
***
Bu Aida yang merasa tidak cocok dengan orang pintar yang kemarin ia temui bersama Bu Sinta masih terus berusaha mencari cara agar ia bisa dipertemukan dengan orang pintar yang sesuai dengan keinginannya. Sebuah botol berisi air dan sebungkus serbuk yang diterimanya dari dukun kemarin ia buang begitu saja di tempat sampah karena ia sendiri merasa jijik ketika memegangnya.
"Mau nyari orang pintar yang seperti apa lagi, sih, Bu Aida?" tanya Bu Sinta ketika ibunya Hariz itu masih minta dicarikan kembali orang yang menurutnya cocok dengan hatinya.
Kini mereka berdua sedang duduk berbincang di teras depan rumah Bu Aida dengan ditemani dua gelas teh manis hsngat serta satu piring mendoan tempe dengan sambal kecap yang tadi sempat disuguhkan oleh Surti.
"Kalau bisa jangan seperti dukun yang seperti kemarin lagi, lah. Saya inginnya yang seperti ustaz atau kiai, tapi yang bisa memberikan bantuan yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan saat ini," ungkap Bu Aida kepada teman sejawatnya itu.
"Owh, bilang, dong, dari kemarin. Ada tuh, masih kerabat saya yang memang sudah sering menolong dan membantu orang yang sedang bermasalah dalam kehidupan keluarganya. Seperti minta syariat untuk bisa kembali rujuk dengan pasangan yang sudah lama bercerai, atau sebaliknya. Atau minta kesembuhan jika ada salah satu keluarganya yang sedang sakit dan tak kunjung sembuh hingga bertahun-tahun," tutur Bu Sinta menjelaskan dengan antusias.
"Nah, yang seperti itu yang selama ini saya cari-cari," jawab Bu Aida bersemangat.
Bi Surti yang sedang melintas dan tak sengaja mendengar obrolan sang majikan dengan temannya itu seketika menghampiri dan ikut mengomentari pembicaraan kedua wanita setengah baya tadi.
__ADS_1
"Ma'af, ya, buibu sebelumnya, bukannya saya sok tahu dan sok pintar. Tapi, kedua orang pintar yang buibu barusan bahas tadi, itu, tuh sebenarnya sama-sama dukun. Yang tidak boleh didatangi dan dipercaya setiap omongannya. Karena dosa besar itu. Baik kepada dukun yang mintanya pakai acara bakar menyan dan merafalkan mantra ataupun kepada dukun yang memakai do'a-do'a sekalipun, memberikan rajah berupa tulisan arab dan sejenisnya. Intinya itu dua-duanya sama-sama dukun." Panjang lebar bi Surti memaparkan yang disambut dengan mulut ternganga oleh Bu Sinta yang tak menyangka jika asisten rumah tangga sahabatnya itu bisa sebegitu beraninya menceramahi mereka berdua secara langsung tanpa tedeng aling-aling.
"Mulai, Mulai ... Benar-benar gak sopan, ya, kamu ini, Surti. Berani menyela dan ikut nimbrung obrolan orang tua tanpa permisi," ujar Bu Aida seraya mendelikan kedua bola matanya ke arah Surti.
"Habisnya, kuping dan mulut saya ini rasanya garetek(gatel) kalau harus mendengar kekeliruan dan kesalahan yang nyata dan tampak jelas di depan mata kepala, hidung dan bibir saya," jawab Surti tanpa rasa segan.
"Begini, nih, resikonya kalau memelihara babu gak ada akhlak kek si Surti, ini. Bukannya minta ma'af malah seenak jidatnya sendiri nyeramahin majikan sendiri." Bu Aida menggerutu melirik sinis ke arah Surti.
Sedangkan Bu Sinta hanya tersenyum geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat sikap dan ucapan Surti yang menurutnya lucu dan bisa menjadi hiburan tersendiri untuknya.
***
Dhena kemudian mengurungkan niatnya. Ia kembali duduk di tempat semula. Dhena memaklumi sikap Nelly yang seperti itu karena mungkin terbawa emosi dan lepas kontrol akibat perasaannya yang belum stabil.
Nelly bangkit dari duduknya dan berdiri dengan kasar. Tanpa basa-basi wanita itu berjalan ke arah pintu depan lalu membuka dan menutupnya kembali setengah dibanting menimbulkan suara berdebam yang cukup lumayan keras hingga mengejutkan orang-orang seisi rumah. Tapi, Nelly tak mempedulikannya. Ia terus berjalan denga. tergesa ke arah kendaraan roda empatnya yang terparkir di halaman rumah Hariz.
__ADS_1
Air mata Nelly tumpah ruah membanjiri kedua bagian pipi mulusnya, setelah kini ia duduk di belakang kemudi. Meluahkan semua rasa sesak yang kini mengimpit relung hati dan bagian rongga dadanya. Kini ia harus menelan kekecewaan dan rasa sakit untuk kedua kalinya ketika harus dicampakkan begitu saja oleh laki-laki yang selama ini selalu mengisi hari-harinya. Kedua kelopak mata Nelly terpejam. menikmati rasa yang berdesir perih di bagian ulu hatinya.
Itulah kehidupan, selalu ada plus minusnya. Nelly yang ditakdirkan menjadi wanita yang selalu serba berkecukupan dalam hal materi semenjak ia kecil hingga kini dewasa. Tapi, kisah cintanya selalu berakhir tragis dan membuatnya kecewa.
Hampir lima belas menit Nelly menangis di dalam mobil seorang diri. Hariz dan Dhena pun membiarkannya tanpa berniat menghampirinya lagi. Karena pasti akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Setelah puas dan merasa sedikit lega menumpahkan nestapa melalui air mata, Nelly kemudian mencoba mulai menyalakan mesin kendaraannya dan melajukannya dengan perasaan gamang dan tentu arah. Pandangan matanya kosong, menatap nyalang ke arah jalanan yang kadang terlihat buram karena air matanya masih terus mengembun memenuhi kedua kelopak matanya.
Nelly merasa dunia selalu tidak berpihak kepadanya. Setelah nasib mamanya yang kini masih mendekam di balik jeruji besi demi harus mempertanggungjawabkan semua yang sudah dilakukannya kepada keluarga Dhena. Kini Hariz, laki-laki satu-satunya yang ia harapkan pun dengan tega mencampakkannya dengan dalih agar selalu bisa menjaga perasaan sang istri pertama.
Benar-benar sebuah perpaduan nestapa yang mampu menciptakan luka yang begitu mendalam dalam kehidupan wanita beranak satu itu hingga kini ia merasa seperti sedang terjatuh ke dalam jurang kepedihan yang membuatnya semakin terpuruk. Tanpa ada satu orang pun yang rela mengulurkan tangan menolongnya untuk kembali bangkit.
Mengendarai mobil dengan keadaan hati yang carut marut membuat konsentrasinya setengah sadar jika nyawanya kini sedang dipertaruhkan karena posisinya yang sedang di jalan raya dengan keramaian yang maksimal dengan lalu lalang berbagai macam jenis kendaraan yang seakan-akan merajai jalanan.
Nelly tidak menyadari jika dari arah belakang mobilnya sedang melaju kencang sebuah truk kontainer yang bermuatan barang yang dibungkus terpal mengarah lurus kepada kendaraan yang sedang dibawanya. Sehingga kecelakaan lalu lintas itu pun tak dapat dielakkan lagi. Mobilnya terdorong bagian depan truk kontainer itu hingga menabrak pohon beringin besar yang berdiri kokoh persis di tepi jalan. Nelly yang belum bisa mencerna dengan apa yang sedang terjadi dengan dirinya hanya mampu menjerit histeris memilukan hati sebelum pandangannya mengabur. Kemudian perlahan menjadi gelap.
__ADS_1