.
__ADS_1
Tangan Vito melemah berusaha menuruti ajakan sang bunda. Sorot mata yang tadi terlihat berbinar kini berubah menjadi suram menyiratkan kekecewaan yang tercetak dalam raut muka bocah berumur enam tahun itu. Kemudian berjalan tergesa menuju pintu keluar dengan posisi tangannya dituntun oleh Nelly.
"Bunda, jahat. Gak bolehin aku bertemu sama Ayah, padahal aku kangen banget sama Ayah," ucap Vito yang memang sudah akrab dan merasa dekat dengan Hariz yang sudah seperti ayah kandungnya sendiri dari sebelum Hariz mengucap ijab kobul dengan bundanya.
Kini anak dan ibu itu sudah berada di dalam kendaraan roda empatnya. Vito duduk di sebelah Nelly dengan wajah sedih.
Nelly melirik sekilas ke arah buah hatinya. Ada gelenyar nyeri menyusup ulu hatinya ketika tak sengaja ia harus mengukir kecewa di wajah putra semata wayangnya.
Telapak tangan Nelly mengusap pucuk kepala sang anak penuh kasih. Seakan ingin mengalirkan energi ketenangan kepada buah hatinya.
"Sayang, Bunda minta ma'af banget, ya, sama kamu. Tapi Vito harus tahu, tadi itu Bunda sama sekali tidak bermaksud untuk membuat kamu bersedih seperti ini," ungkap Nelly berusaha memberikan pengertian. Berharap kekecewaan yang masih nampak di wajah buah hatinya cepat memudar dan kembali berganti dengan keceriaan dan senyum bahagia yang mampu membuat hatinya merasa ikut senang dan tenang.
Walaupun ada rasa bersalah yang hinggap di dalam hati Nelly karena ia merasa gagal dan tak mampu menyuguhkan kebahagiaan yang utuh untuk putra kecilnya.
***
Dua orang pria muda menghampiri meja Hariz sembari di kedua belah tangan masing-masing membawa nampan berisi tiga mangkok makanan yang tadi sudah dipesan sebelumnya oleh Hariz.
"Minumannya apa, Mas, Mbak?" tanya pelayan itu setelah usai meletakkan ketiga mangkok tadi di meja yang berdiameter memanjang itu.
__ADS_1
"Teh manis hangat saja, Mas," jawab Dhena kemudian. Karena yang ia tahu jika setelah memakan makanan yang mengandung lemak tinggi lalu meminum minuman yang dingin maka dampaknya kurang bagus dan tidak dianjurkan untuk kesehatan. Karena bisa menyumbat peredaran darah dengan lemak yang menggumpal karena tidak bisa diurai. Sedangkan jika yang diminum air hangat bisa mengurangi resiko punyambatan pembuluh darah, karena air hangat mampu menghadirkan lemak dan bisa membantu peredaran darah menjadi lancar tanpa sumbatan dari lemak yang menggumpal.
Minum dengan air dingin atau air es setelah mengkonsumsi makanan berlemak dan memiliki kandungan minyak yang tinggi hanya akan mendapatkan enak dan nikmatnya saja, akan tetapi tidak mendapatkan efek sehat dari makan tadi, tapi justru hanya memicu penyakit berat yang bisa datang ke tubuh kita. Begitulah yang Dhena tahu ketika ia dulu sempat mengikuti seminar tentang kesehatan dari dinas kesehatan setempat di sebuah organisasi yang ia ikuti dengan temsn-teman waktu kuliahnya dulu.
"Ayah kenapa Tante tadi langsung pergi lagi setelah melihat kita, Yah?" Pertanyaan polos Fathan membuat Hariz dan Dhena saling bersitatap lama.
"Mungkin Tante tadi ada yang ketinggalan, jadi harus buru-buru balik lagi." Kini Dhena menjawab pertanyaan Fathan. Tangannya mulai terampil menyuapi sang buah hati dengan mie tiau yang sudah disuguhkan di meja tempat mereka duduk melingkar.
"Gimana, enak gak mienya?" tanya Dhena kepada putranya berusaha mengalihkan pertanyaan Fathan atas kejadian barusan.
Mie dengan bentuk pipih dan tekstur yang sedikit agak kenyal itu memang sudah menjadi makanan favorit buah hatinya sejak beberapa tahun ke belakang.
Sedangkan Hariz bisa bernapas lega karena tadi sang istri sudah berusaha mencari jawaban yang tepat untuk Fathan agar bisa menutupi rasa penasaran anaknya.
Hariz mulai menyantap makanan yang berada di hadapan mejanya dengan lahap. Tak sampai sepuluh menit kini isi mangkoknya sudah kosong tak tersisa lalu ia meminum teh hangat digelasnya hingga menyisakan separuh dari isi sebelumnya.
"Sini, gantian sekarang Ayah yang nyuapin Fathan, biar Mamanya bisa cepat makan juga," ujar Hariz sembari tangan kekarnya mengambil alih mangkok yang masih berada di tangan sang istri.
Dhena menyerahkan mangkok ke arah Hariz yang masih berisi setengah lalu ia mulai menikmati makanan yang terbuat dari daging sapi dengan bentuk bulat memenuhi isi mangkoknya dengan kuah memerah menguarkan aroma segar dan menggugah selera lidahnya yang memang pecinta bakso.
__ADS_1
Kejadian tadi sama sekali tidak mengurangi selera makan Dhena untuk terus melahap hingga suapan terakhir jika wanita itu sudah dihadapkan dengan makanan favoritnya itu.
Jarum jam di pergelangan tangan Hariz menunjukkan pukul 20:15 menit. Pria itu pun mengajak Fathan dan Dhena untuk segera kembali ke rumah mereka. Setelah membayar semuanya Hariz mulai melajukan kendaraan roda duanya melewati jalan yang terlihat masih ramai oleh lalu lalang orang dan kendaraan yang hilir mudik.